Pertanyaan
yang sulit saya jawab dan mesti dijawab agak panjang untuk menjelaskannya
adalah “Rein, kamu orang asli mana?”. Biasanya saya akan tertawa sebentar, atau
paling tidak tesenyum, seolah menertawakan diri saya yang harus kesusahan menjawab
pertanyaan seperti ini, kemudian baru menjawab. Kata-kata pertama yang paling
sering saya pakai untuk menjawab biasanya “hmm gimana ya, susah dijelaskan nih,
jadi gini...” panjang lebar jawaban saya untuk pertanyaan tersebut. Kemudian di
akhir penjelasan biasanya saya akan balik bertanya “jadi sebenarnya saya orang
mana ya? bingung”, lalu tertawa. Lawan bicara
saya biasanya bergumam “ribet juga ya” atau “gak jelas nih orang mana” atau tertawa.
Menertawakan
identitas diri pada awalnya hal yang biasa-biasa saja bagi saya. Tapi lama
kelamaan jadi bahan pikiran saya tiap kali menyaksikan pertunjukan budaya. Saya
suka menonton pertunjukan seni dan budaya yang beragam. Sehabis pertunjukan
biasanya saya akan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “saya ini bagaimana? Apa
budaya daerah yang saya kuasai?” jawabannya sering kali “tidak ada apa pun”.
Hal ini terus mengusik saya.
Ketika
KTP saya bertuliskan kota Tanjungpinang, maka apakah saya orang Tanjungpinang? Memang
benar saya lahir dan besar di kota Tanjungpinang. Sejak tahun 1988 orang tua
saya harus menetap di Tanjungpinang karena tuntutan pekerjaan. Setiap hari
minum air tanahnya dan menghirup udaranya. Tanjungpinang lekat dengan budaya
Melayu. Saya bisa berbahasa Melayu karena bagi saya itu bahasa yang mudah untuk
ditirukan. Tapi kemelayuan saya tidak ada, nol. Tidak tahu menahu tentang
kebudayaan Melayu kecuali tentang tulisan Arab Melayu dan pantun yang pernah
dipelajari semasa SD-SMA dulu. Hanya menjadi penikmat saja saat ada pertunjukan
tari Melayu dan berbalas pantun. Ketika ditanyakan tentang pertunjukan Mak
Yong? Saya tak tahu.
Kedua
orang tua saya berasal dari Kerinci, Jambi. Nenek moyang dan keluarga besar
saya semuanya asli Kerinci. Sebenarnya ada sedikit darah minang, karena kakek
dari pihak Ayah saya adalah orang Pariaman. Ia menikah dengan nenek saya yang
orang Kerinci dan akhirnya menetap di Kerinci, keminangannya sudah tak nampak. Selain
dari itu semua keluarga dari pihak Ayah dan Ibu merupakan orang Kerinci Asli. Lantas
ada yang pernah bilang “kamu orang Melayu Rein, bukankah Kerinci itu di Jambi? Dan
Jambi juga Melayu?”. Kutegaskan bahwa orang-orang Kerinci tak ingin disebut
orang Melayu, mereka orang Kerinci, suku Kerinci. Begitupun ketika ada yang
bilang bahwa orang Kerinci adalah orang Minang, mereka menolaknya.
Kalau
sudah dijabarkan begini, maka kesimpulannya saya orang Kerinci. Walau hanya
menginjakkan kaki di sana setahun sekali dikala Lebaran, walau tidak pernah
bisa berbahasa Kerinci dengan baik dan benar, bahkan saya harus banyak menyebut
“apa?” “ulang sekali lagi ya” kepada lawan bicara yang berbahasa Kerinci
terlalu cepat, walau saya tidak pernah hafal nama-nama desa dan tempat di
Kerinci, dan walau sama sekali tidak mengenal kebudayaan serta adat istiadat
tanah leluhur saya itu. Oh bahkan nama-nama anggota keluarga besar di Kerinci
saya tak tahu.
Kini,
saat saya sedang belajar teori kritis di kampus, semakin menjadi-jadi saya
mengkritisi diri sendiri. Semakin menjadi-jadi juga kekhawatiran ini. Khawatir saya
sedang kehilangan identitas diri dan tak bisa menemukannya. Saya ingin punya
identitas yang kuat. Untuk itulah saya harus terus mempelajari budaya daerah
sendiri, Kerinci dan Melayu. Harus dua-duanya, karena keduanya sangat berarti
bagi saya.
#edisi
curhat gak pakai galau, karena anak Ilmu Budaya anti galau!
Salam
budaya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar