Ini postingan yang terlambat, seharusnya ku posting segera setelah menontonnya. Ya, kali ini kita ngobrol tentang film, judulnya Le Grand Voyage, film Perancis. Berkat pengalaman belajar bahasa Perancis sewaktu SMA aku langsung tahu artinya: Perjalanan Besar. Ini film yang dirilis pada tahun 2004, tentang perjalanan haji seorang lelaki imigran bersama anaknya menggunakan mobil dari Perancis ke Mekkah. Bayangkan, 5000km lebih perjalanan darat mereka lalui untuk tujuan berhaji. Padahal mereka punya uang yang cukup untuk bisa berhaji menggunakan pesawat terbang. Apa sih tujuannya? Kenapa ingin bersusah-susah? dan bagaimana makna berhaji bagi mereka? mari kuceritakan...
Pemutaran film beserta diskusi ini ditaja oleh Forum Muda Paramadina, Ciputat School dan LSI Community. Bagi yang belum tahu tentang mereka silakan googling sendiri ya teman-teman. Berhubung diadakan 4 hari sebelum hari raya Idul Adha, rasanya pas kalau film yang akan didiskusikan ya film Le Grand Voyage ini, tentang perjalanan haji. Saya sungguh mengapresiasi panitia yang on time memulai acara pukul 16.00 walaupun saat itu baru sedikit peserta yang hadir. Ada bapak-bapak yang rupanya beliau adalah moderator diskusi yang bilang gini "mari kita mulai acara ini, jangan kita ikuti domba-domba yang terlambat itu, biarkan mereka yang mengikuti kita" hahaha, lelucon sederhana yang mengena sekali. Narasumber untuk sesi diskusi adalah Pak Dadi Darmadi, seorang Antropolog yang sedang menyelesaikan program doktornya di Harvard University. Film pun diputar, diawali dengan adegan seorang pemuda tampan lagi naik sepeda di jalan raya yang sepi. Pemandangannya indah, ia menuju ke tempat abangnya yang sedang memperbaiki mobil. Mobil tua berwarna biru muda. Pintu sebelah kanannya rusak sehingga harus diganti, tetapi warnanya beda, warna oren. Kontras dengan warna mobil yang biru. Sampai disitu sudah menarik -menurutku.
Si pemuda tampan bernama Reda. Cerita punya cerita rupanya abangnya Reda memperbaiki mobil karena mobil itu akan dipakai mengantarkan ayah mereka berhaji. Ayah mereka seorang imigran Arab yang sudah menetap di Perancis selama 30 tahun, merupakan seorang bapak yang kaku, taat beribadah dan masih sangat konservatif dalam mendidik anaknya. Sedangkan anak-anaknya terutama Reda adalah tipikal anak muda Perancis yang modern dan kurang sekali pemahaman agamanya. Ia tumbuh menjadi anak muda yang moderat. Awalnya perjalanan sang Ayah akan ditemani oleh abang Reda, tetapi karena tersangkut kasus kriminal, abang Reda tidak boleh berpergian. Jadilah Reda yang diharuskan oleh sang Ayah untuk menemani sampai ke Mekkah. Reda tidak ikhlas, tapi dia tidak bisa menolak perrmintaan ayahnya.
Di sepanjang perjalanan komunikasi tidak berjalan baik, mereka berdua (Reda dan ayahnya) sangat kaku. Aku memetik nasihat dari perjalanan mereka: komunikasi itu penting, kita tidak akan saling mengerti satu sama lain tanpa berkomunikasi, kan. Karena komunikasi yang tidak baik tersebut banyak hal-hal ganjil dan tidak mengenakkan terjadi, seperti salah jalan, bertemu dengan orang-orang aneh, dan merasa dicurangi oleh orang lain. Ada kutipan menarik dari percakapan mereka, saat itu mereka sedang berada di pertigaan jalan dan tidak tahu harus ke arah kiri atau kanan. Reda memperhatikan peta tetapi jalan yang dimaksud tidak ada di peta, lantas ia bertanya kepada ayahnya: "kemana kita papa?" ayahnya menjawab "ke sana" (sambil menunjuk ke arah kiri). Reda yang merasa tidak yakin menjadi gusar dan bilang "Ah sudahlah papa saja tidak tahu baca dan tulis". Ayahnya diam saja, tapi tak lama setelah itu ucapan Reda dibalas oleh ayahnya pada suatu peristiwa: saat itu Reda sedang mabuk dan uang mereka dicuri, ayahnya marah sekali dan bilang "kau pandai baca dan tulis tetapi tak bisa memahami kehidupan". Reda pun sadar akan kesalahannya.
Jadi ayah Reda ini sebenarnya ayah yang tidak menyenangkan, kalau menurutku. Ia kaku sekali, tidak pernah mengungkapkan apa sih yang sebenarnya dia inginkan kepada Reda anaknya. Reda harus sering berfikir apa sih mau ayahnya itu, kadang Reda sampai terlihat stress saat dia tak bisa mengerti apa maksud ayahnya sebenarnya.
Saat akan tiba di Mekkah Reda bertanya kepada ayahnya "kenapa papa pergi berhaji memakai mobil? kenapa tidak dengan pesawat saja?" ayahnya menjawab memakai analogi seperti ini " air laut menguap ketika mereka naik ke awan, dan ketika mereka menguap mereka akan menjadi segar. Itulah mengapa lebih baik bagimu untuk pergi haji dengan berjalan kaki daripada naik kuda, lebih baik naik kuda dibandingkan dengan naik mobil, lebih baik dengan mobil dibandingkan dengan perahu, dan lebih baik dengan perahu dibandingkan dengan pesawat". Ucapan ayahnya menjadi simpulan dari film ini. Jika kita telaah, maknanya sangat luar biasa. Perjalanan haji diibaratkan seperti proses menguapnya air laut ke awan. Dalam proses itu kadar garam yang ada pada air laut menghilang, sama dengan penyucian diri, dan saat ia sampai ke awan dan diturunkan lagi menjadi hujan maka air yang asin tadi sudah menjadi air yang segar kembali, sama seperti diri kita yang kembali fitrah. Proses menentukan hasil. Proses menjadi penting di dalam nasehat si ayah.
Nah mari kita keluar dari fiksi dan melihat realita yang terjadi di sekeliling kita. Banyak sekali orang-orang yang pergi berhaji. Di Indonesia saja bila kamu ingin pergi haji dan mendaftar hari ini, maka 20 tahun lagi baru bisa berangkat. Kenapa? karena daftar tunggu yang sudah penuh sampai 20 tahun ke depan. Luar biasa sekali kan antusias orang-orang untuk pergi berhaji. Bagaimana mereka memaknai perjalanan haji tersebut? Apa hanya karena haji adalah rukun Islam yang ke-5? Lantas setelah itu apa? Apakah proses berhaji yang sudah dilalui benar-benar sudah menjadikan kita pribadi yang kembali fitrah?
Menurut pak Dadi Darmadi pandanglah perjalanan haji sebagai Rihlah dan Ziyara(Ziarah). Rihlah adalah perjalanan untuk belajar. Kita mesti sadar bahwa kita sedang belajar dan akan mengimplementasikan apa yang kita pelajari baik itu tentang keikhlasan, kesabaran, maupun ketakwaan di dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Ziyara (Ziarah) adalah seperti mengunjungi makam-makam para Nabi dan tempat-tempat bersejarah. Pergi berziarah tidak boleh bersenang-senang, harus bertolak dari rasa yang penuh haru dan kerinduan (movement to unhappiness to happiness). Pahamilah setiap apa yang dijalankan. Pergi berhaji haruslah sudah mampu. Tidak hanya mampu dari segi harta tapi sudah mampu dan siap lahir batin untuk melalui proses penyucian yang terkadang dalam proses tersebut banyak ditemui hambatan dan rintangan.
Oh iya ending film Le Grand Voyage bukanlah happy ending. Ayah Reda meninggal saat menjalankan ibadah haji, mobil mereka dijual di Mekkah dan Reda kembali sendirian ke Perancis. Kita tidak pernah tau apakah Reda mengambil hal-hal baik yang ia pelajari selama perjalanan dari Perancis ke Mekkah? Apakah ia tetap menjadi pemuda modern yang jauh dari ibadah? tidak ada yang tahu. Film ini menggantung, tetapi cukuplah bagiku menikmati perjalanan ayah-anak yang luar biasa ini. Bagi yang masih penasaran silahkan ditonton langsung filmnya. Memang sulit dapat DVD nya, mungkin kalian bisa tonton di Youtube. Sekian.

halo rein....nice posting...makasih ya udh berbagi lewat tulisanmu yg indah...aku suka tulisanmu....keep writing and keep inspiring
BalasHapus