Novel
setebal 544 halaman ini habis saya baca dalam 10 hari. Di sela-sela waktu
liburan semester yang panjang dan santai, membaca novel ini membuat saya
mengetahui tentang adat istiadat Minangkabau dalam hal perjodohan dan
pernikahan khususnya bagi kaum bangsawan. Kompleks dan rumit. Saya setuju benar
dengan Marah Rusli yang pada masa itu, sekitar tahun 1920-an telah berfikir
secara moderat, menentang kaumnya karena adat yang dirasa tidak cocok lagi
seiring perkembangan zaman.
Saya
pernah membaca sebelumnya cuplikan novel Siti Nurbaya, karya Marah Rusli yang
tersohor itu. Karena Siti Nurbaya, Marah Rusli dijuluki Bapak Roman Modern
Indonesia oleh HB.Jassin. Awalnya kisah Siti Nurbaya ini saya sebut sebagai kisah
tentang cinta yang tak sampai, akibat perjodohan Minangkabau. Tetapi setelah
dibahas lebih lanjut, lebih dari itu ternyata Siti Nurbaya merupakan jalan
Marah Rusli-pengarangnya untuk mengkritik adat kaumnya sendiri-Minangkabau.
Bagaimana perjodohan Siti Nurbaya dan Datuk Meringgih dilakukan padahal tak ada
rasa suka di salah satu pihak. Perjodohan dilakukan semata-mata untuk menjaga
martabat keluarga besar.
Begitu
juga dengan novel Memang Jodoh yang di dalam pengantarnya disebutkan bahwa ini adalah autobiografi dari Marah Rusli sendiri. Bagaimana Marah Hamli si tokoh
utama memegang prinsip hidupnya untuk tidak beristri banyak, ia menentang adat
Minangkabau sehingga dibuang dari kaumnya, serta bagaimana ia menjaga keutuhan
keluarganya dan kerja kerasnya diceritakan di dalam novel ini. Nama-nama tokoh
memang ditulis berbeda namun keberadaan tokoh tersebut nyata adanya. Memakai
bahasa Melayu tinggi, Memang Jodoh ini menjadi pilihan bacaan tersendiri di
masa kini, di tengah-tengah maraknya bacaan yang memakai bahasa gaul, slang,
dan tidak baku. Menarik karena bahasa Melayu tinggi ini punya makna yang sulit
ditangkap untuk pembaca masa kini, namun keindahannya bisa menambah rasa senang
dalam membaca.
