Minggu, 09 Februari 2014

Marah Rusli - Memang Jodoh

Novel setebal 544 halaman ini habis saya baca dalam 10 hari. Di sela-sela waktu liburan semester yang panjang dan santai, membaca novel ini membuat saya mengetahui tentang adat istiadat Minangkabau dalam hal perjodohan dan pernikahan khususnya bagi kaum bangsawan. Kompleks dan rumit. Saya setuju benar dengan Marah Rusli yang pada masa itu, sekitar tahun 1920-an telah berfikir secara moderat, menentang kaumnya karena adat yang dirasa tidak cocok lagi seiring perkembangan zaman.

Saya pernah membaca sebelumnya cuplikan novel Siti Nurbaya, karya Marah Rusli yang tersohor itu. Karena Siti Nurbaya, Marah Rusli dijuluki Bapak Roman Modern Indonesia oleh HB.Jassin. Awalnya kisah Siti Nurbaya ini saya sebut sebagai kisah tentang cinta yang tak sampai, akibat perjodohan Minangkabau. Tetapi setelah dibahas lebih lanjut, lebih dari itu ternyata Siti Nurbaya merupakan jalan Marah Rusli-pengarangnya untuk mengkritik adat kaumnya sendiri-Minangkabau. Bagaimana perjodohan Siti Nurbaya dan Datuk Meringgih dilakukan padahal tak ada rasa suka di salah satu pihak. Perjodohan dilakukan semata-mata untuk menjaga martabat keluarga besar.

Begitu juga dengan novel Memang Jodoh yang di dalam pengantarnya disebutkan bahwa ini adalah autobiografi dari Marah Rusli sendiri. Bagaimana Marah Hamli si tokoh utama memegang prinsip hidupnya untuk tidak beristri banyak, ia menentang adat Minangkabau sehingga dibuang dari kaumnya, serta bagaimana ia menjaga keutuhan keluarganya dan kerja kerasnya diceritakan di dalam novel ini. Nama-nama tokoh memang ditulis berbeda namun keberadaan tokoh tersebut nyata adanya. Memakai bahasa Melayu tinggi, Memang Jodoh ini menjadi pilihan bacaan tersendiri di masa kini, di tengah-tengah maraknya bacaan yang memakai bahasa gaul, slang, dan tidak baku. Menarik karena bahasa Melayu tinggi ini punya makna yang sulit ditangkap untuk pembaca masa kini, namun keindahannya bisa menambah rasa senang dalam membaca. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar