Minggu, 01 Desember 2013

Menetapkan Identitas Diri

Pertanyaan yang sulit saya jawab dan mesti dijawab agak panjang untuk menjelaskannya adalah “Rein, kamu orang asli mana?”. Biasanya saya akan tertawa sebentar, atau paling tidak tesenyum, seolah menertawakan diri saya yang harus kesusahan menjawab pertanyaan seperti ini, kemudian baru menjawab. Kata-kata pertama yang paling sering saya pakai untuk menjawab biasanya “hmm gimana ya, susah dijelaskan nih, jadi gini...” panjang lebar jawaban saya untuk pertanyaan tersebut. Kemudian di akhir penjelasan biasanya saya akan balik bertanya “jadi sebenarnya saya orang mana ya? bingung”, lalu tertawa.  Lawan bicara saya biasanya bergumam “ribet juga ya” atau “gak jelas nih orang mana” atau tertawa. 

Menertawakan identitas diri pada awalnya hal yang biasa-biasa saja bagi saya. Tapi lama kelamaan jadi bahan pikiran saya tiap kali menyaksikan pertunjukan budaya. Saya suka menonton pertunjukan seni dan budaya yang beragam. Sehabis pertunjukan biasanya saya akan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “saya ini bagaimana? Apa budaya daerah yang saya kuasai?” jawabannya sering kali “tidak ada apa pun”. Hal ini terus mengusik saya.

Ketika KTP saya bertuliskan kota Tanjungpinang, maka apakah saya orang Tanjungpinang? Memang benar saya lahir dan besar di kota Tanjungpinang. Sejak tahun 1988 orang tua saya harus menetap di Tanjungpinang karena tuntutan pekerjaan. Setiap hari minum air tanahnya dan menghirup udaranya. Tanjungpinang lekat dengan budaya Melayu. Saya bisa berbahasa Melayu karena bagi saya itu bahasa yang mudah untuk ditirukan. Tapi kemelayuan saya tidak ada, nol. Tidak tahu menahu tentang kebudayaan Melayu kecuali tentang tulisan Arab Melayu dan pantun yang pernah dipelajari semasa SD-SMA dulu. Hanya menjadi penikmat saja saat ada pertunjukan tari Melayu dan berbalas pantun. Ketika ditanyakan tentang pertunjukan Mak Yong? Saya tak tahu.

Kedua orang tua saya berasal dari Kerinci, Jambi. Nenek moyang dan keluarga besar saya semuanya asli Kerinci. Sebenarnya ada sedikit darah minang, karena kakek dari pihak Ayah saya adalah orang Pariaman. Ia menikah dengan nenek saya yang orang Kerinci dan akhirnya menetap di Kerinci, keminangannya sudah tak nampak. Selain dari itu semua keluarga dari pihak Ayah dan Ibu merupakan orang Kerinci Asli. Lantas ada yang pernah bilang “kamu orang Melayu Rein, bukankah Kerinci itu di Jambi? Dan Jambi juga Melayu?”. Kutegaskan bahwa orang-orang Kerinci tak ingin disebut orang Melayu, mereka orang Kerinci, suku Kerinci. Begitupun ketika ada yang bilang bahwa orang Kerinci adalah orang Minang, mereka menolaknya.

Kalau sudah dijabarkan begini, maka kesimpulannya saya orang Kerinci. Walau hanya menginjakkan kaki di sana setahun sekali dikala Lebaran, walau tidak pernah bisa berbahasa Kerinci dengan baik dan benar, bahkan saya harus banyak menyebut “apa?” “ulang sekali lagi ya” kepada lawan bicara yang berbahasa Kerinci terlalu cepat, walau saya tidak pernah hafal nama-nama desa dan tempat di Kerinci, dan walau sama sekali tidak mengenal kebudayaan serta adat istiadat tanah leluhur saya itu. Oh bahkan nama-nama anggota keluarga besar di Kerinci saya tak tahu.

Kini, saat saya sedang belajar teori kritis di kampus, semakin menjadi-jadi saya mengkritisi diri sendiri. Semakin menjadi-jadi juga kekhawatiran ini. Khawatir saya sedang kehilangan identitas diri dan tak bisa menemukannya. Saya ingin punya identitas yang kuat. Untuk itulah saya harus terus mempelajari budaya daerah sendiri, Kerinci dan Melayu. Harus dua-duanya, karena keduanya sangat berarti bagi saya.

#edisi curhat gak pakai galau, karena anak Ilmu Budaya anti galau!

Salam budaya..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar