Hai. Sudah setahun tak menulis. Dalam setahun ini
banyak yg terjadi. Ada suka, ada duka. Tapi saya cuma mau berbagi sukanya saja
ya. Dimulai dari postingan ini, saya mau cerita kemarin tanggal 20 Maret saya
ke Pandeglang, naik gunung Pulosari. Gak terkenal ya? Iya, memang gunung ini
kurang populer di kalangan pendaki luar Jabodetabek. Letaknya di Banten, di Kabupaten
Pandeglang tepatnya. Dari jakarta kira-kira 4 sampai 5 jam-an lah naik
kendaraan. Saya pergi bareng teman-teman AVTECH. Yang menyenangkan adalah kami
ke sana pakai motor. Touring gitu
ceritanya. Pegal sih, tapi sumpah ini seru banget.
Berangkat dari kantor AVTECH di Cipayung, Jakarta
Timur jam 11 malam. Terlalu malam memang, karena kami menunggu hujan reda dulu.
Dari habis maghrib hujan deras plus angin kencang dan petirnya luar biasa. Kami
ber-enam, ada saya, Uli, suaminya Uli Bang Jejen, Iki, Deni, dan Kang Kur.
Diawali dengan doa kami pun berangkat. Saya dibonceng Deni. Saya nggak pernah
naik motor malam-malam lewat jalanan ibukota. Ini menyenangkan. Jakarta malam
itu macet. Kepikiran juga mau pada kemana sih ini orang-orang? Dan baru ngeh
rupanya Sabtu itu tanggal merah, Nyepi. Nasib nggak punya kalender ya gini. Nggak
tau ada tanggal merah :D
2 jam kemudian tiba di Cengkareng. Di sana sudah
menunggu teman-temannya Bang Jejen. Rame banget, ada sekitar 10 motor. Wuihh..
ini beneran touring rame-rame. Kami lanjut
ke Pandeglang. Lewat Tangerang, lewat Lebak, lewat Rangkas Bitung, dan akhirnya
Pandeglang. Yeay. Kami tiba di Pandeglang sudah pukul 5 subuh, istirahat
sebentar di rumah neneknya Ari untuk menitipkan motor. Baik banget keluarganya
Ari. Kami dipersilakan istirahat, dimasakin pula.
Pukul 9 kami nyater
2 angkot dari rumah neneknya Ari menuju starting point pendakian Gunung Pulosari. Patungan, satu orang
bayar Rp. 7500. Sekitar sejam di jalan. Sepanjang jalan itu kerjanya ketawa
terus. Pada lucu-lucuan. Pipi saya sampai keram, perut pun sakit karena
kebanyakan ketawa. Pukul 10 tibalah kami di gerbang selamat datang.
Rute pendakian Gunung Pulosari: Gerbang selamat
datang – Curug Putri – Kawah – Puncak. Masing-masing perjalanan memakan waktu 1
sampai 1,5 jam, jadi kalau diakumulasikan dari gerbang ke puncak kira-kira 3 sampai 5 jam
gitu. Sebentar? Iya, ketinggian Gunung Pulosari 1346 mdpl. Rendah. Tapi
jalurnya lumayan berat. Tanjakannya terjal, dengkul ketemu kepala.
Dari gerbang selamat datang ke Curug Putri jalurnya
masih landai berbatu. Masih enak. Kiri kanan kebun kopi warga. Tiba di
Curug Putri kita mesti registrasi di pos dan beli karcis masuk Rp. 5000. Jangan
kaget kalau kalian cuma dapat selembar karcis untuk bersama. Kata Bapak-Bapak
yang jaga pos sih perwakilan saja, tapi itukan.. ah sudahlah. Mungkin penghidupannya
cuma dari situ.
Di curug (air terjun) rame banget orang-orang yang mandi dan
foto-foto. Kami cuma foto-foto saja dan setelah itu lanjut jalan
menuju pos Kawah. Nah, dari sini jalurnya sudah mulai terjal dan licin. Harus ekstra
hati-hati dan perhatikan langkah supaya nggak tersandung dan terpeleset. Pukul
1 siang tiba di pos Kawah.
Biasanya para pendaki akan mendirikan tenda di pos Kawah.
Kami juga begitu. Saya kaget sekali saat tiba di pos Kawah. Di sana ada
pondok-pondok yang jual makanan dan minuman, juga ada toilet umum. Baru kali
ini lah pokoknya saya mengunjungi gunung dengan fasilitas seperti itu. Baru
tiba saja kami sudah jajan es kantong, 3 lima ribu, yang jual adik-adik yang nenteng
termos es. Ramainya jangan ditanya. Sudah pada dirikan tenda masing-masing di
tempat strategis. Syukurnya kami juga dapat tempat nge-camp yang nyaman.
Dirikan tenda, masak-masak, makan, lalu kami tidur siang. Haha. Kenapa tidur
siang? Karena sudah capek dan supaya besok pagi-pagi sekali bisa bangun, muncak
dan lihat sunrise. Oh iya menu kami siang itu enak. Sup baso campur sawi ala
Uli.
Pukul 5, bangun dari tidur siang yang lelap di
tenda, saya ke toilet umum. Ngantri guys, lama. Toiletnya ada 2 yang
gandengan, dan satu lagi terpisah sendiri. Ada penjaganya dan bayar Rp.3000
setiap pemakaian. Ada deh setengah jam saya ngantri. Sore itu saya berkeliling
sebentar di area camping ground. Ramai.
Balik ke tenda, Bang Jejen lagi masak baso dan
otak-otak goreng. Menu di gunung enak-enak. Saya di kosan malah nggak pernah
masak baso goreng. Haha. Kata Bang Jejen di trip selanjutnya bawa cooler box, diisi sama ikan atau ayam,
jadi bisa bakar-bakaran di atas. Niat banget nggak sih.
Malamnya kami jalan-jalan dong, mutar-mutar di
sekitar pos Kawah. Bau belerang menyengat, mesti pakai masker ya guys kalau
nggak tahan dengan baunya.
Kami nggak bergadang, kan mau bangun pagi. Tidur malamnya
enak. Udara di Pulosari nggak terlalu dingin. Pagi Minggunya cuaca berkabut. Oh no! Nggak bisa muncak pagi-pagi dan lihat sunrise. Jadi kami putuskan untuk menunggu cuaca cerah.
Sekitar pukul 8 cuaca
kembali cerah. Kami muncak dengan riang gembira. Perjalanan dari pos kawah ke
Puncak terjal banget dan berlumpur sehabis hujan tadi malam. Pukul 9.30 kami
tiba di puncak Gunung Pulosari. Cerahhhh.. Foto-foto.
Setelah puas berfoto ria kami turun kembali ke pos
Kawah, packing tenda dan barang-barang lain. Tak lupa memungut sampah. Pukul 11
kami turun. Hujan menemani kami sepanjang jalan turun. Saya bahagia banget pas
hujan ini. Bisa mandi hujan. Udaranya segar.
Perjalanan turun rasanya cepat sekali. Pukul 1.30
kami sudah tiba di gerbang selamat datang. Lalu kembali ke rumah neneknya Ari,
bersih-bersih, dan sehabis maghrib kami kembali ke Jakarta. Ini salah satu perjalanan
naik gunung yang sangat menyenangkan bagi saya. Semoga bisa kembali jalan-jalan
lagi bersama teman-teman sependakian kemarin. Mereka lucu-lucu dan baik hati.
Salam.