Sabtu, 14 Desember 2013

Gunung Marapi: Perjalanan Perdana Naik Gunung

Kembali menulis agar tak lupa. Juga agar cerita tak tinggal cerita. Bisa diulang-ulang baca, ditertawakan. Itulah indahnya mengenang.

Ini tentang perjalanan perdana saya ke gunung Marapi di Sumatera Barat, tepatnya di Padang Panjang. Sebagai mahasiswa Riau yang kala itu tinggal dan kuliah di Pekanbaru, gunung terdekat adalah Marapi. Di Riau tak ada gunung, namun belakangan ada satu ekspedisi yang dilakukan teman-teman penggiat alam Riau menemukan satu gunung purba di Riau. Tepatnya di perbatasan Riau-Sumbar. Namanya Gunung Jadi. Penemuan baru. Saya belum pernah ke sana. Tidak terlalu ingin karena dengar-dengar medannya berat. Akses ke sana sulit. Biarlah. Bagus begitu, biar terjaga ekosistem di sana.

Semester 2 menjadi mahasiswa saya diajak naik gunung. Perdana. Saya tidak pernah naik gunung kecuali Gunung Bintan di Pulau Bintan saat SMA. Namanya saja yang Gunung Bintan, sebenarnya ia bukit, tingginya 300-an mdpl. Menjulang tinggi dan berada di Bintan sehingga dinamai Gunung Bintan.

Saya bayang- bayangkan bagaimana bentuknya gunung Marapi itu. Saya lihat-lihat dokumentasi orang-orang yang sudah pernah pergi ke sana. Kesan saya Gunung Marapi indah sekali. Maka bersemangatlah saya mengiyakan ajakan salah seorang seniorku di kampus saat itu. Kami pergi berempat. Saya, Nori (sama-sama perdana), bang Geboy (juga perdana), dan bang Joe (sudah berpengalaman_seniorku).

Agustus 2008. Pas perayaan kemerdekaan RI. Tapi kami tak sempat bersama-sama rekan pendaki lain untuk upacara pengibaran bendera di puncak. Kami terlambat tiba di Koto Baru (Kaki Gunung Marapi). Tanggal 18 pagi kami baru tiba. Pagi-pagi sekali kami mulai mendaki. Karena perdana saya kesulitan selama mendaki. Kecapekan. Sebentar-sebentar istirahat. Salah saya juga karena tak pakai pemanasan dulu. Sebaiknya untuk persiapan naik gunung jogging lah sebulan sebelumnya. Kami tak bawa tenda! Karena rencananya tidak akan nge-camp. Sampai puncak lalu turun, itu rencananya.

Rencana untuk tidak nge-camp tetap jalan, namun rencana untuk sampai puncak Merpati (puncak tertinggi Gunung Marapi) tinggallah rencana karena sudah jam 5 sore tapi kami masih di Cadas. Tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke puncak di malam hari kan. Setelah menunggu sunset dan foto-foto kami pun turun. Di perjalanan turun berjumpa teman-teman dari Riau. Mereka menawarkan untuk bermalam saja. Kalau tidak bawa tenda boleh numpang dengan mereka. Tapi karena di awal sudah sepakat untuk turun maka kami putuskan terus jalan ke bawah. Bang joe itu tegas dan disiplin. Padahal saya sudah merengek-rengek minta supaya kita nge-camp saja karena kaki ini rasanya tak kuat lagi bejalan. Tapi gagal.

Sampai di pasanggrahan saya tak kuat lagi. Saya berbaring saja di tengah jalan. Bang Joe bilang “mau tidur di sini apa di rumah sodaranya bang Geboy?”. Setelah turun rencananya memang mau beristirahat di rumah saudara bang Geboy, di Padang Panjang. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga, dibantu bang Joe yang menuntun hingga sampai di pos pendakian. Pukul 10 malam akhirnyaa. Di pos pendakian kami dijemput oleh saudara bang Geboy. Selanjutnya beristirahat di rumah saudaranya itu.

Esoknya
Pagi di padang panjang. Mandi di pancuran yang airnya sedingin es. Pemandangan padi yang masih hijau dikelilingi bukit-bukit yang indah. Pagi itu indah sekali. Burung-burung berkicau, sahut-menyahut. Ibu-ibu pergi ke pancuran untuk mandi dan mencuci. Saya dan Nori bergabung bersama mereka. Kami mandi pakai kain basahan. Pengalaman pertama. Agak kaku karena tempat mandi umum ini tidak beratap, tidak ada yang mengintipkah?


Pulang selalu menjadi bagian paling menyenangkan dalam setiap perjalanan. Kami pulang ke Pekanbaru pagi itu, naik bus ekonomi. Di sepanjang jalan kami semua tidur, kelelahan. Lain kali mau naik gunung lagi, begitu pikir saya. Naik gunung seperti candu.

di cadas menunggu matahari terbenam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar