Kembali menulis
agar tak lupa. Juga agar cerita tak tinggal cerita. Bisa diulang-ulang baca,
ditertawakan. Itulah indahnya mengenang.
Ini tentang perjalanan perdana saya ke gunung Marapi di Sumatera Barat, tepatnya di Padang Panjang. Sebagai mahasiswa
Riau yang kala itu tinggal dan kuliah di Pekanbaru, gunung terdekat adalah
Marapi. Di Riau tak ada gunung, namun belakangan ada satu ekspedisi yang
dilakukan teman-teman penggiat alam Riau menemukan satu gunung purba di Riau. Tepatnya
di perbatasan Riau-Sumbar. Namanya Gunung Jadi. Penemuan baru. Saya belum pernah
ke sana. Tidak terlalu ingin karena dengar-dengar medannya berat. Akses ke sana
sulit. Biarlah. Bagus begitu, biar terjaga ekosistem di sana.
Semester 2 menjadi
mahasiswa saya diajak naik gunung. Perdana. Saya tidak pernah naik gunung kecuali Gunung Bintan di Pulau Bintan saat SMA. Namanya saja yang Gunung Bintan,
sebenarnya ia bukit, tingginya 300-an mdpl. Menjulang tinggi dan berada di
Bintan sehingga dinamai Gunung Bintan.
Saya bayang- bayangkan
bagaimana bentuknya gunung Marapi itu. Saya lihat-lihat dokumentasi orang-orang
yang sudah pernah pergi ke sana. Kesan saya Gunung Marapi indah sekali. Maka bersemangatlah saya mengiyakan ajakan salah seorang seniorku di kampus saat itu. Kami pergi
berempat. Saya, Nori (sama-sama perdana), bang Geboy (juga perdana), dan bang
Joe (sudah berpengalaman_seniorku).
Agustus 2008. Pas perayaan
kemerdekaan RI. Tapi kami tak sempat bersama-sama rekan pendaki lain untuk
upacara pengibaran bendera di puncak. Kami terlambat tiba di Koto Baru (Kaki
Gunung Marapi). Tanggal 18 pagi kami baru tiba. Pagi-pagi sekali kami mulai
mendaki. Karena perdana saya kesulitan selama mendaki. Kecapekan. Sebentar-sebentar
istirahat. Salah saya juga karena tak pakai pemanasan dulu. Sebaiknya untuk
persiapan naik gunung jogging lah sebulan sebelumnya. Kami tak bawa tenda! Karena
rencananya tidak akan nge-camp. Sampai puncak lalu turun, itu rencananya.
Rencana untuk tidak
nge-camp tetap jalan, namun rencana untuk sampai puncak Merpati (puncak tertinggi Gunung Marapi) tinggallah
rencana karena sudah jam 5 sore tapi kami masih di Cadas. Tidak mungkin
melanjutkan perjalanan ke puncak di malam hari kan. Setelah menunggu sunset dan
foto-foto kami pun turun. Di perjalanan turun berjumpa teman-teman dari Riau. Mereka
menawarkan untuk bermalam saja. Kalau tidak bawa tenda boleh numpang dengan
mereka. Tapi karena di awal sudah sepakat untuk turun maka kami putuskan terus
jalan ke bawah. Bang joe itu tegas dan disiplin. Padahal saya sudah
merengek-rengek minta supaya kita nge-camp saja karena kaki ini rasanya tak
kuat lagi bejalan. Tapi gagal.
Sampai di pasanggrahan saya tak kuat lagi. Saya berbaring saja di tengah jalan. Bang Joe bilang “mau tidur
di sini apa di rumah sodaranya bang Geboy?”. Setelah turun rencananya memang mau
beristirahat di rumah saudara bang Geboy, di Padang Panjang. Saya kumpulkan
sisa-sisa tenaga, dibantu bang Joe yang menuntun hingga sampai di pos
pendakian. Pukul 10 malam akhirnyaa. Di pos pendakian kami dijemput oleh
saudara bang Geboy. Selanjutnya beristirahat di rumah saudaranya itu.
Esoknya
Pagi di padang panjang.
Mandi di pancuran yang airnya sedingin es. Pemandangan padi yang masih hijau dikelilingi bukit-bukit yang indah. Pagi
itu indah sekali. Burung-burung berkicau, sahut-menyahut. Ibu-ibu pergi ke
pancuran untuk mandi dan mencuci. Saya dan Nori bergabung bersama mereka. Kami mandi
pakai kain basahan. Pengalaman pertama. Agak kaku karena tempat mandi umum
ini tidak beratap, tidak ada yang mengintipkah?
Pulang selalu menjadi
bagian paling menyenangkan dalam setiap perjalanan. Kami pulang ke Pekanbaru
pagi itu, naik bus ekonomi. Di sepanjang jalan kami semua tidur, kelelahan. Lain
kali mau naik gunung lagi, begitu pikir saya. Naik gunung seperti candu.
| di cadas menunggu matahari terbenam |

