Senin, 23 Maret 2015

Ke Gunung Pulosari, Pandeglang - Banten

Hai. Sudah setahun tak menulis. Dalam setahun ini banyak yg terjadi. Ada suka, ada duka. Tapi saya cuma mau berbagi sukanya saja ya. Dimulai dari postingan ini, saya mau cerita kemarin tanggal 20 Maret saya ke Pandeglang, naik gunung Pulosari. Gak terkenal ya? Iya, memang gunung ini kurang populer di kalangan pendaki luar Jabodetabek. Letaknya di Banten, di Kabupaten Pandeglang tepatnya. Dari jakarta kira-kira 4 sampai 5 jam-an lah naik kendaraan. Saya pergi bareng teman-teman AVTECH. Yang menyenangkan adalah kami ke sana pakai motor. Touring gitu ceritanya. Pegal sih, tapi sumpah ini seru banget.

Berangkat dari kantor AVTECH di Cipayung, Jakarta Timur jam 11 malam. Terlalu malam memang, karena kami menunggu hujan reda dulu. Dari habis maghrib hujan deras plus angin kencang dan petirnya luar biasa. Kami ber-enam, ada saya, Uli, suaminya Uli Bang Jejen, Iki, Deni, dan Kang Kur. Diawali dengan doa kami pun berangkat. Saya dibonceng Deni. Saya nggak pernah naik motor malam-malam lewat jalanan ibukota. Ini menyenangkan. Jakarta malam itu macet. Kepikiran juga mau pada kemana sih ini orang-orang? Dan baru ngeh rupanya Sabtu itu tanggal merah, Nyepi. Nasib nggak punya kalender ya gini. Nggak tau ada tanggal merah :D

2 jam kemudian tiba di Cengkareng. Di sana sudah menunggu teman-temannya Bang Jejen. Rame banget, ada sekitar 10 motor. Wuihh.. ini beneran touring rame-rame. Kami lanjut ke Pandeglang. Lewat Tangerang, lewat Lebak, lewat Rangkas Bitung, dan akhirnya Pandeglang. Yeay. Kami tiba di Pandeglang sudah pukul 5 subuh, istirahat sebentar di rumah neneknya Ari untuk menitipkan motor. Baik banget keluarganya Ari. Kami dipersilakan istirahat, dimasakin pula.

Pukul 9 kami nyater  2 angkot dari rumah neneknya Ari menuju starting point pendakian Gunung Pulosari. Patungan, satu orang bayar Rp. 7500. Sekitar sejam di jalan. Sepanjang jalan itu kerjanya ketawa terus. Pada lucu-lucuan. Pipi saya sampai keram, perut pun sakit karena kebanyakan ketawa. Pukul 10 tibalah kami di gerbang selamat datang.

Rute pendakian Gunung Pulosari: Gerbang selamat datang – Curug Putri – Kawah – Puncak. Masing-masing perjalanan memakan waktu 1 sampai 1,5 jam, jadi kalau diakumulasikan dari gerbang ke puncak kira-kira 3 sampai 5 jam gitu. Sebentar? Iya, ketinggian Gunung Pulosari 1346 mdpl. Rendah. Tapi jalurnya lumayan berat. Tanjakannya terjal, dengkul ketemu kepala.

Dari gerbang selamat datang ke Curug Putri jalurnya masih landai berbatu. Masih enak. Kiri kanan kebun kopi warga. Tiba di Curug Putri kita mesti registrasi di pos dan beli karcis masuk Rp. 5000. Jangan kaget kalau kalian cuma dapat selembar karcis untuk bersama. Kata Bapak-Bapak yang jaga pos sih perwakilan saja, tapi itukan.. ah sudahlah. Mungkin penghidupannya cuma dari situ.

Di curug (air terjun) rame banget orang-orang yang mandi dan foto-foto. Kami cuma foto-foto saja dan setelah itu lanjut jalan menuju pos Kawah. Nah, dari sini jalurnya sudah mulai terjal dan licin. Harus ekstra hati-hati dan perhatikan langkah supaya nggak tersandung dan terpeleset. Pukul 1 siang tiba di pos Kawah.

Biasanya para pendaki akan mendirikan tenda di pos Kawah. Kami juga begitu. Saya kaget sekali saat tiba di pos Kawah. Di sana ada pondok-pondok yang jual makanan dan minuman, juga ada toilet umum. Baru kali ini lah pokoknya saya mengunjungi gunung dengan fasilitas seperti itu. Baru tiba saja kami sudah jajan es kantong, 3 lima ribu, yang jual adik-adik yang nenteng termos es. Ramainya jangan ditanya. Sudah pada dirikan tenda masing-masing di tempat strategis. Syukurnya kami juga dapat tempat nge-camp yang nyaman. Dirikan tenda, masak-masak, makan, lalu kami tidur siang. Haha. Kenapa tidur siang? Karena sudah capek dan supaya besok pagi-pagi sekali bisa bangun, muncak dan lihat sunrise. Oh iya menu kami siang itu enak. Sup baso campur sawi ala Uli.
Pukul 5, bangun dari tidur siang yang lelap di tenda, saya ke toilet umum. Ngantri guys, lama. Toiletnya ada 2 yang gandengan, dan satu lagi terpisah sendiri. Ada penjaganya dan bayar Rp.3000 setiap pemakaian. Ada deh setengah jam saya ngantri. Sore itu saya berkeliling sebentar di area camping ground. Ramai.

Balik ke tenda, Bang Jejen lagi masak baso dan otak-otak goreng. Menu di gunung enak-enak. Saya di kosan malah nggak pernah masak baso goreng. Haha. Kata Bang Jejen di trip selanjutnya bawa cooler box, diisi sama ikan atau ayam, jadi bisa bakar-bakaran di atas. Niat banget nggak sih.

Malamnya kami jalan-jalan dong, mutar-mutar di sekitar pos Kawah. Bau belerang menyengat, mesti pakai masker ya guys kalau nggak tahan dengan baunya.

Kami nggak bergadang, kan mau bangun pagi. Tidur malamnya enak. Udara di Pulosari nggak terlalu dingin. Pagi Minggunya cuaca berkabut. Oh no! Nggak bisa muncak pagi-pagi dan lihat sunrise. Jadi kami putuskan untuk menunggu cuaca cerah. 

Sekitar pukul 8 cuaca kembali cerah. Kami muncak dengan riang gembira. Perjalanan dari pos kawah ke Puncak terjal banget dan berlumpur sehabis hujan tadi malam. Pukul 9.30 kami tiba di puncak Gunung Pulosari. Cerahhhh.. Foto-foto.

Setelah puas berfoto ria kami turun kembali ke pos Kawah, packing tenda dan barang-barang lain. Tak lupa memungut sampah. Pukul 11 kami turun. Hujan menemani kami sepanjang jalan turun. Saya bahagia banget pas hujan ini. Bisa mandi hujan. Udaranya segar.

Perjalanan turun rasanya cepat sekali. Pukul 1.30 kami sudah tiba di gerbang selamat datang. Lalu kembali ke rumah neneknya Ari, bersih-bersih, dan sehabis maghrib kami kembali ke Jakarta. Ini salah satu perjalanan naik gunung yang sangat menyenangkan bagi saya. Semoga bisa kembali jalan-jalan lagi bersama teman-teman sependakian kemarin. Mereka lucu-lucu dan baik hati.

Salam.

Minggu, 09 Februari 2014

Marah Rusli - Memang Jodoh

Novel setebal 544 halaman ini habis saya baca dalam 10 hari. Di sela-sela waktu liburan semester yang panjang dan santai, membaca novel ini membuat saya mengetahui tentang adat istiadat Minangkabau dalam hal perjodohan dan pernikahan khususnya bagi kaum bangsawan. Kompleks dan rumit. Saya setuju benar dengan Marah Rusli yang pada masa itu, sekitar tahun 1920-an telah berfikir secara moderat, menentang kaumnya karena adat yang dirasa tidak cocok lagi seiring perkembangan zaman.

Saya pernah membaca sebelumnya cuplikan novel Siti Nurbaya, karya Marah Rusli yang tersohor itu. Karena Siti Nurbaya, Marah Rusli dijuluki Bapak Roman Modern Indonesia oleh HB.Jassin. Awalnya kisah Siti Nurbaya ini saya sebut sebagai kisah tentang cinta yang tak sampai, akibat perjodohan Minangkabau. Tetapi setelah dibahas lebih lanjut, lebih dari itu ternyata Siti Nurbaya merupakan jalan Marah Rusli-pengarangnya untuk mengkritik adat kaumnya sendiri-Minangkabau. Bagaimana perjodohan Siti Nurbaya dan Datuk Meringgih dilakukan padahal tak ada rasa suka di salah satu pihak. Perjodohan dilakukan semata-mata untuk menjaga martabat keluarga besar.

Begitu juga dengan novel Memang Jodoh yang di dalam pengantarnya disebutkan bahwa ini adalah autobiografi dari Marah Rusli sendiri. Bagaimana Marah Hamli si tokoh utama memegang prinsip hidupnya untuk tidak beristri banyak, ia menentang adat Minangkabau sehingga dibuang dari kaumnya, serta bagaimana ia menjaga keutuhan keluarganya dan kerja kerasnya diceritakan di dalam novel ini. Nama-nama tokoh memang ditulis berbeda namun keberadaan tokoh tersebut nyata adanya. Memakai bahasa Melayu tinggi, Memang Jodoh ini menjadi pilihan bacaan tersendiri di masa kini, di tengah-tengah maraknya bacaan yang memakai bahasa gaul, slang, dan tidak baku. Menarik karena bahasa Melayu tinggi ini punya makna yang sulit ditangkap untuk pembaca masa kini, namun keindahannya bisa menambah rasa senang dalam membaca. 

Sabtu, 14 Desember 2013

Gunung Marapi: Perjalanan Perdana Naik Gunung

Kembali menulis agar tak lupa. Juga agar cerita tak tinggal cerita. Bisa diulang-ulang baca, ditertawakan. Itulah indahnya mengenang.

Ini tentang perjalanan perdana saya ke gunung Marapi di Sumatera Barat, tepatnya di Padang Panjang. Sebagai mahasiswa Riau yang kala itu tinggal dan kuliah di Pekanbaru, gunung terdekat adalah Marapi. Di Riau tak ada gunung, namun belakangan ada satu ekspedisi yang dilakukan teman-teman penggiat alam Riau menemukan satu gunung purba di Riau. Tepatnya di perbatasan Riau-Sumbar. Namanya Gunung Jadi. Penemuan baru. Saya belum pernah ke sana. Tidak terlalu ingin karena dengar-dengar medannya berat. Akses ke sana sulit. Biarlah. Bagus begitu, biar terjaga ekosistem di sana.

Semester 2 menjadi mahasiswa saya diajak naik gunung. Perdana. Saya tidak pernah naik gunung kecuali Gunung Bintan di Pulau Bintan saat SMA. Namanya saja yang Gunung Bintan, sebenarnya ia bukit, tingginya 300-an mdpl. Menjulang tinggi dan berada di Bintan sehingga dinamai Gunung Bintan.

Saya bayang- bayangkan bagaimana bentuknya gunung Marapi itu. Saya lihat-lihat dokumentasi orang-orang yang sudah pernah pergi ke sana. Kesan saya Gunung Marapi indah sekali. Maka bersemangatlah saya mengiyakan ajakan salah seorang seniorku di kampus saat itu. Kami pergi berempat. Saya, Nori (sama-sama perdana), bang Geboy (juga perdana), dan bang Joe (sudah berpengalaman_seniorku).

Agustus 2008. Pas perayaan kemerdekaan RI. Tapi kami tak sempat bersama-sama rekan pendaki lain untuk upacara pengibaran bendera di puncak. Kami terlambat tiba di Koto Baru (Kaki Gunung Marapi). Tanggal 18 pagi kami baru tiba. Pagi-pagi sekali kami mulai mendaki. Karena perdana saya kesulitan selama mendaki. Kecapekan. Sebentar-sebentar istirahat. Salah saya juga karena tak pakai pemanasan dulu. Sebaiknya untuk persiapan naik gunung jogging lah sebulan sebelumnya. Kami tak bawa tenda! Karena rencananya tidak akan nge-camp. Sampai puncak lalu turun, itu rencananya.

Rencana untuk tidak nge-camp tetap jalan, namun rencana untuk sampai puncak Merpati (puncak tertinggi Gunung Marapi) tinggallah rencana karena sudah jam 5 sore tapi kami masih di Cadas. Tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke puncak di malam hari kan. Setelah menunggu sunset dan foto-foto kami pun turun. Di perjalanan turun berjumpa teman-teman dari Riau. Mereka menawarkan untuk bermalam saja. Kalau tidak bawa tenda boleh numpang dengan mereka. Tapi karena di awal sudah sepakat untuk turun maka kami putuskan terus jalan ke bawah. Bang joe itu tegas dan disiplin. Padahal saya sudah merengek-rengek minta supaya kita nge-camp saja karena kaki ini rasanya tak kuat lagi bejalan. Tapi gagal.

Sampai di pasanggrahan saya tak kuat lagi. Saya berbaring saja di tengah jalan. Bang Joe bilang “mau tidur di sini apa di rumah sodaranya bang Geboy?”. Setelah turun rencananya memang mau beristirahat di rumah saudara bang Geboy, di Padang Panjang. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga, dibantu bang Joe yang menuntun hingga sampai di pos pendakian. Pukul 10 malam akhirnyaa. Di pos pendakian kami dijemput oleh saudara bang Geboy. Selanjutnya beristirahat di rumah saudaranya itu.

Esoknya
Pagi di padang panjang. Mandi di pancuran yang airnya sedingin es. Pemandangan padi yang masih hijau dikelilingi bukit-bukit yang indah. Pagi itu indah sekali. Burung-burung berkicau, sahut-menyahut. Ibu-ibu pergi ke pancuran untuk mandi dan mencuci. Saya dan Nori bergabung bersama mereka. Kami mandi pakai kain basahan. Pengalaman pertama. Agak kaku karena tempat mandi umum ini tidak beratap, tidak ada yang mengintipkah?


Pulang selalu menjadi bagian paling menyenangkan dalam setiap perjalanan. Kami pulang ke Pekanbaru pagi itu, naik bus ekonomi. Di sepanjang jalan kami semua tidur, kelelahan. Lain kali mau naik gunung lagi, begitu pikir saya. Naik gunung seperti candu.

di cadas menunggu matahari terbenam

Kamis, 05 Desember 2013

Hampir Seperempat Abad

Suatu hari sehabis menghadiri seminar di Pusat Studi Jepang aku berdiri di lobi sendirian. Sedang berteduh. Hujan sore itu lumayan deras, walaupun bawa payung tapi ku putuskan tunggu reda sedikit karena anginnya kencang juga. Tiba-tiba ada seorang perempuan mendekat, mahasiswi. Ku tanya "mau kemana?". "mau ke parkiran" katanya. "oh hujan nih, tunggu reda dikit", kata ku lagi. "iya", jawabnya. 

Jadilah kami ngobrol panjang lebar tentang seminar barusan, dan kemudian dia bertanya, "kamu jurusan apa?". "ilmu sastra", jawabku. "semester berapa?" tanyanya lagi. "baru semester 1", jawabku. "ha?" katanya, "yang bener?", lanjutnya, "memang kira-kira semester berapa?" tanyaku. "semester 5 atau 7 nih kayanya", jawabnya. Lantas aku tertawa. 

"kok ketawa? bener kan semester 7?" tanyanya makin penasaran. Aku menjawab jujur bahwa aku mahasiswa pascasarjana. Tahu apa katanya? "waaah, gak keliatan anak S2 nya mba". Aku senyum bahagia.

Di usia yang hampir seperempat abad ini masih biisa melakukan hal-hal absurd bersama teman-teman, menyenangkan sekali. Aku tak ingin menua~    


suatu sore di starb*cks kampus



beer (bohongan) di kansas (kantin sastra)







Minggu, 01 Desember 2013

Menetapkan Identitas Diri

Pertanyaan yang sulit saya jawab dan mesti dijawab agak panjang untuk menjelaskannya adalah “Rein, kamu orang asli mana?”. Biasanya saya akan tertawa sebentar, atau paling tidak tesenyum, seolah menertawakan diri saya yang harus kesusahan menjawab pertanyaan seperti ini, kemudian baru menjawab. Kata-kata pertama yang paling sering saya pakai untuk menjawab biasanya “hmm gimana ya, susah dijelaskan nih, jadi gini...” panjang lebar jawaban saya untuk pertanyaan tersebut. Kemudian di akhir penjelasan biasanya saya akan balik bertanya “jadi sebenarnya saya orang mana ya? bingung”, lalu tertawa.  Lawan bicara saya biasanya bergumam “ribet juga ya” atau “gak jelas nih orang mana” atau tertawa. 

Menertawakan identitas diri pada awalnya hal yang biasa-biasa saja bagi saya. Tapi lama kelamaan jadi bahan pikiran saya tiap kali menyaksikan pertunjukan budaya. Saya suka menonton pertunjukan seni dan budaya yang beragam. Sehabis pertunjukan biasanya saya akan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “saya ini bagaimana? Apa budaya daerah yang saya kuasai?” jawabannya sering kali “tidak ada apa pun”. Hal ini terus mengusik saya.

Ketika KTP saya bertuliskan kota Tanjungpinang, maka apakah saya orang Tanjungpinang? Memang benar saya lahir dan besar di kota Tanjungpinang. Sejak tahun 1988 orang tua saya harus menetap di Tanjungpinang karena tuntutan pekerjaan. Setiap hari minum air tanahnya dan menghirup udaranya. Tanjungpinang lekat dengan budaya Melayu. Saya bisa berbahasa Melayu karena bagi saya itu bahasa yang mudah untuk ditirukan. Tapi kemelayuan saya tidak ada, nol. Tidak tahu menahu tentang kebudayaan Melayu kecuali tentang tulisan Arab Melayu dan pantun yang pernah dipelajari semasa SD-SMA dulu. Hanya menjadi penikmat saja saat ada pertunjukan tari Melayu dan berbalas pantun. Ketika ditanyakan tentang pertunjukan Mak Yong? Saya tak tahu.

Kedua orang tua saya berasal dari Kerinci, Jambi. Nenek moyang dan keluarga besar saya semuanya asli Kerinci. Sebenarnya ada sedikit darah minang, karena kakek dari pihak Ayah saya adalah orang Pariaman. Ia menikah dengan nenek saya yang orang Kerinci dan akhirnya menetap di Kerinci, keminangannya sudah tak nampak. Selain dari itu semua keluarga dari pihak Ayah dan Ibu merupakan orang Kerinci Asli. Lantas ada yang pernah bilang “kamu orang Melayu Rein, bukankah Kerinci itu di Jambi? Dan Jambi juga Melayu?”. Kutegaskan bahwa orang-orang Kerinci tak ingin disebut orang Melayu, mereka orang Kerinci, suku Kerinci. Begitupun ketika ada yang bilang bahwa orang Kerinci adalah orang Minang, mereka menolaknya.

Kalau sudah dijabarkan begini, maka kesimpulannya saya orang Kerinci. Walau hanya menginjakkan kaki di sana setahun sekali dikala Lebaran, walau tidak pernah bisa berbahasa Kerinci dengan baik dan benar, bahkan saya harus banyak menyebut “apa?” “ulang sekali lagi ya” kepada lawan bicara yang berbahasa Kerinci terlalu cepat, walau saya tidak pernah hafal nama-nama desa dan tempat di Kerinci, dan walau sama sekali tidak mengenal kebudayaan serta adat istiadat tanah leluhur saya itu. Oh bahkan nama-nama anggota keluarga besar di Kerinci saya tak tahu.

Kini, saat saya sedang belajar teori kritis di kampus, semakin menjadi-jadi saya mengkritisi diri sendiri. Semakin menjadi-jadi juga kekhawatiran ini. Khawatir saya sedang kehilangan identitas diri dan tak bisa menemukannya. Saya ingin punya identitas yang kuat. Untuk itulah saya harus terus mempelajari budaya daerah sendiri, Kerinci dan Melayu. Harus dua-duanya, karena keduanya sangat berarti bagi saya.

#edisi curhat gak pakai galau, karena anak Ilmu Budaya anti galau!

Salam budaya..


Jumat, 29 November 2013

Ketoprak Dokar

Almamaterku berulang tahun ke-73. Usia yang sudah tidak muda lagi. Menandakan perjalanan ini sudah lama, sudah matang. Walau begitu harapan-harapan selalu saja banyak, semoga terus ada dan berperan.

Sebagai kado di hari ulang tahun FIB, pada 28 November para dosen, karyawan dan mahasiswa menghadirkan pertunjukan ketoprak. Ketoprak Dokar (Dosen dan Karyawan) berjudul Panji Kuda Wanengpati ini disutradarai oleh pak M.Yoesoef, dosen sejarah sastraku. Menjadi menarik karena yang tampil adalah dosen-dosen kita yang tiap kuliah memberikan materi tentang strukturalisme, sosiologi sastra, posmodernisme dan lainnya. Melihat mereka berakting, melepaskan identitas mereka sebagai dosen untuk menghibur penonton rasanya senang. Mereka saat itu adalah aktor dan aktris yang hebat. Bu Lili, dosen teori sastraku yang berperan sebagai permaisuri Raja Janggala dengan “kejawaannya” tampil apik. Yang menjadi favoritku tentulah sang Panji yang tampan dan pasangannya Dewi Sekartaji yang cantik dan gemulai. Dan ternyata pemeran Dewi Sekartaji ini adalah bu Saraswati, dosen filsafat, seorang doktor. Awalnya saya mengira pemeran Dewi Sekartaji adalah mahasiswa karena masih sangat muda. Pertunjukan ini dihadiri banyak penonton yang sebagian besar adalah mahasiswa FIB. Auditorium gedung IX penuh sesak, saat itu saya nonton bersama Azmah. Seloroh-seloroh yang dibawakan pemain meriuhkan seisi ruangan dengan tawa. Mereka luar biasa. Ini pengalaman pertama saya nonton ketoprak secara live.





Selamat ulang tahun ke 73 FIB UI. Bangga menjadi bagian darimu.  
Siap-siap menyaksikan sederetan acara di kampus FIB seminggu ke depan ^^
Salam Budaya.


*foto-foto oleh Azmah

Pekan Budaya Jawa FIB UI

Seminar

Mahasiswa Program Studi Sastra Jawa FIB UI buat acara Pekan Budaya Jawa di kampus. Ini acara tahunan mereka. Pada hari senin tanggal 25 November acaranya seminar bertemakan “Transformasi Budaya Jawa”. Saya tertarik datang karena salah satu pembicaranya adalah Sudjiwotedjo. Ya, mbah yang terkenal dengan kata-kata jancuk nya itu akan hadir di kampus UI. Saya, Kenny, Tiva dan Tebe sudah masuk ke dalam ruang seminar di auditorium gedung IX lebih awal supaya dapat posisi tempat duduk di depan. Tebe temanku ini fans nya mbah Tedjo, dia rela datang dari Cibubur ke Depok untuk melihat si mbah.

Sebelum masuk sesi seminar, ada pertunjukan tari dan musik. Tarian Jawa dan musik-musik lembut beraliran jazz menghibur peserta seminar. Vokalisnya punya suara merdu.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mbah Tedjo dengan sarung khas dan topi koboinya, masuk ke ruang seminar, diikuti pembicara yang lain, yaitu Bre Redana –sastrawan dan jurnalis-, serta Nur Suhud –anggota DPR RI- yang datang terlambat. Moderatornya salah satu dosen UI, dosen favoritnya Kenny. Masing-masing pembicara mengutarakan pendapat mereka tentang transformasi budaya Jawa saat ini.


Sudjiwotedjo

Beliau punya cita-cita agar budaya Jawa khususnya musik Jawa dapat diterima oleh orang-orang non Jawa. Untuk itu Tedjo berusaha membuat musik Jawa dengan instrumen-instrumen yang bisa diterima orang banyak, seperti instrumen gitar. Tedjo menjelaskan kenikmatan musik jawa lewat penampilan mahasiswa yang membawakan lagunya. Asik sekali. Saya sebagai orang non jawa tidak mengerti liriknya, namun merasa terhibur dengan musiknya. Selain menjelaskan bagaimana ia ingin menasionalisasikan musik Jawa, ia juga berfilosofi seperti yang biasa ia kicaukan di akun twitternya @sudjiwotedjo tentang Tuhan dan kebenaran. Ia menceritakan bagaimana pada pagi hari ia menghadiri pengajian di salah satu pesantren, lalu siang harinya ia diundang menghadiri acara di gereja.

Ia mengutip apa yang dikatakan oleh Sastro Kartono (kakaknya Kartini) : “Orang-orang yang menghina Tuhan bukan orang-orang yang menginjak-injak kitab suci, tetapi orang-orang yang berfikir besok tidak bisa makan, tidak bisa bayar uang sekolah, itulah sebetulnya bentuk penghinaan terhadap Tuhan. Tidak percaya atas kuasa Tuhan.

“Semua kata-kata di dunia ini pada mulanya adalah kata, pada akhirnya adalah sampah, karena Tuhan tidak bisa diganti dengan kata-kata”

“Yang ada hanya Tuhan. Yang bukan Tuhan adalah seolah-olah. Kalau Tuhan Maha segalanya kenapa takut berbicara yang bukan-bukan?”

Semua lantas bertepuk tangan setiap kali si mbah berfilosofi. Ia nyeleneh, tapi dengan sangat cerdas. Barangkali itulah ciri seniman sejati.

Bre Redana

Bre Redana lain lagi, ia menjelaskan bagaimana instrumen-instrumen dalam musik jawa ada hubungannya dengan kejadian-kejadian di alam. Contohnya gitar yang di dalam musik keroncong bermakna sebagai pelurus, cuk cak berarti mengalir, seruling berarti angin, bas menjadi sifat bumi, dimana tanpa ada sifat bumi (bas) keroncong tidak akan membumi, dan biola yang diidentifikasikan sebagai langit. Orang yang mendengarkan instrumen biola akan merasa dirinya terbang diawang-awang.  

Bre juga menjelaskan makna kata alon-alon asal kelakon yang menjadi prinsip hidup orang Jawa dan kini pemikir-pemikir posmodern di Eropa sana juga sedang menggunakan falsafah ini untuk menghadang percepatan yang sedang terjadi saat ini. Percepatan tersebut karena kemajuan teknologi dan informasi yang luar biasa, mempengaruhi keseharian manusia, sehingga tidak ada lagi interaksi yang hangat. Teknologi telah merebut waktu manusia yang seharusnya dipakai untuk berinteraksi satu sama lain menjadi individu yang tidak peduli. Gerakan “Merayakan Keterlambatan” di Eropa dipakai untuk mengembalikan individu-individu yang tercerai berai menjadi komunitas kembali. Bre juga berbicara mengenai konsep kampung halaman yang dimiliki orang Jawa sebagai suatu konsep baik membangun kebersamaan masyarakat. "Jadi, sebenarnya konsep globalisasi adalah kembali ke konsep-konsep alon-alon asal kelakon, back to nature", katanya.

Sedangkan Nur Suhud menjelaskan dan lebih banyak mempertanyakan kembali apakah ketika penamaan Jawa sudah menyebar kemana-mana itu berarti transformasi budaya Jawa?

Seminar ditutup dengan kesimpulan oleh moderator, dan pemberian kenang-kenangan kepada para pembicara. Diikuti sesi foto bersama. Dari seminar ini saya dapat ilmu tentang makna alon-alon asal kelakonnya orang Jawa dan sangat terhibur dengan pertunjukkan singkat sudjiwotedjo lewat musiknya.

Sendrawatari

Keesokan harinya pukul 3 sore acaranya hiburan sendrawatari (seni, drama, wayang, dan tari). Sebuah genre baru kah? Karena dulu saya hanya mengenal istilah sendratari, tanpa wayang. Judulnya Wara Senapati, dengan tema ketika wanita menentukan takdirnya. Menarik bukan? Untuk itu saya tak ragu mengeluarkan uang Rp.5000 untuk karcis masuknya. Masih di auditorium gedung IX, mahasiswa sastra jawa menampilkan pertunjukan yang luar biasa. Selain akting, saya mengapresiasi dengan memberi nilai 8 dari 10 untuk tata panggung, tata musik, tata rias dan tata cahaya yang melengkapi penampilan mereka.  Selesai pementasan saya berfoto bersama tokoh favorit saya, Eyang Bisma, yang tinggi, gagah dan tampan. Ah, rasa-rasanya kok lima ribu rupiah terlalu murah untuk pertunjukan hebat kali ini. Salut.