Seminar
Mahasiswa
Program Studi Sastra Jawa FIB UI buat acara Pekan Budaya Jawa di kampus. Ini
acara tahunan mereka. Pada hari senin tanggal 25 November acaranya seminar bertemakan “Transformasi Budaya
Jawa”. Saya tertarik datang karena salah satu pembicaranya adalah Sudjiwotedjo.
Ya, mbah yang terkenal dengan kata-kata jancuk nya itu akan hadir di kampus UI.
Saya, Kenny, Tiva dan Tebe sudah masuk ke dalam ruang seminar di auditorium
gedung IX lebih awal supaya dapat posisi tempat duduk di depan. Tebe temanku
ini fans nya mbah Tedjo, dia rela datang dari Cibubur ke Depok untuk
melihat si mbah.
Sebelum
masuk sesi seminar, ada pertunjukan tari dan musik. Tarian Jawa dan musik-musik
lembut beraliran jazz menghibur peserta seminar. Vokalisnya punya suara merdu.
Yang
ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mbah Tedjo dengan sarung khas dan topi koboinya, masuk ke ruang seminar, diikuti pembicara yang lain, yaitu Bre Redana
–sastrawan dan jurnalis-, serta Nur Suhud –anggota DPR RI- yang datang
terlambat. Moderatornya salah satu dosen UI, dosen favoritnya Kenny. Masing-masing pembicara
mengutarakan pendapat mereka tentang transformasi budaya Jawa saat ini.
Sudjiwotedjo
Beliau
punya cita-cita agar budaya Jawa khususnya musik Jawa dapat diterima oleh
orang-orang non Jawa. Untuk itu Tedjo berusaha membuat musik Jawa dengan
instrumen-instrumen yang bisa diterima orang banyak, seperti instrumen gitar. Tedjo
menjelaskan kenikmatan musik jawa lewat penampilan mahasiswa yang membawakan
lagunya. Asik sekali. Saya sebagai orang non jawa tidak mengerti liriknya,
namun merasa terhibur dengan musiknya. Selain menjelaskan bagaimana ia ingin
menasionalisasikan musik Jawa, ia juga berfilosofi seperti yang biasa ia
kicaukan di akun twitternya @sudjiwotedjo tentang Tuhan dan kebenaran. Ia
menceritakan bagaimana pada pagi hari ia menghadiri pengajian di salah satu
pesantren, lalu siang harinya ia diundang menghadiri acara di gereja.
Ia
mengutip apa yang dikatakan oleh Sastro Kartono (kakaknya Kartini) : “Orang-orang
yang menghina Tuhan bukan orang-orang yang menginjak-injak kitab suci, tetapi
orang-orang yang berfikir besok tidak bisa makan, tidak bisa bayar uang
sekolah, itulah sebetulnya bentuk penghinaan terhadap Tuhan. Tidak percaya atas
kuasa Tuhan.
“Semua
kata-kata di dunia ini pada mulanya adalah kata, pada akhirnya adalah sampah,
karena Tuhan tidak bisa diganti dengan kata-kata”
“Yang
ada hanya Tuhan. Yang bukan Tuhan adalah seolah-olah. Kalau Tuhan Maha
segalanya kenapa takut berbicara yang bukan-bukan?”
Semua
lantas bertepuk tangan setiap kali si mbah berfilosofi. Ia nyeleneh, tapi
dengan sangat cerdas. Barangkali itulah ciri seniman sejati.
Bre Redana
Bre
Redana lain lagi, ia menjelaskan bagaimana instrumen-instrumen dalam musik jawa
ada hubungannya dengan kejadian-kejadian di alam. Contohnya gitar yang di dalam
musik keroncong bermakna sebagai pelurus, cuk cak berarti mengalir, seruling
berarti angin, bas menjadi sifat bumi, dimana tanpa ada sifat bumi (bas)
keroncong tidak akan membumi, dan biola yang diidentifikasikan sebagai langit. Orang
yang mendengarkan instrumen biola akan merasa dirinya terbang diawang-awang.
Bre
juga menjelaskan makna kata alon-alon asal kelakon yang menjadi
prinsip hidup orang Jawa dan kini pemikir-pemikir posmodern di Eropa sana juga sedang
menggunakan falsafah ini untuk menghadang percepatan yang sedang terjadi saat
ini. Percepatan tersebut karena kemajuan teknologi dan informasi yang luar
biasa, mempengaruhi keseharian manusia, sehingga tidak ada lagi interaksi yang
hangat. Teknologi telah merebut waktu manusia yang seharusnya dipakai untuk
berinteraksi satu sama lain menjadi individu yang tidak peduli. Gerakan “Merayakan
Keterlambatan” di Eropa dipakai untuk mengembalikan individu-individu yang
tercerai berai menjadi komunitas kembali. Bre juga berbicara mengenai konsep
kampung halaman yang dimiliki orang Jawa sebagai suatu konsep baik membangun
kebersamaan masyarakat. "Jadi, sebenarnya konsep globalisasi adalah kembali ke
konsep-konsep alon-alon asal kelakon, back to nature", katanya.
Sedangkan
Nur Suhud menjelaskan dan lebih banyak mempertanyakan kembali apakah ketika
penamaan Jawa sudah menyebar kemana-mana itu berarti transformasi budaya Jawa?
Seminar
ditutup dengan kesimpulan oleh moderator, dan pemberian kenang-kenangan kepada para
pembicara. Diikuti sesi foto bersama. Dari seminar ini saya dapat ilmu tentang makna
alon-alon asal kelakonnya orang Jawa dan sangat terhibur dengan pertunjukkan
singkat sudjiwotedjo lewat musiknya.
Sendrawatari
Keesokan harinya pukul 3 sore acaranya hiburan sendrawatari (seni, drama, wayang, dan tari). Sebuah genre
baru kah? Karena dulu saya hanya mengenal istilah sendratari, tanpa wayang. Judulnya
Wara Senapati, dengan tema ketika wanita menentukan takdirnya. Menarik bukan? Untuk
itu saya tak ragu mengeluarkan uang Rp.5000 untuk karcis masuknya. Masih di auditorium
gedung IX, mahasiswa sastra jawa menampilkan pertunjukan yang luar biasa. Selain
akting, saya mengapresiasi dengan memberi nilai 8 dari 10 untuk tata panggung,
tata musik, tata rias dan tata cahaya yang melengkapi penampilan mereka. Selesai pementasan saya berfoto bersama tokoh
favorit saya, Eyang Bisma, yang tinggi, gagah dan tampan. Ah, rasa-rasanya kok
lima ribu rupiah terlalu murah untuk pertunjukan hebat kali ini. Salut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar