Kecintaanku kepada hutan, air dan gunung membawaku menelusuri hutan di Sumatera. Kali ini ke salah satu hutan adat di desa Lempur, Kabupaten Kerinci, Jambi. Tujuan kami masuk ke hutan adat itu adalah "danau kaco", salah satu danau terindah di tanah surga yang tercampak ke bumi ini (kerinci). Belum banyak yang datang ke danau kaco, tempatnya masih sangat alami. Dari cerita teman-teman yang sudah pernah kesanalah kudapat informasi tentang keindahan danau ini. Oh iya rupanya tim jejak petualang pernah kesana, aku pernah nonton pas edisi danau kaco itu ditayangkan.
Ditemani salah seorang teman terbaikku yang bernama Fitri, kami berdua berangkat dari Sungai Penuh, beruntung ada motor yang bisa dipakai. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam menuju desa Lempur, desa terdekat dari danau kaco. Kami berdua hanya bawa ransel yang berisi logistik (makanan), pakaian ganti dan sleeping bag. Tenda, alat memasak dan peralatan makan tak kami bawa, kami bermaksud meminjam alat-alat itu ke teman-teman KPA (Komunitas Pencinta Alam) Telaga Biru yang posisinya di Lempur. Itulah enaknya jadi anak PA, dimana-mana sesama anak PA pasti saling membantu, persaudaraannya erat sekali.
| sekretariat KPA Telaga Biru |
Tiba di desa Lempur, kami menuju sekretariat KPA Telaga Biru. Awalnya mereka kaget juga mendengar kami akan ke danau kaco berdua saja. Perempuan pula. Dengan senang hati mereka bersedia menjadi guide kami ke danau, dan tentunya dipinjami tenda dan peralatan memasak. Wahh, beruntungnya kami. Jadi bertambahlah rekan seperjalanan kali ini, ada bang Khadafi, bang Edo, bang gendut, dan 3 orang anak kelas 6 SD, aku lupa nama mereka. Mereka hebat. Mereka tinggal di Lempur, sudah sering main ke danau kaco, perginya pagi hanya untuk main air, siangnya sudah pulang, aku rasa aku gak sanggup seperti mereka, karena medan yang dilalui gak mudah. Namanya juga anak alam, sudah biasa, sudah sangat bersahabat dengan alam.
Sebelum mulai jalan (jalan kaki yaa, karena posisi danau kaco ini ada di tengah hutan adat yang masih alami, gak ada jalan raya di dalamnya), kami packing perlengkapan yang akan dibawa, setelah selesai aku duduk-duduk di depan sekretariat, memandang mesjid tua yang arsitekturnya unik, melihat anak-anak yang lagi berenang d sungai, menyaksikan deretan bukit-bukit menghijau yang mengelilingi desa ini. Lempur terkenal dengan Padi Payo nya. Padi kualitas nomor 1 di Kabupaten Kerinci. Pulen dan sedap. Harganyapun menjadi selangit. Lagi asik-asiknya memandang lukisan Tuhan aku disapa oleh seorang nenek yang ramah, dia tanya aku dari mana dan mau kemana. Ku jawab dari Sungai Penuh dan mau ke danau kaco. Si nenek dengan ramah menasehatiku supaya berhati-hati di perjalanan nanti, maklum medannya lumayan menantang, dan karena orang baru aku disarankan untuk tidak berenang setibanya di sana, cukuplah bermain-main air, mencelupkan kaki atau membasuh muka saja. Yes, aku mengiyakan nasehat si nenek dan berterimakasih atas perhatiannya.
| Mesjid di Lempur |
| asyiknya mandi di sungai |
Setelah menitip motor di rumah teman Fitri yang bernama Nina, kami memulai perjalanan. Desa Lempur tentram sekali, rumah-rumah terlihat asri dengan kebun-kebun sayur di sekelilingnya. Aku mendambakan punya rumah seperti itu, rumah panggung berpagar bambu, berpekarangan luas, di sebelahnya ada kebun sayur. Masih terus berjalan menuju ujung desa, di sana ada Tugu Depati Parbo. Departi Parbo adalah salah satu pahlawan Kerinci, ia gigih melawan Belanda pada masanya, dan tugu itu dibangun untuk menghormatinya. Kami beristirahat sebentar di dekat tugu sambil berkodak.
| Tugu Depati Parbo |
Dari tugu Depati Parbo perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai, kenapa ku bilang akan dimulai? karena dari sini kami mulai masuk hutan, Track nya hanya jalan setapak. Hutan yang kami masuki ini adalah wilayah hutan adat. Di dalam hutan adat tak boleh ada yang merusak ekosistemnya, hukum adat berlaku di sini. Aku selalu merasakan sensasi yang beda kalau masuk ke hutan adat ketimbang hutan-hutan biasa. Di dalam hutan adat suasananya lebih magis. Banyak larangan tak boleh ini tak boleh itu, yang seperti itu baik, bisa menjaga kelestarian hutan sih, tapi untuk orang-orang yang tak bisa menghormati kearifan lokal hal seperti itu tak dipedulikan, buktinya masih kudengar bunyi mesin pemotong kayu. Heran juga aku, ku tanyakan kepada bang Dafi, leader kami, kenapa di dalam hutan adat begini ada yang nebang pohon? Bang Dafi bilang itu yang nebang masyarakat juga, paling kecil-kecilan lah untuk kebutuhan mereka. Hmmm, speechless.
| nombak ikan |
1 jam perjalanan, kami masih di pertengahan nih, kata bang Dafi perjalanan kami sebentar lagi berakhir, Fitri yang sudah pernah ke sini hanya senyum-senyum saja, aku sadar lagi dikerjain, ya gak apa, memang untuk menyemangati teman seperjalanan kata-kata jitunya "sebentar lagi kok". Cuaca cerah mengiringi langkah kami hari itu. Aku sudah 3 hari kena flu, tapi sejak masuk ke hutan tadi kok plong ya rasanya. Alam memang berbaik hati memberi udara yang segar, paru-paruku bersih kembali dari polusi-polusi kota. Flu ku sembuh loh. Kami tiba di sungai dangkal. Ada lubuk di arah hilirnya, lumayan dalam, sedada orang dewasa, bang gendut yang memang membawa tombak pemancing langsung berenang ke lubuk untuk mencari ikan, kami istirahat sejenak menikmati bekal makan siang, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Air sungai sejuk sekali, aku minum langsung dari sungai dan mengisi botol-botol air kami yang mulai kosong. Tuhan, betul-betul indah ciptaanMu, lagi-lagi aku menghirup nafas yang dalam, sepertinya tak rela menyia-nyiakan udara segar yang gratis ini.
Jam 1 kami lanjut jalan lagi. bang gendut gak dapat ikan sama sekali, yahh, gagal menombak dia. Selepas menyebrang sungai kami masuk ke dalam hutan bambu. Aku merasa sedang ada di Jepang. Hutan bambunya keren sekali. Rumpun bambu yang kami lewati memang lebat, sehingga keadaan sekitar menjadi sedikit gelap karena cahaya matahari terhalang masuk. Sejenak seperti berada di dunia lain, horor, aku merinding, tapi tidak terlalu ku pikirkan, aku terus jalan mengikuti bang Dafi. Bersama Fitri kami saling bergandengan, sepertinya perasaan kami sama, sama-sama horor..
Keluar dari hutan bambu ketemu lagi dengan sungai, kali ini kami berada di atas tepian sungai yang tinggi. Mesti nyebrang. Tidak ada jembatan guys, kita mesti buat jembatan sendiri, dari apa? dari susunan batang-batang bambu. Ini seru, batang bambu yang bergoyang-goyang saat dilalui menaikkan adrenalin kami. Giliran bang gendut tentulah yang paling kami tunggu-tunggu. Was-was juga takut jembatannya roboh, untungnya tidak.
Langkah mulai lemah, jalur yang dilalui mulai menanjak-nanjak. Aku sudah semakin memelankan langkah. Hebatnya anak-anak SD itu masih bersemangat sekali, sepertinya mereka gak kenal capek. Aku disemangati oleh teman-teman, katanya danau kaco sudah dekat. Akupun kembali bersemangat. 2 setengah jam perjalanan, berpeluh-peluh, naik turun jalan setapak, menyebrang sungai, daaaan kami tiba. Luar biasa Indahnya. Danau kaco bak permata yang berkilau di tengah-tengah hutan. Warna birunya memang benar-benar biru. Oh bagaimana ya aku ingin menggambarkannya, silakan lihat fotonya.
| 2 anak SD itu sampai duluan ke danau, hebat! |
Gak nunggu apa-apa lagi, kami turun ke bawah, melepaskan alas kaki dan langsung main air. Airnya sejuk, bening, dan banyak ikan yang lalu lalang terlihat jelas. Warna danaunya yang begitu biru menyimpan cerita tersendiri. Alkisah, Raja Kerinci memiliki anak perempuan yang cantik jelita. Banyak lelaki yang datang kepada Raja untuk meminang, para lelaki itu datang dengan membawa perhiasan-perhiasan seperti emas dan berlian sebagai hadiah untuk putri Raja. Berlimpahlah emas dan berlian milik Raja. Saat Raja Kerinci kalah perang melawan Belanda, ia melarikan diri ke hutan, merasa kondisinya sangat tidak aman maka seluruh hartanya disimpan di dalam danau. Konon karena perhiasan-perhiasan Raja itulah warna danau biru berkilau-kilau, ada harta karun di dalamnya. Wah aku antusias sekali dengan harta karun, sayangnya cerita itu belum tentu kebenaranya. Pernah ada seseorang yang ingin membuktikan cerita itu, ia pun menyelam, tapi tak pernah sampai ke dasar danau, kemudian ia berusaha mengeringkan air danau, tapi di tengah usahanya itu ia pun meninggal dunia.
Ada larangan yang dipampang pada papan pengumuman di tepi danau: dilarang mandi dan memancing di danau ini. Oke, kami tidak mandi, tapi bang Dafi dan teman-temannya sudah siap dengan peralatan memancingnya, katanya ikan semah di sini banyak sekali, syukur-syukur bisa dapat induknya yang besar. Larangan yang ada ya hanya sekedar tulisan. Senyum aja.
Kami hanya semalam di sana, 2 tenda sudah tegak dan waktunya beristirahat. Bang Dafi bilang kalau bulan sedang purnama suasana di danau kaco akan lebih bagus lagi, karena pantulan cahayanya jatuh di permukaan danau, sayangnya malam itu tidak sedang purnama. Esok paginya kami bangun subuh-subuh sekali, mengirup lagi udara segar, mendengar kicauan burung-burung pagi, merasakan dinginnya embun pagi yang sejuk, dan sarapan roti bakar ditambah teh susu hangat. Indahnya dunia. Puas pagi itu kami bermain-main air, tapi tidak mandi, masih teringat nasehat si nenek di Lempur itu, pun memang ada larangannya.
| bird watching |
| airnya biru dan segar |
Bang Dafi mengajak kami mengitari danau, menuju ke air terjun kecil yang menumpahkan airnya ke danau. Sambil berkeliling danau kami mengamati burung-burung di sekitar menggunakan teropong. Kebetulan Fitri temanku ini salah satu anggota KBC (Kerinci BirdWatching Club). Ia tau beragam jenis burung, aku pun diajarinya bagaimana mengenali beberapa jenis burung. Belajar yang menyenangkan, langsung di alam.
Bang gendut yang dari tadi mancing cuma dapat ikan semah kecil, hihihihi, memang bukan rejeki kami dapat yang besar, padahal dari tadi induk semah lalu lalang di dekat pancingannya. Menu makan siang kami nasi goreng, sambal ikan goreng yang dibawa dari rumah dan ikan semah yang dibakar hasil pancingan. Kalau sedang di lapangan makan terasa nikmat, apapun itu. Selesai makan siang kami beres-beres.
Bagi setiap orang yang melakukan perjalanan, pulang adalah tujuan akhir. Begitu juga kami, harus pulang walaupun masih ingin berlama-lama di danau yang indah itu. Lain kali aku ingin ke sana lagi, menikmati keindahan danaunya kalau bisa saat purnama, bersama teman-teman lagi. Perjalanan keluar dari hutan terasa cepat, mungkin karena sudah hafal jalannya jadi terasa sebentar. Kami berterimakasih kepada bang Dafi dan kawan-kawan yang telah menemani kami ke danau kaco, mereka baik sekali. Sampai di Lempur kami menginap di rumah Nina, dan kami makan pakai beras Payo. Sungguh nikmat Tuhan begitu besar kurasakan berturut-turut. Esoknya aku dan Fitri pulang ke sungai penuh dengan hati yang riang.

