Begini, kami membahas tentang apa sih yang dimaksud dengan Ideologi? kali ini biar pemahaman kami seragam maka diambillah konsep Ideologi nya Roland Barthes. Belum kenal Roland Barthes? kenalan dulu http://id.wikipedia.org/wiki/Roland_Barthes
Menurut Barthes ada 3 hal yang saling berkaitan di dalam penjelasannya mengenai ideologi:
Konotasi -> Mitos -> Ideologi
Konotasi adalah makna yang tidak sebenarnya. Kalau mitos tentu semua sudah tahu kan. Sesuatu yang diyakini tetapi tidak diketahui kebenarannya. Bagaimana konotasi pada suatu saat bisa menjadi mitos, dan mitos pada suatu saat bisa menjadi ideologi, bisa kita temukan dalam contoh yang diberikan bu Joesana berikut ini:Teman-teman tahu timun? oke, coba sebutkan makna denotasi dari timun. Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya. Yap, timun adalah sayuran berwarna hijau berbentuk panjang dan lonjong, biasanya digunakan sebagai bahan lalapan, acar, kadang diserut dan dicampur ke sirup.
Kemudian adakah yang pernah mendengar tentang petuah ibu-ibu untuk anak gadisnya ini : "nak, jangan makan timun banyak-banyak, nanti becek loh, nanti kalau sudah punya suami ditinggalin baru tahu rasa". Itu adalah makna konotasi dari timun. Timun tidak lagi diartikan sebagai sayuran berwarna hijau berbentuk panjang dan lonjong, tetapi menjadi penyebab dari masalah kewanitaan. Ku rasa hampir kebanyakan anak perempuan tahu tentang nasihat ini. Apakah ini benar adanya? tidak bisa kita membenarkan sesuatu tanpa ada pembuktian ilmiahnya. Ini mitos. Sampai saat ini tidak ada pembuktian ilmiah yang membuktikan tentang mitos ini, jadi tidak bisa kita sebut benar.
Hingga suatu hari seorang perempuan yang sejak gadis memang menyukai timun dan sering dinasehati ibunya tentang mitos timun ditinggalkan oleh suaminya. Sebut saja namanya bunga. Suami bunga berselingkuh. Bunga menangis mengadu ke ibunya. Ibunya tentu saja mengungkit-ungkit tentang mitos timun yang dulu sering disampaikannya "tuh kan, ibu bilang juga apa, jangan sering-sering makan timun, suamimu pergi kan jadinya, makanya didengar kalau orang tua ngomong".
Dari makna konotasinya timun menjadi sebuah mitos yang ada di tengah masyarakat. Lantas tidakkah kita berpikir bahwa mitos "timun bisa bikin becek dan nanti ditinggal suami" itu sudah membentuk suatu ideologi? Jelas sekali bahwa mitos tersebut memunculkan ideologi Patriarkal. Ideologi Patriarkal adalah ideologi yang berpihak kepada laki-laki dan cenderung menyalahkan perempuan. Logikanya: bunga ditinggalkan oleh suaminya, kenapa malah bunga yang disalahkan karena ia suka makan timun? kenapa tidak suaminya yang disalahkan karena tega meninggalkan istri demi wanita lain? Ideologi patriarkal sudah terbentuk.
Dapatlah kita ambil suatu pemahaman bahwa yang disebut ideologi adalah saat nilai, pemikiran atau cara berfikir sudah mempengaruhi perilaku dan mengatur perilaku dalam waktu yang terus menerus. Contoh ideologi patriarkal dari cerita di atas munculnya kapan? saat mitos tentang "timun bisa bikin becek" tertanam di benak masyarakat. Sehingga saat ditinggal oleh suaminya perempuan lah yang menjadi penyebab dan bersalah, bukan laki-laki.
Kalau saja si bunga adalah perempuan modern yang cerdas dan seorang feminis, ia bisa saja menjawab pernyataan ibunya di atas,
ibu: "tuh kan, ibu bilang juga apa, jangan sering-sering makan timun, suamimu pergi kan jadinya, makanya didengar kalau orang tua ngomong"
Bunga: "tenang saja bu gak apa-apa dia meninggalkan saya. Saya tidak butuh laki-laki kok selama masih ada timun"..............................................................
Dan seisi kelas pun tertawa terbahak-bahak.
Kelas sejarah sastra hari ini berakhir dengan menyenangkan.
Terimakasih bu Joesana :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar