Minggu, 27 Oktober 2013

Danau Kaco

Oktober, 2 tahun yang lalu

Kecintaanku kepada hutan, air dan gunung membawaku menelusuri hutan di Sumatera. Kali ini ke salah satu hutan adat di desa Lempur, Kabupaten Kerinci, Jambi. Tujuan kami masuk ke hutan adat itu adalah "danau kaco", salah satu danau terindah di tanah surga yang tercampak ke bumi ini (kerinci). Belum banyak yang datang ke danau kaco, tempatnya masih sangat alami. Dari cerita teman-teman yang sudah pernah kesanalah kudapat informasi tentang keindahan danau ini. Oh iya rupanya tim jejak petualang pernah kesana, aku pernah nonton pas edisi danau kaco itu ditayangkan. 

Ditemani salah seorang teman terbaikku yang bernama Fitri, kami berdua berangkat dari Sungai Penuh, beruntung ada motor yang bisa dipakai. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam menuju desa Lempur, desa terdekat dari danau kaco. Kami berdua hanya bawa ransel yang berisi logistik (makanan), pakaian ganti dan sleeping bag. Tenda, alat memasak dan peralatan makan tak kami bawa, kami bermaksud meminjam alat-alat itu ke teman-teman KPA (Komunitas Pencinta Alam) Telaga Biru yang posisinya di Lempur. Itulah enaknya jadi anak PA, dimana-mana sesama anak PA pasti saling membantu, persaudaraannya erat sekali.  

sekretariat KPA Telaga Biru
Tiba di desa Lempur, kami menuju sekretariat KPA Telaga Biru. Awalnya mereka kaget juga mendengar kami akan ke danau kaco berdua saja. Perempuan pula. Dengan senang hati mereka bersedia menjadi guide kami ke danau, dan tentunya dipinjami tenda dan peralatan memasak. Wahh, beruntungnya kami. Jadi bertambahlah rekan seperjalanan kali ini, ada bang Khadafi, bang Edo, bang gendut, dan 3 orang anak kelas 6 SD, aku lupa nama mereka. Mereka hebat. Mereka tinggal di Lempur, sudah sering main ke danau kaco, perginya pagi hanya untuk main air, siangnya sudah pulang, aku rasa aku gak sanggup seperti mereka, karena medan yang dilalui gak mudah. Namanya juga anak alam, sudah biasa, sudah sangat bersahabat dengan alam. 

Sebelum mulai jalan (jalan kaki yaa, karena posisi danau kaco ini ada di tengah hutan adat yang masih alami, gak ada jalan raya di dalamnya), kami packing perlengkapan yang akan dibawa, setelah selesai aku duduk-duduk di depan sekretariat, memandang mesjid tua yang arsitekturnya unik, melihat anak-anak yang lagi berenang d sungai, menyaksikan deretan bukit-bukit menghijau yang mengelilingi desa ini. Lempur terkenal dengan Padi Payo nya. Padi kualitas nomor 1 di Kabupaten Kerinci. Pulen dan sedap. Harganyapun menjadi selangit. Lagi asik-asiknya memandang lukisan Tuhan aku disapa oleh seorang nenek yang ramah, dia tanya aku dari mana dan mau kemana. Ku jawab dari Sungai Penuh dan mau ke danau kaco. Si nenek dengan ramah menasehatiku supaya berhati-hati di perjalanan nanti, maklum medannya lumayan menantang, dan karena orang baru aku disarankan untuk tidak berenang setibanya di sana, cukuplah bermain-main air, mencelupkan kaki atau membasuh muka saja. Yes, aku mengiyakan nasehat si nenek dan berterimakasih atas perhatiannya. 
Mesjid di Lempur
asyiknya mandi di sungai

Setelah menitip motor di rumah teman Fitri yang bernama Nina, kami memulai perjalanan. Desa Lempur tentram sekali, rumah-rumah terlihat asri dengan kebun-kebun sayur di sekelilingnya. Aku mendambakan punya rumah seperti itu, rumah panggung berpagar bambu, berpekarangan luas, di sebelahnya ada kebun sayur. Masih terus berjalan menuju ujung desa, di sana ada Tugu Depati Parbo. Departi Parbo adalah salah satu pahlawan Kerinci, ia gigih melawan Belanda pada masanya, dan tugu itu dibangun untuk menghormatinya. Kami beristirahat sebentar di dekat tugu sambil berkodak.

Tugu Depati Parbo
Dari tugu Depati Parbo perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai, kenapa ku bilang akan dimulai? karena dari sini kami mulai masuk hutan, Track nya hanya jalan setapak. Hutan yang kami masuki ini adalah wilayah hutan adat. Di dalam hutan adat tak boleh ada yang merusak ekosistemnya, hukum adat berlaku di sini. Aku selalu merasakan sensasi yang beda kalau masuk ke hutan adat ketimbang hutan-hutan biasa. Di dalam hutan adat suasananya lebih magis. Banyak larangan tak boleh ini tak boleh itu, yang seperti itu baik, bisa menjaga kelestarian hutan sih, tapi untuk orang-orang yang tak bisa menghormati kearifan lokal hal seperti itu tak dipedulikan, buktinya masih kudengar bunyi mesin pemotong kayu. Heran juga aku, ku tanyakan kepada bang Dafi, leader kami, kenapa di dalam hutan adat begini ada yang nebang pohon? Bang Dafi bilang itu yang nebang masyarakat juga, paling kecil-kecilan lah untuk kebutuhan mereka. Hmmm, speechless.
nombak ikan
1 jam perjalanan, kami masih di pertengahan nih, kata bang Dafi perjalanan kami sebentar lagi berakhir, Fitri yang sudah pernah ke sini hanya senyum-senyum saja, aku sadar lagi dikerjain, ya gak apa, memang untuk menyemangati teman seperjalanan kata-kata jitunya "sebentar lagi kok". Cuaca cerah mengiringi langkah kami hari itu. Aku sudah 3 hari kena flu, tapi sejak masuk ke hutan tadi kok plong ya rasanya. Alam memang berbaik hati memberi udara yang segar, paru-paruku bersih kembali dari polusi-polusi kota. Flu ku sembuh loh. Kami tiba di sungai dangkal. Ada lubuk di arah hilirnya, lumayan dalam, sedada orang dewasa, bang gendut yang memang membawa tombak pemancing langsung berenang ke lubuk untuk mencari ikan, kami istirahat sejenak menikmati bekal makan siang, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Air sungai sejuk sekali, aku minum langsung dari sungai dan mengisi botol-botol air kami yang mulai kosong. Tuhan, betul-betul indah ciptaanMu, lagi-lagi aku menghirup nafas yang dalam, sepertinya tak rela menyia-nyiakan udara segar yang gratis ini. 

Jam 1 kami lanjut jalan lagi. bang gendut gak dapat ikan sama sekali, yahh, gagal menombak dia. Selepas menyebrang sungai kami masuk ke dalam hutan bambu. Aku merasa sedang ada di Jepang. Hutan bambunya keren sekali. Rumpun bambu yang kami lewati memang lebat, sehingga keadaan sekitar menjadi sedikit gelap karena cahaya matahari terhalang masuk. Sejenak seperti berada di dunia lain, horor, aku merinding, tapi tidak terlalu ku pikirkan, aku terus jalan mengikuti bang Dafi. Bersama Fitri kami saling bergandengan, sepertinya perasaan kami sama, sama-sama horor.. 

Keluar dari hutan bambu ketemu lagi dengan sungai, kali ini kami berada di atas tepian sungai yang tinggi. Mesti nyebrang. Tidak ada jembatan guys, kita mesti buat jembatan sendiri, dari apa? dari susunan batang-batang bambu. Ini seru, batang bambu yang bergoyang-goyang saat dilalui menaikkan adrenalin kami. Giliran bang gendut tentulah yang paling kami tunggu-tunggu. Was-was juga takut jembatannya roboh, untungnya tidak. 

Langkah mulai lemah, jalur yang dilalui mulai menanjak-nanjak. Aku sudah semakin memelankan langkah. Hebatnya anak-anak SD itu masih bersemangat sekali, sepertinya mereka gak kenal capek. Aku disemangati oleh teman-teman, katanya danau kaco sudah dekat. Akupun kembali bersemangat. 2 setengah jam perjalanan, berpeluh-peluh, naik turun jalan setapak, menyebrang sungai, daaaan kami tiba. Luar biasa Indahnya. Danau kaco bak permata yang berkilau di tengah-tengah hutan. Warna birunya memang benar-benar biru. Oh bagaimana ya aku ingin menggambarkannya, silakan lihat fotonya.

2 anak SD itu sampai duluan ke danau, hebat!

Gak nunggu apa-apa lagi, kami turun ke bawah, melepaskan alas kaki dan langsung main air. Airnya sejuk, bening, dan banyak ikan yang lalu lalang terlihat jelas. Warna danaunya yang begitu biru menyimpan cerita tersendiri. Alkisah, Raja Kerinci memiliki anak perempuan yang cantik jelita. Banyak lelaki yang datang kepada Raja untuk meminang, para lelaki itu datang dengan membawa perhiasan-perhiasan seperti emas dan berlian sebagai hadiah untuk putri Raja. Berlimpahlah emas dan berlian milik Raja. Saat Raja Kerinci kalah perang melawan Belanda, ia melarikan diri ke hutan, merasa kondisinya sangat tidak aman maka seluruh hartanya disimpan di dalam danau. Konon karena perhiasan-perhiasan Raja itulah warna danau biru berkilau-kilau, ada harta karun di dalamnya. Wah aku antusias sekali dengan harta  karun, sayangnya cerita itu belum tentu kebenaranya. Pernah ada seseorang yang ingin membuktikan cerita itu, ia pun menyelam, tapi tak pernah sampai ke dasar danau, kemudian ia berusaha mengeringkan air danau, tapi di tengah usahanya itu ia pun meninggal dunia. 

Ada larangan yang dipampang pada papan pengumuman di tepi danau: dilarang mandi dan memancing di danau ini. Oke, kami tidak mandi, tapi bang Dafi dan teman-temannya sudah siap dengan peralatan memancingnya, katanya ikan semah di sini banyak sekali, syukur-syukur bisa dapat induknya yang besar. Larangan yang ada ya hanya sekedar tulisan.  Senyum aja.

Kami hanya semalam di sana, 2 tenda sudah tegak dan waktunya beristirahat. Bang Dafi bilang kalau bulan sedang purnama suasana di danau kaco akan lebih bagus lagi, karena pantulan cahayanya jatuh di permukaan danau, sayangnya malam itu tidak sedang purnama. Esok paginya kami bangun subuh-subuh sekali, mengirup lagi udara segar, mendengar kicauan burung-burung pagi, merasakan dinginnya embun pagi yang sejuk, dan sarapan roti bakar ditambah teh susu hangat. Indahnya dunia. Puas pagi itu kami bermain-main air, tapi tidak mandi, masih teringat nasehat si nenek di Lempur itu, pun memang ada larangannya.

bird watching

airnya biru dan segar

Bang Dafi mengajak kami mengitari danau, menuju ke air terjun kecil yang menumpahkan airnya ke danau. Sambil berkeliling danau kami mengamati burung-burung di sekitar menggunakan teropong. Kebetulan Fitri temanku ini salah satu anggota KBC (Kerinci BirdWatching Club). Ia tau beragam jenis burung, aku pun diajarinya bagaimana mengenali beberapa jenis burung. Belajar yang menyenangkan, langsung di alam. 

Bang gendut yang dari tadi mancing cuma dapat ikan semah kecil, hihihihi, memang bukan rejeki kami dapat yang besar, padahal dari tadi induk semah lalu lalang di dekat pancingannya. Menu makan siang kami nasi goreng, sambal ikan goreng yang dibawa dari rumah dan ikan semah yang dibakar hasil pancingan. Kalau sedang di lapangan makan terasa nikmat, apapun itu. Selesai makan siang kami beres-beres. 

Bagi setiap orang yang melakukan perjalanan, pulang adalah tujuan akhir. Begitu juga kami, harus pulang walaupun masih ingin berlama-lama di danau yang indah itu. Lain kali aku ingin ke sana lagi, menikmati keindahan danaunya kalau bisa saat purnama, bersama teman-teman lagi. Perjalanan keluar dari hutan terasa cepat, mungkin karena sudah hafal jalannya jadi terasa sebentar. Kami berterimakasih kepada  bang Dafi dan kawan-kawan yang telah menemani kami ke danau kaco, mereka baik sekali. Sampai di Lempur kami menginap di rumah Nina, dan kami makan pakai beras Payo. Sungguh nikmat Tuhan begitu besar kurasakan berturut-turut. Esoknya aku dan Fitri pulang ke sungai penuh dengan hati yang riang. 






Kamis, 24 Oktober 2013

Ideologi menurut Roland Barthes

Sangat banyak hal menarik yang kujumpai sejak menjadi mahasiswa di UI, yang katanya merupakan salah satu Universitas terbaik di negeriku ini. Memang betul, aku dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa pintar, cerdas, dan pandai bergaul. Teman-teman dan dosenku semuanya orang-orang hebat. Hari ini saat kuliah Sejarah Sastra aku bisa memahami sesuatu yang sebenarnya rumit dengan sangat mudah. Itu karena contoh yang diberikan oleh bu Joesana, dosen sejarah sastra. :)

Begini, kami membahas tentang apa sih yang dimaksud dengan Ideologi? kali ini biar pemahaman kami seragam maka diambillah konsep Ideologi nya Roland Barthes. Belum kenal Roland Barthes? kenalan dulu http://id.wikipedia.org/wiki/Roland_Barthes

Menurut Barthes ada 3 hal yang saling berkaitan di dalam penjelasannya mengenai ideologi:
                                                   Konotasi -> Mitos -> Ideologi
Konotasi adalah makna yang tidak sebenarnya. Kalau mitos tentu semua sudah tahu kan. Sesuatu yang diyakini tetapi tidak diketahui kebenarannya. Bagaimana konotasi pada suatu saat bisa menjadi mitos, dan mitos pada suatu saat bisa menjadi ideologi, bisa kita temukan dalam contoh yang diberikan bu Joesana berikut ini:

Teman-teman tahu timun? oke, coba sebutkan makna denotasi dari timun. Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya. Yap, timun adalah sayuran berwarna hijau berbentuk panjang dan lonjong, biasanya digunakan sebagai bahan lalapan, acar, kadang diserut dan dicampur ke sirup.

Kemudian adakah yang pernah mendengar tentang petuah ibu-ibu untuk anak gadisnya ini : "nak, jangan makan timun banyak-banyak, nanti becek loh, nanti kalau sudah punya suami ditinggalin baru tahu rasa". Itu adalah makna konotasi dari timun. Timun tidak lagi diartikan sebagai sayuran berwarna hijau berbentuk panjang dan lonjong, tetapi menjadi penyebab dari masalah kewanitaan. Ku rasa hampir kebanyakan anak perempuan tahu tentang nasihat ini. Apakah ini benar adanya? tidak bisa kita membenarkan sesuatu tanpa ada pembuktian ilmiahnya. Ini mitos. Sampai saat ini tidak ada pembuktian ilmiah yang membuktikan tentang mitos ini, jadi tidak bisa kita sebut benar.

Hingga suatu hari seorang perempuan yang sejak gadis memang menyukai timun dan sering dinasehati ibunya tentang mitos timun ditinggalkan oleh suaminya. Sebut saja namanya bunga. Suami bunga berselingkuh. Bunga menangis mengadu ke ibunya. Ibunya tentu saja mengungkit-ungkit tentang mitos timun yang dulu sering disampaikannya "tuh kan, ibu bilang juga apa, jangan sering-sering makan timun, suamimu pergi kan jadinya, makanya didengar kalau orang tua ngomong".

Dari makna konotasinya timun menjadi sebuah mitos yang ada di tengah masyarakat. Lantas tidakkah kita berpikir bahwa mitos "timun bisa bikin becek dan nanti ditinggal suami" itu sudah membentuk suatu ideologi? Jelas sekali bahwa mitos tersebut memunculkan ideologi Patriarkal. Ideologi Patriarkal adalah ideologi yang berpihak kepada laki-laki dan cenderung menyalahkan perempuan. Logikanya: bunga ditinggalkan oleh suaminya, kenapa malah bunga yang disalahkan karena ia suka makan timun? kenapa tidak suaminya yang disalahkan karena tega meninggalkan istri demi wanita lain? Ideologi patriarkal sudah terbentuk.

Dapatlah kita ambil suatu pemahaman bahwa yang disebut ideologi adalah saat nilai, pemikiran atau cara berfikir sudah mempengaruhi perilaku dan mengatur perilaku dalam waktu yang terus menerus. Contoh ideologi patriarkal dari cerita di atas munculnya kapan? saat mitos tentang "timun bisa bikin becek" tertanam di benak masyarakat. Sehingga saat ditinggal oleh suaminya perempuan lah yang menjadi penyebab dan bersalah, bukan laki-laki.

Kalau saja si bunga adalah perempuan modern yang cerdas dan seorang feminis, ia bisa saja menjawab pernyataan ibunya di atas,
ibu: "tuh kan, ibu bilang juga apa, jangan sering-sering makan timun, suamimu pergi kan jadinya, makanya didengar kalau orang tua ngomong"
Bunga: "tenang saja bu gak apa-apa dia meninggalkan saya. Saya tidak butuh laki-laki kok selama masih ada timun"..............................................................

Dan seisi kelas pun tertawa terbahak-bahak.
Kelas sejarah sastra hari ini berakhir dengan menyenangkan.
Terimakasih bu Joesana :)



Le Grand Voyage

Ini postingan yang terlambat, seharusnya ku posting segera setelah menontonnya. Ya, kali ini kita ngobrol tentang film, judulnya Le Grand Voyage, film Perancis. Berkat pengalaman belajar bahasa Perancis sewaktu SMA aku langsung tahu artinya: Perjalanan Besar. Ini film yang dirilis pada tahun 2004, tentang perjalanan haji seorang lelaki imigran bersama anaknya menggunakan mobil dari Perancis ke Mekkah. Bayangkan, 5000km lebih perjalanan darat mereka lalui untuk tujuan berhaji. Padahal mereka punya uang yang cukup untuk bisa berhaji menggunakan pesawat terbang. Apa sih tujuannya? Kenapa ingin bersusah-susah? dan bagaimana makna berhaji bagi mereka? mari kuceritakan...

Pemutaran film beserta diskusi ini ditaja oleh Forum Muda Paramadina, Ciputat School dan LSI Community. Bagi yang belum tahu tentang mereka silakan googling sendiri ya teman-teman. Berhubung diadakan 4 hari sebelum hari raya Idul Adha, rasanya pas kalau film yang akan didiskusikan ya film Le Grand Voyage ini, tentang perjalanan haji. Saya sungguh mengapresiasi panitia yang on time memulai acara pukul 16.00 walaupun saat itu baru sedikit peserta yang hadir. Ada bapak-bapak yang rupanya beliau adalah moderator diskusi yang bilang gini "mari kita mulai acara ini, jangan kita ikuti domba-domba yang terlambat itu, biarkan mereka yang mengikuti kita" hahaha, lelucon sederhana yang mengena sekali. Narasumber untuk sesi diskusi adalah Pak Dadi Darmadi, seorang Antropolog yang sedang menyelesaikan program doktornya di Harvard University. Film pun diputar, diawali dengan adegan seorang pemuda tampan lagi naik sepeda di jalan raya yang sepi. Pemandangannya indah, ia menuju ke tempat abangnya yang sedang memperbaiki mobil. Mobil tua berwarna biru muda. Pintu sebelah kanannya rusak sehingga harus diganti, tetapi warnanya beda, warna oren. Kontras dengan warna mobil yang biru. Sampai disitu sudah menarik -menurutku.

Si pemuda tampan bernama Reda. Cerita punya cerita rupanya abangnya Reda memperbaiki mobil karena mobil itu akan dipakai mengantarkan ayah mereka berhaji. Ayah mereka seorang imigran Arab yang sudah menetap di Perancis selama 30 tahun, merupakan seorang bapak yang kaku, taat beribadah dan masih sangat konservatif dalam mendidik anaknya. Sedangkan anak-anaknya terutama Reda adalah tipikal anak muda Perancis yang modern dan kurang sekali pemahaman agamanya. Ia tumbuh menjadi anak muda yang moderat. Awalnya perjalanan sang Ayah akan ditemani oleh abang Reda, tetapi karena tersangkut kasus kriminal, abang Reda tidak boleh berpergian. Jadilah Reda yang diharuskan oleh sang Ayah untuk menemani sampai ke Mekkah. Reda tidak ikhlas, tapi dia tidak bisa menolak perrmintaan ayahnya.

Di sepanjang perjalanan komunikasi tidak berjalan baik, mereka berdua (Reda dan ayahnya) sangat kaku. Aku memetik nasihat dari perjalanan mereka: komunikasi itu penting, kita tidak akan saling mengerti satu sama lain tanpa berkomunikasi, kan. Karena komunikasi yang tidak baik tersebut banyak hal-hal ganjil dan tidak mengenakkan terjadi, seperti salah jalan, bertemu dengan orang-orang aneh, dan merasa dicurangi oleh orang lain. Ada kutipan menarik dari percakapan mereka, saat itu mereka sedang berada di pertigaan jalan dan tidak tahu harus ke arah kiri atau kanan. Reda memperhatikan peta tetapi jalan yang dimaksud tidak ada di peta, lantas ia bertanya kepada ayahnya: "kemana kita papa?" ayahnya menjawab "ke sana" (sambil menunjuk ke arah kiri). Reda yang merasa tidak yakin menjadi gusar dan bilang "Ah sudahlah papa saja tidak tahu baca dan tulis". Ayahnya diam saja, tapi tak lama setelah itu ucapan Reda dibalas oleh ayahnya pada suatu peristiwa: saat itu Reda sedang mabuk dan uang mereka dicuri, ayahnya marah sekali dan bilang "kau pandai baca dan tulis tetapi tak bisa memahami kehidupan". Reda pun sadar akan kesalahannya.

Jadi ayah Reda ini sebenarnya ayah yang tidak menyenangkan, kalau menurutku. Ia kaku sekali, tidak pernah mengungkapkan apa sih yang sebenarnya dia inginkan kepada Reda anaknya. Reda harus sering berfikir apa sih mau ayahnya itu, kadang Reda sampai terlihat stress saat dia tak bisa mengerti apa maksud ayahnya sebenarnya.

Saat akan tiba di Mekkah Reda bertanya kepada ayahnya "kenapa papa pergi berhaji memakai mobil? kenapa tidak dengan pesawat saja?" ayahnya menjawab memakai analogi seperti ini " air laut menguap ketika mereka naik ke awan, dan ketika mereka menguap mereka akan menjadi segar. Itulah mengapa lebih baik bagimu untuk pergi haji dengan berjalan kaki daripada naik kuda, lebih baik naik kuda dibandingkan dengan naik mobil, lebih baik dengan mobil dibandingkan dengan perahu, dan lebih baik dengan perahu dibandingkan dengan pesawat". Ucapan ayahnya menjadi simpulan dari film ini. Jika kita telaah, maknanya sangat luar biasa. Perjalanan haji diibaratkan seperti proses menguapnya air laut ke awan. Dalam proses itu kadar garam yang ada pada air laut menghilang, sama dengan penyucian diri, dan saat ia sampai ke awan dan diturunkan lagi menjadi hujan maka air yang asin tadi sudah menjadi air yang segar kembali, sama seperti diri kita yang kembali fitrah. Proses menentukan hasil. Proses menjadi penting di dalam nasehat si ayah.

Nah mari kita keluar dari fiksi dan melihat realita yang terjadi di sekeliling kita. Banyak sekali orang-orang yang pergi berhaji. Di Indonesia saja bila kamu ingin pergi haji dan mendaftar hari ini, maka 20 tahun lagi baru bisa berangkat. Kenapa? karena daftar tunggu yang sudah penuh sampai 20 tahun ke depan. Luar biasa sekali kan antusias orang-orang untuk pergi berhaji. Bagaimana mereka memaknai perjalanan haji tersebut? Apa hanya karena haji adalah rukun Islam yang ke-5? Lantas setelah itu apa? Apakah proses berhaji yang sudah dilalui benar-benar sudah menjadikan kita pribadi yang kembali fitrah?

Menurut pak Dadi Darmadi pandanglah perjalanan haji sebagai Rihlah dan Ziyara(Ziarah). Rihlah adalah perjalanan untuk belajar. Kita mesti sadar bahwa kita sedang belajar dan akan mengimplementasikan apa yang kita pelajari baik itu tentang keikhlasan, kesabaran, maupun ketakwaan di dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Ziyara (Ziarah) adalah seperti mengunjungi makam-makam para Nabi dan tempat-tempat bersejarah. Pergi berziarah tidak boleh bersenang-senang, harus bertolak dari rasa yang penuh haru dan kerinduan (movement to unhappiness to happiness). Pahamilah setiap apa yang dijalankan. Pergi berhaji haruslah sudah mampu. Tidak hanya mampu dari segi harta tapi sudah mampu dan siap lahir batin untuk melalui proses penyucian yang terkadang dalam proses tersebut banyak ditemui hambatan dan rintangan.

Oh iya ending film Le Grand Voyage bukanlah happy ending. Ayah Reda meninggal saat menjalankan ibadah haji, mobil mereka dijual di Mekkah dan Reda kembali sendirian ke Perancis. Kita tidak pernah tau apakah Reda mengambil hal-hal baik yang ia pelajari selama perjalanan dari Perancis ke Mekkah? Apakah ia tetap menjadi pemuda modern yang jauh dari ibadah? tidak ada yang tahu. Film ini menggantung, tetapi cukuplah bagiku menikmati perjalanan ayah-anak yang luar biasa ini. Bagi yang masih penasaran silahkan ditonton langsung filmnya. Memang sulit dapat DVD nya, mungkin kalian bisa tonton di Youtube. Sekian.




GARDU: Bangunan sederhana yang penuh makna

Ini pertama kalinya saya mereview buku, dan ternyata mereview buku adalah kegiatan yang menyenangkan. Berawal dari tugas mata kuliah teori-teori kritis, saya sangat menikmati proses mereview buku ini. Masih banyak kekurangan tapi saya PD saja mempublish di blog ini, semoga bermanfaat bagi yang membaca.
 

Judul buku     : Penjaga Memori : Gardu di Perkotaan Jawa
Judul asli        : Guardian of Memories : Gardu in Urban Java
Penulis           : Abidin Kusno
Penerjemah    : Chandra Utama
Penerbit         : Ombak
Tahun            : 2007
Tebal             : xv + 154 halaman

             Hampir seluruh orang di negeri ini mengetahui apa itu gardu, seperti apa bentuknya dan dimana biasanya gardu itu berada, tetapi  sedikit yang mengetahui tentang sejarah berdirinya gardu, apa yang mendasari berdirinya gardu dan siapa yang pertama kali memiliki ide untuk membangunnya. Bagi banyak orang hal ini tidaklah terlalu penting, tetapi hal ini menjadi sangat penting manakala kita ingin mengetahui sejarah politik bangsa Indonesia. Buku Penjaga Memori: Gardu di Perkotaan Jawa yang ditulis oleh Abidin Kusno memberikan sumbangan yang besar bagi khasanah ilmu pengetahuan bangsa kita dalam bidang sejarah. Walaupun tema yang diangkat sederhana, yaitu sebuah gardu tetapi ternyata banyak cerita dari pendirian gardu yang berkaitan erat dengan zaman berdirinya, berbagai golongan masyarakat dan rezim kekuasaannya. Kita dapat mempelajari kemajemukan identitas gardu yang mengarahkan kita keberbagai lapisan waktu dan ruang yang saling bertaut.
            Menurut Abidin Kusno dalam pengantarnya, dalam menghadapi sejarah Indonesia yang penuh dengan pancaroba, gardu beradaptasi, kadang-kadang menjadi momok yang menakutkan dari peristiwa besar, kadang-kadang menghilang melalui persatuan dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun identitasnya berubah terus, ia tidak pernah dianggap mewakili budaya luhur bangunan (seperti halnya pendopo dan gedung art deco), tapi ia menyaksikan dan ikut, dari pinggiran mungkin, perjalanan panjang sejarah Indonesia, kadang-kadang sebagai bulan-bulanan zaman. Mungkin karena itulah, gardu tidak pernah masuk sejarah karena ia masih hidup dan mungkin akan hidup terus untuk supaya kita bisa melupakannya. Jadi buku ini hanya ingin menunjukkan bahwa ada satu cerita yang bisa kita sampaikan mengenai gardu yang akan membuat kita memikirkan keragaman dan keluasan dan juga keterbatasan sejarah Indonesia.
            Abidin Kusno tidak memulai pembahasan gardu dari sejarah awal pendiriannya, tetapi ia mulai menceritakan tentang gardu (posko) pada akhir zaman orde baru yang didominasi oleh partai PDIP sebagai partai oposisi pemerintah pada masa itu dan menjadi bagian yang sangat penting dalam menjaga keamanan di sekitar tempat tinggal pasca kerusuhan 1998 atas lengsernya pemerintahan orde baru. Ini menjadi menarik dan penulis menilai bahwa Abidin Kusno memahami betul bahwa peran gardu menjadi terlihat dan sangat penting pada masa itu dibanding peran gardu pada zaman-zaman sebelumnya dan menjadi simbol perlawanan atas pemerintahan orde baru.
            Megawati yang mengambil kesempatan pasca jatuhnya orde baru dengan membangun posko-posko pengamanan di berbagai tempat juga merepresentasikan ayahnya, yaitu Sukarno. Lukisan atau gambar-gambar Sukarno hadir di posko-posko PDIP. Sukarno sangat lekat dengan podium, karena di podium lah beliau menyampaikan pidato dan orasi dengan penuh semangat. Posko menjadi momentum mengingat memori kolektif publik akan masa lalu. Melalui gambar Sukarno lengkap dengan podiumnya, seolah membangkitkan kenangan sejarah tentang seorang pemimpin besar yang dekat dan dipuja rakyat. Dengan cara itu masyarakat didekatkan kembali dengan figur historis Sukarno dengan berbagai ide dan cita-cita luhurnya sehingga masyarakat akan menyambungkannya dengan kondisi objektif yang dialami oleh Megawati. Jika Sukarno berdiri di podium dan langsung berbicara kepada rakyat, Megawati bisa hadir lewat wakil-wakilnya, dalam bentuk posko yang ada di seluruh pojokan jalan. Dengan posko-posko, PDIP menawarkan suatu bentuk nuansa ketertiban dan perlindungan bagi warga kota pasca kota yang porak-poranda oleh pembakaran, penjarahan, dan pembunuhan pada kerusuhan Mei 1998.
            Abidin juga menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana masyarakat Tionghoa yang banyak memiliki pengalaman kekerasan mengadirkan gardu sebagai benteng pertahanan mereka. Dimulai sebelum zaman kolonial hingga kerusuhan Mei 1998 di akhir zaman orde baru gardu digunakan etnis Tionghoa untuk patroli. Kemungkinan strategi-strategi survival mereka memberi sumbangsih terhadap berkembangnya gardu-gardu di Indonesia. Tidaklah terlalu jauh bila kita mengatakan bahwa mungkin tradisi-tradisi etnis Tionghoa mempengaruhi bentuk dan praktek gardu di Indonesia, sebab gerbang, tembok, dan penjaga merupakan tradisi arsitektur Cina.
Pada zaman orde baru gardu disebut pos hansip (pertahanan sipil). Istilah posko juga dipakai selama periode Soeharto, namun ia merujuk pada pos komando yang dibangun secara temporer oleh unit-unit militer saat mereka bertugas di wilayah-wilayah yang rawan dan belum terkendali. Memasuki 1980-an, tentara Soeharto telah ditugaskan untuk melakukan transformasi posko militer berbasis desa menjadi bentuk pos hansip berbasis kota. Pos hansip didirikan di tempat-tempat strategis sebagai bagian dari komunitas berbasis kota. Agar berfungsi secara efektif sebagai aparat negara, pos hansip harus menyatu dengan nafas kehidupan sehari-hari komunitas tersebut, yaitu dengan mengadakan aktivitas ronda malam dan memberi ruang sosialisasi serta memantau kehidupan publik. Kehadiran gardu/pos hansip pada masa itu tidak disadari masyarakat bahwa itu suatu bentuk pengawasan terhadap masyarakat.
Mengenai sejarah pendirian gardu Abidin Kusno mengumpulkan data-data dengan sangat cermat walaupun penjelasannya tidak berurutan. Sejarah keberadaan gardu sudah ada sejak zaman pra-kolonial. Gardu bisa dijumpai di pintu masuk kediaman bangsawan dan orang-orang terkemuka yang tujuannya untuk menunjukkan kuasa raja sebagai pusat kosmos, bukan untuk memberi batas teritorial maupun untuk pertahanan dan pengusiran. Pada zaman kolonial terjadi pergeseran makna ruang pada gardu. Gardu dibangun berdasarkan tatanan-tatanan yang dicanangkan Daendels Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari Perancis untuk berkomunikasi, memantau dan menghubungkan wilayah-wilayah keresidenan. Selain itu gardu-gardu yang berada di sepanjang poros jalan dari pantai barat Anyer sampai pantai timur Banyuwangi digunakan oleh para musafir untuk beristirahat dan mengganti kuda-kuda mereka.
Di masa pendudukan Jepang, gardu mulai diakui sebagai tradisi dan warisan kultural Indonesia. Jepang membentuk Keibodan yang merupakan organisasi keamanan lingkungan dimana para anggotanya merupakan warga lingkungan itu sendiri. Mereka juga menggunakan gardu untuk menyelaraskan pengawasan rumah tangga. Gardu dapat dipandang sebagai simbol kerja sama antara negara dan lingkungan. Gardu tidak hanya sekedar representasi keamanan kampung, namun juga merangsang berkembangnya semangat gotong royong antara negara dan masyarakat. 
Menyusul kalahnya Pemerintahan Militer Jepang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, banyak daerah terperosok ke dalam periode pertumpahan darah dan kekerasan yang merenggut ribuan nyawa. Abidin banyak menceritakan semangat pemuda-pemuda pada masa itu yang menganggap diri mereka sebagai penjaga-penjaga bangsa. Masa revolusi benar-benar ditandai dengan patroli keamanan dan ronda kampung di kota dan di desa. Pos-pos komando kemudian dipakai sebagai tempat pemeriksaan sekaligus merupakan tapal-tapal batas wilayah negara Indonesia. Gardu dipresentasikan sebagai suatu tradisi. Secara tidak sadar gardu telah masuk dalam alam bawah sadar tentara republik dan masyarakat. Ia telah dianggap sebagai tradisi yang melekat dalam benak warga Indonesia.
Pengalaman kolektif tentang penjagaan lingkungan dan negara telah ditansmisikan dari satu generasi ke generasi yang lain dan menggiringnya ke dalam era pascakolonial. Pemukulan kentongan pada saat ronda malam berlanjut hingga hari ini. Gardu, ronda, dan kode-kode kentongan telah diwariskan dari periode waktu yang lain dan sudah menjadi bagian dari struktur kehidupan sehari-hari, baik di kota maupun di desa di berbagai tempat di Indonesia. Bagi warga Tionghoa, gardu dapat menjadi pemicu ingatan-ingatan traumatis tentang kerusuhan. Bagi kelompok lain, ia terus melestarikan budaya status. Bagi kebanyakan laki-laki Jawa, gardu masih menjadi tempat nyaman untuk minum-minum, ngobrol, dan melihat para perempuan yang melintasi jalan.
Bagi banyak kalangan perempuan, gardu adalah dunia pria yang secara praktis dan secara historis didasarkan pada penyingkiran kaum perempuan dari ranahnya. Bagi warga masyarakat yang lain, gardu membangkitkan kenangan tentang militerisme perkotaan, politik populis jalanan ala Sukarno, dan ancaman-ancaman komunis. Gardu, dengan demikian, mengintegrasikan ingatan-ingatan yang berbeda-beda ke dalam kesadaran kota. Akan tetapi, seperti banyak bentuk perkotaan lain di dunia kontemporer, gardu Indonesia dapat juga dipandang sebagai bagian dari fenomena komunitas yang tergerbang (gated communities), di mana bercampur di dalamnya: keamanan pribadi, prestise kelas menengah, pengemasan masyarakat, dan kekuasaan bisnis perumahan.    
Perjalanan historis gardu dari masa ke masa menjadikan buku ini sangat menarik dibaca sebagai ragam bacaan yang menawarkan sudut pandang yang lengkap terkait keberadaan gardu. Dengan gaya penulisan yang lugas, Abidin berhasil memaparkan bahwa gardu masih menjadi instrumental dalam suatu pertunjukan simbolik dari kekuasaan negara, meskipun penampilannya justru menjadi pertanda lemahnya otoritas negara. Menurutnya gardu merupakan bentuk produk fisik budaya dan ritual sosial politik. Hal ini juga yang menjadikan ruang dengan beragam namanya tetap saja menggenggam kuasanya.
Buku yang tidak tebal dan berukuran kecil ini memang sangat baik jika dijadikan buku saku. Kelebihan lain buku ini adalah adanya visualisasi gambar sehingga pembaca semakin mudah memahami bentuk gardu pada masing-masing zamannya. Secara bahasa buku ini mudah untuk dimengerti, walaupun sarat dengan analisa pembaca umum masih dapat menikmati buku ini, selain para akademisi baik sejarawan, arsitek, perencana kota, dan pemerhati masalah perkotaan. Adapun kelemahan dari buku ini adalah tutur berceritanya tidak berurutan merangkai sejarah gardu sejak awal, Abidin melompat-lompat dari satu zaman ke zaman yang lain. Dapat saya simpulkan bahwa membaca tulisan Abidin sama halnya dengan membaca sejarah rezim-rezim kekuasaan yang pernah ada di Indonesia, yang membuat menarik adalah bagaimana gardu yang merupakan bangunan sederhana memiliki peran penting masing-masing pada rezim-rezim yang berkuasa tersebut.