Kamis, 24 Oktober 2013

GARDU: Bangunan sederhana yang penuh makna

Ini pertama kalinya saya mereview buku, dan ternyata mereview buku adalah kegiatan yang menyenangkan. Berawal dari tugas mata kuliah teori-teori kritis, saya sangat menikmati proses mereview buku ini. Masih banyak kekurangan tapi saya PD saja mempublish di blog ini, semoga bermanfaat bagi yang membaca.
 

Judul buku     : Penjaga Memori : Gardu di Perkotaan Jawa
Judul asli        : Guardian of Memories : Gardu in Urban Java
Penulis           : Abidin Kusno
Penerjemah    : Chandra Utama
Penerbit         : Ombak
Tahun            : 2007
Tebal             : xv + 154 halaman

             Hampir seluruh orang di negeri ini mengetahui apa itu gardu, seperti apa bentuknya dan dimana biasanya gardu itu berada, tetapi  sedikit yang mengetahui tentang sejarah berdirinya gardu, apa yang mendasari berdirinya gardu dan siapa yang pertama kali memiliki ide untuk membangunnya. Bagi banyak orang hal ini tidaklah terlalu penting, tetapi hal ini menjadi sangat penting manakala kita ingin mengetahui sejarah politik bangsa Indonesia. Buku Penjaga Memori: Gardu di Perkotaan Jawa yang ditulis oleh Abidin Kusno memberikan sumbangan yang besar bagi khasanah ilmu pengetahuan bangsa kita dalam bidang sejarah. Walaupun tema yang diangkat sederhana, yaitu sebuah gardu tetapi ternyata banyak cerita dari pendirian gardu yang berkaitan erat dengan zaman berdirinya, berbagai golongan masyarakat dan rezim kekuasaannya. Kita dapat mempelajari kemajemukan identitas gardu yang mengarahkan kita keberbagai lapisan waktu dan ruang yang saling bertaut.
            Menurut Abidin Kusno dalam pengantarnya, dalam menghadapi sejarah Indonesia yang penuh dengan pancaroba, gardu beradaptasi, kadang-kadang menjadi momok yang menakutkan dari peristiwa besar, kadang-kadang menghilang melalui persatuan dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun identitasnya berubah terus, ia tidak pernah dianggap mewakili budaya luhur bangunan (seperti halnya pendopo dan gedung art deco), tapi ia menyaksikan dan ikut, dari pinggiran mungkin, perjalanan panjang sejarah Indonesia, kadang-kadang sebagai bulan-bulanan zaman. Mungkin karena itulah, gardu tidak pernah masuk sejarah karena ia masih hidup dan mungkin akan hidup terus untuk supaya kita bisa melupakannya. Jadi buku ini hanya ingin menunjukkan bahwa ada satu cerita yang bisa kita sampaikan mengenai gardu yang akan membuat kita memikirkan keragaman dan keluasan dan juga keterbatasan sejarah Indonesia.
            Abidin Kusno tidak memulai pembahasan gardu dari sejarah awal pendiriannya, tetapi ia mulai menceritakan tentang gardu (posko) pada akhir zaman orde baru yang didominasi oleh partai PDIP sebagai partai oposisi pemerintah pada masa itu dan menjadi bagian yang sangat penting dalam menjaga keamanan di sekitar tempat tinggal pasca kerusuhan 1998 atas lengsernya pemerintahan orde baru. Ini menjadi menarik dan penulis menilai bahwa Abidin Kusno memahami betul bahwa peran gardu menjadi terlihat dan sangat penting pada masa itu dibanding peran gardu pada zaman-zaman sebelumnya dan menjadi simbol perlawanan atas pemerintahan orde baru.
            Megawati yang mengambil kesempatan pasca jatuhnya orde baru dengan membangun posko-posko pengamanan di berbagai tempat juga merepresentasikan ayahnya, yaitu Sukarno. Lukisan atau gambar-gambar Sukarno hadir di posko-posko PDIP. Sukarno sangat lekat dengan podium, karena di podium lah beliau menyampaikan pidato dan orasi dengan penuh semangat. Posko menjadi momentum mengingat memori kolektif publik akan masa lalu. Melalui gambar Sukarno lengkap dengan podiumnya, seolah membangkitkan kenangan sejarah tentang seorang pemimpin besar yang dekat dan dipuja rakyat. Dengan cara itu masyarakat didekatkan kembali dengan figur historis Sukarno dengan berbagai ide dan cita-cita luhurnya sehingga masyarakat akan menyambungkannya dengan kondisi objektif yang dialami oleh Megawati. Jika Sukarno berdiri di podium dan langsung berbicara kepada rakyat, Megawati bisa hadir lewat wakil-wakilnya, dalam bentuk posko yang ada di seluruh pojokan jalan. Dengan posko-posko, PDIP menawarkan suatu bentuk nuansa ketertiban dan perlindungan bagi warga kota pasca kota yang porak-poranda oleh pembakaran, penjarahan, dan pembunuhan pada kerusuhan Mei 1998.
            Abidin juga menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana masyarakat Tionghoa yang banyak memiliki pengalaman kekerasan mengadirkan gardu sebagai benteng pertahanan mereka. Dimulai sebelum zaman kolonial hingga kerusuhan Mei 1998 di akhir zaman orde baru gardu digunakan etnis Tionghoa untuk patroli. Kemungkinan strategi-strategi survival mereka memberi sumbangsih terhadap berkembangnya gardu-gardu di Indonesia. Tidaklah terlalu jauh bila kita mengatakan bahwa mungkin tradisi-tradisi etnis Tionghoa mempengaruhi bentuk dan praktek gardu di Indonesia, sebab gerbang, tembok, dan penjaga merupakan tradisi arsitektur Cina.
Pada zaman orde baru gardu disebut pos hansip (pertahanan sipil). Istilah posko juga dipakai selama periode Soeharto, namun ia merujuk pada pos komando yang dibangun secara temporer oleh unit-unit militer saat mereka bertugas di wilayah-wilayah yang rawan dan belum terkendali. Memasuki 1980-an, tentara Soeharto telah ditugaskan untuk melakukan transformasi posko militer berbasis desa menjadi bentuk pos hansip berbasis kota. Pos hansip didirikan di tempat-tempat strategis sebagai bagian dari komunitas berbasis kota. Agar berfungsi secara efektif sebagai aparat negara, pos hansip harus menyatu dengan nafas kehidupan sehari-hari komunitas tersebut, yaitu dengan mengadakan aktivitas ronda malam dan memberi ruang sosialisasi serta memantau kehidupan publik. Kehadiran gardu/pos hansip pada masa itu tidak disadari masyarakat bahwa itu suatu bentuk pengawasan terhadap masyarakat.
Mengenai sejarah pendirian gardu Abidin Kusno mengumpulkan data-data dengan sangat cermat walaupun penjelasannya tidak berurutan. Sejarah keberadaan gardu sudah ada sejak zaman pra-kolonial. Gardu bisa dijumpai di pintu masuk kediaman bangsawan dan orang-orang terkemuka yang tujuannya untuk menunjukkan kuasa raja sebagai pusat kosmos, bukan untuk memberi batas teritorial maupun untuk pertahanan dan pengusiran. Pada zaman kolonial terjadi pergeseran makna ruang pada gardu. Gardu dibangun berdasarkan tatanan-tatanan yang dicanangkan Daendels Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari Perancis untuk berkomunikasi, memantau dan menghubungkan wilayah-wilayah keresidenan. Selain itu gardu-gardu yang berada di sepanjang poros jalan dari pantai barat Anyer sampai pantai timur Banyuwangi digunakan oleh para musafir untuk beristirahat dan mengganti kuda-kuda mereka.
Di masa pendudukan Jepang, gardu mulai diakui sebagai tradisi dan warisan kultural Indonesia. Jepang membentuk Keibodan yang merupakan organisasi keamanan lingkungan dimana para anggotanya merupakan warga lingkungan itu sendiri. Mereka juga menggunakan gardu untuk menyelaraskan pengawasan rumah tangga. Gardu dapat dipandang sebagai simbol kerja sama antara negara dan lingkungan. Gardu tidak hanya sekedar representasi keamanan kampung, namun juga merangsang berkembangnya semangat gotong royong antara negara dan masyarakat. 
Menyusul kalahnya Pemerintahan Militer Jepang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, banyak daerah terperosok ke dalam periode pertumpahan darah dan kekerasan yang merenggut ribuan nyawa. Abidin banyak menceritakan semangat pemuda-pemuda pada masa itu yang menganggap diri mereka sebagai penjaga-penjaga bangsa. Masa revolusi benar-benar ditandai dengan patroli keamanan dan ronda kampung di kota dan di desa. Pos-pos komando kemudian dipakai sebagai tempat pemeriksaan sekaligus merupakan tapal-tapal batas wilayah negara Indonesia. Gardu dipresentasikan sebagai suatu tradisi. Secara tidak sadar gardu telah masuk dalam alam bawah sadar tentara republik dan masyarakat. Ia telah dianggap sebagai tradisi yang melekat dalam benak warga Indonesia.
Pengalaman kolektif tentang penjagaan lingkungan dan negara telah ditansmisikan dari satu generasi ke generasi yang lain dan menggiringnya ke dalam era pascakolonial. Pemukulan kentongan pada saat ronda malam berlanjut hingga hari ini. Gardu, ronda, dan kode-kode kentongan telah diwariskan dari periode waktu yang lain dan sudah menjadi bagian dari struktur kehidupan sehari-hari, baik di kota maupun di desa di berbagai tempat di Indonesia. Bagi warga Tionghoa, gardu dapat menjadi pemicu ingatan-ingatan traumatis tentang kerusuhan. Bagi kelompok lain, ia terus melestarikan budaya status. Bagi kebanyakan laki-laki Jawa, gardu masih menjadi tempat nyaman untuk minum-minum, ngobrol, dan melihat para perempuan yang melintasi jalan.
Bagi banyak kalangan perempuan, gardu adalah dunia pria yang secara praktis dan secara historis didasarkan pada penyingkiran kaum perempuan dari ranahnya. Bagi warga masyarakat yang lain, gardu membangkitkan kenangan tentang militerisme perkotaan, politik populis jalanan ala Sukarno, dan ancaman-ancaman komunis. Gardu, dengan demikian, mengintegrasikan ingatan-ingatan yang berbeda-beda ke dalam kesadaran kota. Akan tetapi, seperti banyak bentuk perkotaan lain di dunia kontemporer, gardu Indonesia dapat juga dipandang sebagai bagian dari fenomena komunitas yang tergerbang (gated communities), di mana bercampur di dalamnya: keamanan pribadi, prestise kelas menengah, pengemasan masyarakat, dan kekuasaan bisnis perumahan.    
Perjalanan historis gardu dari masa ke masa menjadikan buku ini sangat menarik dibaca sebagai ragam bacaan yang menawarkan sudut pandang yang lengkap terkait keberadaan gardu. Dengan gaya penulisan yang lugas, Abidin berhasil memaparkan bahwa gardu masih menjadi instrumental dalam suatu pertunjukan simbolik dari kekuasaan negara, meskipun penampilannya justru menjadi pertanda lemahnya otoritas negara. Menurutnya gardu merupakan bentuk produk fisik budaya dan ritual sosial politik. Hal ini juga yang menjadikan ruang dengan beragam namanya tetap saja menggenggam kuasanya.
Buku yang tidak tebal dan berukuran kecil ini memang sangat baik jika dijadikan buku saku. Kelebihan lain buku ini adalah adanya visualisasi gambar sehingga pembaca semakin mudah memahami bentuk gardu pada masing-masing zamannya. Secara bahasa buku ini mudah untuk dimengerti, walaupun sarat dengan analisa pembaca umum masih dapat menikmati buku ini, selain para akademisi baik sejarawan, arsitek, perencana kota, dan pemerhati masalah perkotaan. Adapun kelemahan dari buku ini adalah tutur berceritanya tidak berurutan merangkai sejarah gardu sejak awal, Abidin melompat-lompat dari satu zaman ke zaman yang lain. Dapat saya simpulkan bahwa membaca tulisan Abidin sama halnya dengan membaca sejarah rezim-rezim kekuasaan yang pernah ada di Indonesia, yang membuat menarik adalah bagaimana gardu yang merupakan bangunan sederhana memiliki peran penting masing-masing pada rezim-rezim yang berkuasa tersebut. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar