Judul buku : Penjaga Memori : Gardu di Perkotaan Jawa
Judul asli : Guardian of Memories : Gardu in Urban Java
Penulis : Abidin Kusno
Penerjemah : Chandra Utama
Penerbit : Ombak
Tahun : 2007
Tebal : xv + 154 halaman
Hampir seluruh
orang di negeri ini mengetahui apa itu gardu, seperti apa bentuknya dan dimana
biasanya gardu itu berada, tetapi
sedikit yang mengetahui tentang sejarah berdirinya gardu, apa yang
mendasari berdirinya gardu dan siapa yang pertama kali memiliki ide untuk
membangunnya. Bagi banyak orang hal ini tidaklah terlalu penting, tetapi hal
ini menjadi sangat penting manakala kita ingin mengetahui sejarah politik
bangsa Indonesia. Buku Penjaga Memori:
Gardu di Perkotaan Jawa yang ditulis oleh Abidin Kusno memberikan sumbangan
yang besar bagi khasanah ilmu pengetahuan bangsa kita dalam bidang sejarah.
Walaupun tema yang diangkat sederhana, yaitu sebuah gardu tetapi ternyata
banyak cerita dari pendirian gardu yang berkaitan erat dengan zaman berdirinya,
berbagai golongan masyarakat dan rezim kekuasaannya. Kita dapat mempelajari
kemajemukan identitas gardu yang mengarahkan kita keberbagai lapisan waktu dan
ruang yang saling bertaut.
Menurut Abidin Kusno dalam
pengantarnya, dalam menghadapi sejarah Indonesia yang penuh dengan pancaroba,
gardu beradaptasi, kadang-kadang menjadi momok yang menakutkan dari peristiwa
besar, kadang-kadang menghilang melalui persatuan dengan kehidupan sehari-hari.
Meskipun identitasnya berubah terus, ia tidak pernah dianggap mewakili budaya
luhur bangunan (seperti halnya pendopo dan gedung art deco), tapi ia menyaksikan dan ikut, dari pinggiran mungkin,
perjalanan panjang sejarah Indonesia, kadang-kadang sebagai bulan-bulanan
zaman. Mungkin karena itulah, gardu tidak pernah masuk sejarah karena ia masih
hidup dan mungkin akan hidup terus untuk supaya kita bisa melupakannya. Jadi
buku ini hanya ingin menunjukkan bahwa ada satu cerita yang bisa kita sampaikan
mengenai gardu yang akan membuat kita memikirkan keragaman dan keluasan dan juga
keterbatasan sejarah Indonesia.
Abidin Kusno tidak memulai
pembahasan gardu dari sejarah awal pendiriannya, tetapi ia mulai menceritakan tentang
gardu (posko) pada akhir zaman orde baru yang didominasi oleh partai PDIP
sebagai partai oposisi pemerintah pada masa itu dan menjadi bagian yang sangat
penting dalam menjaga keamanan di sekitar tempat tinggal pasca kerusuhan 1998
atas lengsernya pemerintahan orde baru. Ini menjadi menarik dan penulis menilai
bahwa Abidin Kusno memahami betul bahwa peran gardu menjadi terlihat dan sangat
penting pada masa itu dibanding peran gardu pada zaman-zaman sebelumnya dan
menjadi simbol perlawanan atas pemerintahan orde baru.
Megawati yang mengambil kesempatan
pasca jatuhnya orde baru dengan membangun posko-posko pengamanan di berbagai
tempat juga merepresentasikan ayahnya, yaitu Sukarno. Lukisan atau
gambar-gambar Sukarno hadir di posko-posko PDIP. Sukarno sangat lekat dengan
podium, karena di podium lah beliau menyampaikan pidato dan orasi dengan penuh
semangat. Posko menjadi momentum mengingat memori kolektif publik akan masa
lalu. Melalui gambar Sukarno lengkap dengan podiumnya, seolah membangkitkan
kenangan sejarah tentang seorang pemimpin besar yang dekat dan dipuja rakyat.
Dengan cara itu masyarakat didekatkan kembali dengan figur historis Sukarno
dengan berbagai ide dan cita-cita luhurnya sehingga masyarakat akan
menyambungkannya dengan kondisi objektif yang dialami oleh Megawati. Jika
Sukarno berdiri di podium dan langsung berbicara kepada rakyat, Megawati bisa
hadir lewat wakil-wakilnya, dalam bentuk posko yang ada di seluruh pojokan
jalan. Dengan posko-posko, PDIP menawarkan suatu bentuk nuansa ketertiban dan
perlindungan bagi warga kota pasca kota yang porak-poranda oleh pembakaran,
penjarahan, dan pembunuhan pada kerusuhan Mei 1998.
Abidin juga menggambarkan dengan
sangat jelas bagaimana masyarakat Tionghoa yang banyak memiliki pengalaman
kekerasan mengadirkan gardu sebagai benteng pertahanan mereka. Dimulai sebelum
zaman kolonial hingga kerusuhan Mei 1998 di akhir zaman orde baru gardu
digunakan etnis Tionghoa untuk patroli. Kemungkinan strategi-strategi survival
mereka memberi sumbangsih terhadap berkembangnya gardu-gardu di Indonesia.
Tidaklah terlalu jauh bila kita mengatakan bahwa mungkin tradisi-tradisi etnis
Tionghoa mempengaruhi bentuk dan praktek gardu di Indonesia, sebab gerbang,
tembok, dan penjaga merupakan tradisi arsitektur Cina.
Pada
zaman orde baru gardu disebut pos hansip (pertahanan sipil). Istilah posko juga
dipakai selama periode Soeharto, namun ia merujuk pada pos komando yang dibangun
secara temporer oleh unit-unit militer saat mereka bertugas di wilayah-wilayah
yang rawan dan belum terkendali. Memasuki 1980-an, tentara Soeharto telah
ditugaskan untuk melakukan transformasi posko militer berbasis desa menjadi
bentuk pos hansip berbasis kota. Pos hansip didirikan di tempat-tempat
strategis sebagai bagian dari komunitas berbasis kota. Agar berfungsi secara
efektif sebagai aparat negara, pos hansip harus menyatu dengan nafas kehidupan
sehari-hari komunitas tersebut, yaitu dengan mengadakan aktivitas ronda malam
dan memberi ruang sosialisasi serta memantau kehidupan publik. Kehadiran gardu/pos
hansip pada masa itu tidak disadari masyarakat bahwa itu suatu bentuk
pengawasan terhadap masyarakat.
Mengenai
sejarah pendirian gardu Abidin Kusno mengumpulkan data-data dengan sangat
cermat walaupun penjelasannya tidak berurutan. Sejarah keberadaan gardu sudah
ada sejak zaman pra-kolonial. Gardu bisa dijumpai di pintu masuk kediaman
bangsawan dan orang-orang terkemuka yang tujuannya untuk menunjukkan kuasa raja
sebagai pusat kosmos, bukan untuk memberi batas teritorial maupun untuk
pertahanan dan pengusiran. Pada zaman kolonial terjadi pergeseran makna ruang
pada gardu. Gardu dibangun berdasarkan tatanan-tatanan yang dicanangkan
Daendels Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari Perancis untuk berkomunikasi,
memantau dan menghubungkan wilayah-wilayah keresidenan. Selain itu gardu-gardu
yang berada di sepanjang poros jalan dari pantai barat Anyer sampai pantai
timur Banyuwangi digunakan oleh para musafir untuk beristirahat dan mengganti
kuda-kuda mereka.
Di
masa pendudukan Jepang, gardu mulai diakui sebagai tradisi dan warisan kultural
Indonesia. Jepang membentuk Keibodan yang merupakan organisasi keamanan
lingkungan dimana para anggotanya merupakan warga lingkungan itu sendiri.
Mereka juga menggunakan gardu untuk menyelaraskan pengawasan rumah tangga. Gardu
dapat dipandang sebagai simbol kerja sama antara negara dan lingkungan. Gardu
tidak hanya sekedar representasi keamanan kampung, namun juga merangsang
berkembangnya semangat gotong royong antara negara dan masyarakat.
Menyusul
kalahnya Pemerintahan Militer Jepang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia,
banyak daerah terperosok ke dalam periode pertumpahan darah dan kekerasan yang
merenggut ribuan nyawa. Abidin banyak menceritakan semangat pemuda-pemuda pada
masa itu yang menganggap diri mereka sebagai penjaga-penjaga bangsa. Masa
revolusi benar-benar ditandai dengan patroli keamanan dan ronda kampung di kota
dan di desa. Pos-pos komando kemudian dipakai sebagai tempat pemeriksaan
sekaligus merupakan tapal-tapal batas wilayah negara Indonesia. Gardu dipresentasikan
sebagai suatu tradisi. Secara tidak sadar gardu telah masuk dalam alam bawah
sadar tentara republik dan masyarakat. Ia telah dianggap sebagai tradisi yang
melekat dalam benak warga Indonesia.
Pengalaman
kolektif tentang penjagaan lingkungan dan negara telah ditansmisikan dari satu
generasi ke generasi yang lain dan menggiringnya ke dalam era pascakolonial.
Pemukulan kentongan pada saat ronda malam berlanjut hingga hari ini. Gardu,
ronda, dan kode-kode kentongan telah diwariskan dari periode waktu yang lain
dan sudah menjadi bagian dari struktur kehidupan sehari-hari, baik di kota
maupun di desa di berbagai tempat di Indonesia. Bagi warga Tionghoa, gardu
dapat menjadi pemicu ingatan-ingatan traumatis tentang kerusuhan. Bagi kelompok
lain, ia terus melestarikan budaya status. Bagi kebanyakan laki-laki Jawa,
gardu masih menjadi tempat nyaman untuk minum-minum, ngobrol, dan melihat para
perempuan yang melintasi jalan.
Bagi
banyak kalangan perempuan, gardu adalah dunia pria yang secara praktis dan
secara historis didasarkan pada penyingkiran kaum perempuan dari ranahnya. Bagi
warga masyarakat yang lain, gardu membangkitkan kenangan tentang militerisme
perkotaan, politik populis jalanan ala Sukarno, dan ancaman-ancaman komunis.
Gardu, dengan demikian, mengintegrasikan ingatan-ingatan yang berbeda-beda ke
dalam kesadaran kota. Akan tetapi, seperti banyak bentuk perkotaan lain di
dunia kontemporer, gardu Indonesia dapat juga dipandang sebagai bagian dari
fenomena komunitas yang tergerbang (gated
communities), di mana bercampur di dalamnya: keamanan pribadi, prestise
kelas menengah, pengemasan masyarakat, dan kekuasaan bisnis perumahan.
Perjalanan historis gardu dari masa ke masa menjadikan buku
ini sangat menarik dibaca sebagai ragam bacaan yang menawarkan sudut pandang
yang lengkap terkait keberadaan gardu. Dengan gaya penulisan yang lugas, Abidin
berhasil memaparkan bahwa gardu masih menjadi instrumental dalam suatu pertunjukan
simbolik dari kekuasaan negara, meskipun penampilannya justru menjadi pertanda
lemahnya otoritas negara. Menurutnya gardu merupakan bentuk produk fisik budaya
dan ritual sosial politik. Hal ini juga yang menjadikan ruang dengan beragam
namanya tetap saja menggenggam kuasanya.
Buku yang tidak tebal dan berukuran kecil ini memang sangat
baik jika dijadikan buku saku. Kelebihan lain buku ini adalah adanya visualisasi
gambar sehingga pembaca semakin mudah memahami bentuk gardu pada masing-masing
zamannya. Secara bahasa buku ini mudah untuk dimengerti, walaupun sarat dengan
analisa pembaca umum masih dapat menikmati buku ini, selain para akademisi baik
sejarawan, arsitek, perencana kota, dan pemerhati masalah perkotaan. Adapun
kelemahan dari buku ini adalah tutur berceritanya tidak berurutan merangkai
sejarah gardu sejak awal, Abidin melompat-lompat dari satu zaman ke zaman yang
lain. Dapat saya simpulkan bahwa membaca tulisan Abidin sama halnya dengan membaca
sejarah rezim-rezim kekuasaan yang pernah ada di Indonesia, yang membuat
menarik adalah bagaimana gardu yang merupakan bangunan sederhana memiliki peran
penting masing-masing pada rezim-rezim yang berkuasa tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar