Jumat, 29 November 2013

Pekan Budaya Jawa FIB UI

Seminar

Mahasiswa Program Studi Sastra Jawa FIB UI buat acara Pekan Budaya Jawa di kampus. Ini acara tahunan mereka. Pada hari senin tanggal 25 November acaranya seminar bertemakan “Transformasi Budaya Jawa”. Saya tertarik datang karena salah satu pembicaranya adalah Sudjiwotedjo. Ya, mbah yang terkenal dengan kata-kata jancuk nya itu akan hadir di kampus UI. Saya, Kenny, Tiva dan Tebe sudah masuk ke dalam ruang seminar di auditorium gedung IX lebih awal supaya dapat posisi tempat duduk di depan. Tebe temanku ini fans nya mbah Tedjo, dia rela datang dari Cibubur ke Depok untuk melihat si mbah.

Sebelum masuk sesi seminar, ada pertunjukan tari dan musik. Tarian Jawa dan musik-musik lembut beraliran jazz menghibur peserta seminar. Vokalisnya punya suara merdu.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mbah Tedjo dengan sarung khas dan topi koboinya, masuk ke ruang seminar, diikuti pembicara yang lain, yaitu Bre Redana –sastrawan dan jurnalis-, serta Nur Suhud –anggota DPR RI- yang datang terlambat. Moderatornya salah satu dosen UI, dosen favoritnya Kenny. Masing-masing pembicara mengutarakan pendapat mereka tentang transformasi budaya Jawa saat ini.


Sudjiwotedjo

Beliau punya cita-cita agar budaya Jawa khususnya musik Jawa dapat diterima oleh orang-orang non Jawa. Untuk itu Tedjo berusaha membuat musik Jawa dengan instrumen-instrumen yang bisa diterima orang banyak, seperti instrumen gitar. Tedjo menjelaskan kenikmatan musik jawa lewat penampilan mahasiswa yang membawakan lagunya. Asik sekali. Saya sebagai orang non jawa tidak mengerti liriknya, namun merasa terhibur dengan musiknya. Selain menjelaskan bagaimana ia ingin menasionalisasikan musik Jawa, ia juga berfilosofi seperti yang biasa ia kicaukan di akun twitternya @sudjiwotedjo tentang Tuhan dan kebenaran. Ia menceritakan bagaimana pada pagi hari ia menghadiri pengajian di salah satu pesantren, lalu siang harinya ia diundang menghadiri acara di gereja.

Ia mengutip apa yang dikatakan oleh Sastro Kartono (kakaknya Kartini) : “Orang-orang yang menghina Tuhan bukan orang-orang yang menginjak-injak kitab suci, tetapi orang-orang yang berfikir besok tidak bisa makan, tidak bisa bayar uang sekolah, itulah sebetulnya bentuk penghinaan terhadap Tuhan. Tidak percaya atas kuasa Tuhan.

“Semua kata-kata di dunia ini pada mulanya adalah kata, pada akhirnya adalah sampah, karena Tuhan tidak bisa diganti dengan kata-kata”

“Yang ada hanya Tuhan. Yang bukan Tuhan adalah seolah-olah. Kalau Tuhan Maha segalanya kenapa takut berbicara yang bukan-bukan?”

Semua lantas bertepuk tangan setiap kali si mbah berfilosofi. Ia nyeleneh, tapi dengan sangat cerdas. Barangkali itulah ciri seniman sejati.

Bre Redana

Bre Redana lain lagi, ia menjelaskan bagaimana instrumen-instrumen dalam musik jawa ada hubungannya dengan kejadian-kejadian di alam. Contohnya gitar yang di dalam musik keroncong bermakna sebagai pelurus, cuk cak berarti mengalir, seruling berarti angin, bas menjadi sifat bumi, dimana tanpa ada sifat bumi (bas) keroncong tidak akan membumi, dan biola yang diidentifikasikan sebagai langit. Orang yang mendengarkan instrumen biola akan merasa dirinya terbang diawang-awang.  

Bre juga menjelaskan makna kata alon-alon asal kelakon yang menjadi prinsip hidup orang Jawa dan kini pemikir-pemikir posmodern di Eropa sana juga sedang menggunakan falsafah ini untuk menghadang percepatan yang sedang terjadi saat ini. Percepatan tersebut karena kemajuan teknologi dan informasi yang luar biasa, mempengaruhi keseharian manusia, sehingga tidak ada lagi interaksi yang hangat. Teknologi telah merebut waktu manusia yang seharusnya dipakai untuk berinteraksi satu sama lain menjadi individu yang tidak peduli. Gerakan “Merayakan Keterlambatan” di Eropa dipakai untuk mengembalikan individu-individu yang tercerai berai menjadi komunitas kembali. Bre juga berbicara mengenai konsep kampung halaman yang dimiliki orang Jawa sebagai suatu konsep baik membangun kebersamaan masyarakat. "Jadi, sebenarnya konsep globalisasi adalah kembali ke konsep-konsep alon-alon asal kelakon, back to nature", katanya.

Sedangkan Nur Suhud menjelaskan dan lebih banyak mempertanyakan kembali apakah ketika penamaan Jawa sudah menyebar kemana-mana itu berarti transformasi budaya Jawa?

Seminar ditutup dengan kesimpulan oleh moderator, dan pemberian kenang-kenangan kepada para pembicara. Diikuti sesi foto bersama. Dari seminar ini saya dapat ilmu tentang makna alon-alon asal kelakonnya orang Jawa dan sangat terhibur dengan pertunjukkan singkat sudjiwotedjo lewat musiknya.

Sendrawatari

Keesokan harinya pukul 3 sore acaranya hiburan sendrawatari (seni, drama, wayang, dan tari). Sebuah genre baru kah? Karena dulu saya hanya mengenal istilah sendratari, tanpa wayang. Judulnya Wara Senapati, dengan tema ketika wanita menentukan takdirnya. Menarik bukan? Untuk itu saya tak ragu mengeluarkan uang Rp.5000 untuk karcis masuknya. Masih di auditorium gedung IX, mahasiswa sastra jawa menampilkan pertunjukan yang luar biasa. Selain akting, saya mengapresiasi dengan memberi nilai 8 dari 10 untuk tata panggung, tata musik, tata rias dan tata cahaya yang melengkapi penampilan mereka.  Selesai pementasan saya berfoto bersama tokoh favorit saya, Eyang Bisma, yang tinggi, gagah dan tampan. Ah, rasa-rasanya kok lima ribu rupiah terlalu murah untuk pertunjukan hebat kali ini. Salut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar