Sabtu, 14 Desember 2013

Gunung Marapi: Perjalanan Perdana Naik Gunung

Kembali menulis agar tak lupa. Juga agar cerita tak tinggal cerita. Bisa diulang-ulang baca, ditertawakan. Itulah indahnya mengenang.

Ini tentang perjalanan perdana saya ke gunung Marapi di Sumatera Barat, tepatnya di Padang Panjang. Sebagai mahasiswa Riau yang kala itu tinggal dan kuliah di Pekanbaru, gunung terdekat adalah Marapi. Di Riau tak ada gunung, namun belakangan ada satu ekspedisi yang dilakukan teman-teman penggiat alam Riau menemukan satu gunung purba di Riau. Tepatnya di perbatasan Riau-Sumbar. Namanya Gunung Jadi. Penemuan baru. Saya belum pernah ke sana. Tidak terlalu ingin karena dengar-dengar medannya berat. Akses ke sana sulit. Biarlah. Bagus begitu, biar terjaga ekosistem di sana.

Semester 2 menjadi mahasiswa saya diajak naik gunung. Perdana. Saya tidak pernah naik gunung kecuali Gunung Bintan di Pulau Bintan saat SMA. Namanya saja yang Gunung Bintan, sebenarnya ia bukit, tingginya 300-an mdpl. Menjulang tinggi dan berada di Bintan sehingga dinamai Gunung Bintan.

Saya bayang- bayangkan bagaimana bentuknya gunung Marapi itu. Saya lihat-lihat dokumentasi orang-orang yang sudah pernah pergi ke sana. Kesan saya Gunung Marapi indah sekali. Maka bersemangatlah saya mengiyakan ajakan salah seorang seniorku di kampus saat itu. Kami pergi berempat. Saya, Nori (sama-sama perdana), bang Geboy (juga perdana), dan bang Joe (sudah berpengalaman_seniorku).

Agustus 2008. Pas perayaan kemerdekaan RI. Tapi kami tak sempat bersama-sama rekan pendaki lain untuk upacara pengibaran bendera di puncak. Kami terlambat tiba di Koto Baru (Kaki Gunung Marapi). Tanggal 18 pagi kami baru tiba. Pagi-pagi sekali kami mulai mendaki. Karena perdana saya kesulitan selama mendaki. Kecapekan. Sebentar-sebentar istirahat. Salah saya juga karena tak pakai pemanasan dulu. Sebaiknya untuk persiapan naik gunung jogging lah sebulan sebelumnya. Kami tak bawa tenda! Karena rencananya tidak akan nge-camp. Sampai puncak lalu turun, itu rencananya.

Rencana untuk tidak nge-camp tetap jalan, namun rencana untuk sampai puncak Merpati (puncak tertinggi Gunung Marapi) tinggallah rencana karena sudah jam 5 sore tapi kami masih di Cadas. Tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke puncak di malam hari kan. Setelah menunggu sunset dan foto-foto kami pun turun. Di perjalanan turun berjumpa teman-teman dari Riau. Mereka menawarkan untuk bermalam saja. Kalau tidak bawa tenda boleh numpang dengan mereka. Tapi karena di awal sudah sepakat untuk turun maka kami putuskan terus jalan ke bawah. Bang joe itu tegas dan disiplin. Padahal saya sudah merengek-rengek minta supaya kita nge-camp saja karena kaki ini rasanya tak kuat lagi bejalan. Tapi gagal.

Sampai di pasanggrahan saya tak kuat lagi. Saya berbaring saja di tengah jalan. Bang Joe bilang “mau tidur di sini apa di rumah sodaranya bang Geboy?”. Setelah turun rencananya memang mau beristirahat di rumah saudara bang Geboy, di Padang Panjang. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga, dibantu bang Joe yang menuntun hingga sampai di pos pendakian. Pukul 10 malam akhirnyaa. Di pos pendakian kami dijemput oleh saudara bang Geboy. Selanjutnya beristirahat di rumah saudaranya itu.

Esoknya
Pagi di padang panjang. Mandi di pancuran yang airnya sedingin es. Pemandangan padi yang masih hijau dikelilingi bukit-bukit yang indah. Pagi itu indah sekali. Burung-burung berkicau, sahut-menyahut. Ibu-ibu pergi ke pancuran untuk mandi dan mencuci. Saya dan Nori bergabung bersama mereka. Kami mandi pakai kain basahan. Pengalaman pertama. Agak kaku karena tempat mandi umum ini tidak beratap, tidak ada yang mengintipkah?


Pulang selalu menjadi bagian paling menyenangkan dalam setiap perjalanan. Kami pulang ke Pekanbaru pagi itu, naik bus ekonomi. Di sepanjang jalan kami semua tidur, kelelahan. Lain kali mau naik gunung lagi, begitu pikir saya. Naik gunung seperti candu.

di cadas menunggu matahari terbenam

Kamis, 05 Desember 2013

Hampir Seperempat Abad

Suatu hari sehabis menghadiri seminar di Pusat Studi Jepang aku berdiri di lobi sendirian. Sedang berteduh. Hujan sore itu lumayan deras, walaupun bawa payung tapi ku putuskan tunggu reda sedikit karena anginnya kencang juga. Tiba-tiba ada seorang perempuan mendekat, mahasiswi. Ku tanya "mau kemana?". "mau ke parkiran" katanya. "oh hujan nih, tunggu reda dikit", kata ku lagi. "iya", jawabnya. 

Jadilah kami ngobrol panjang lebar tentang seminar barusan, dan kemudian dia bertanya, "kamu jurusan apa?". "ilmu sastra", jawabku. "semester berapa?" tanyanya lagi. "baru semester 1", jawabku. "ha?" katanya, "yang bener?", lanjutnya, "memang kira-kira semester berapa?" tanyaku. "semester 5 atau 7 nih kayanya", jawabnya. Lantas aku tertawa. 

"kok ketawa? bener kan semester 7?" tanyanya makin penasaran. Aku menjawab jujur bahwa aku mahasiswa pascasarjana. Tahu apa katanya? "waaah, gak keliatan anak S2 nya mba". Aku senyum bahagia.

Di usia yang hampir seperempat abad ini masih biisa melakukan hal-hal absurd bersama teman-teman, menyenangkan sekali. Aku tak ingin menua~    


suatu sore di starb*cks kampus



beer (bohongan) di kansas (kantin sastra)







Minggu, 01 Desember 2013

Menetapkan Identitas Diri

Pertanyaan yang sulit saya jawab dan mesti dijawab agak panjang untuk menjelaskannya adalah “Rein, kamu orang asli mana?”. Biasanya saya akan tertawa sebentar, atau paling tidak tesenyum, seolah menertawakan diri saya yang harus kesusahan menjawab pertanyaan seperti ini, kemudian baru menjawab. Kata-kata pertama yang paling sering saya pakai untuk menjawab biasanya “hmm gimana ya, susah dijelaskan nih, jadi gini...” panjang lebar jawaban saya untuk pertanyaan tersebut. Kemudian di akhir penjelasan biasanya saya akan balik bertanya “jadi sebenarnya saya orang mana ya? bingung”, lalu tertawa.  Lawan bicara saya biasanya bergumam “ribet juga ya” atau “gak jelas nih orang mana” atau tertawa. 

Menertawakan identitas diri pada awalnya hal yang biasa-biasa saja bagi saya. Tapi lama kelamaan jadi bahan pikiran saya tiap kali menyaksikan pertunjukan budaya. Saya suka menonton pertunjukan seni dan budaya yang beragam. Sehabis pertunjukan biasanya saya akan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “saya ini bagaimana? Apa budaya daerah yang saya kuasai?” jawabannya sering kali “tidak ada apa pun”. Hal ini terus mengusik saya.

Ketika KTP saya bertuliskan kota Tanjungpinang, maka apakah saya orang Tanjungpinang? Memang benar saya lahir dan besar di kota Tanjungpinang. Sejak tahun 1988 orang tua saya harus menetap di Tanjungpinang karena tuntutan pekerjaan. Setiap hari minum air tanahnya dan menghirup udaranya. Tanjungpinang lekat dengan budaya Melayu. Saya bisa berbahasa Melayu karena bagi saya itu bahasa yang mudah untuk ditirukan. Tapi kemelayuan saya tidak ada, nol. Tidak tahu menahu tentang kebudayaan Melayu kecuali tentang tulisan Arab Melayu dan pantun yang pernah dipelajari semasa SD-SMA dulu. Hanya menjadi penikmat saja saat ada pertunjukan tari Melayu dan berbalas pantun. Ketika ditanyakan tentang pertunjukan Mak Yong? Saya tak tahu.

Kedua orang tua saya berasal dari Kerinci, Jambi. Nenek moyang dan keluarga besar saya semuanya asli Kerinci. Sebenarnya ada sedikit darah minang, karena kakek dari pihak Ayah saya adalah orang Pariaman. Ia menikah dengan nenek saya yang orang Kerinci dan akhirnya menetap di Kerinci, keminangannya sudah tak nampak. Selain dari itu semua keluarga dari pihak Ayah dan Ibu merupakan orang Kerinci Asli. Lantas ada yang pernah bilang “kamu orang Melayu Rein, bukankah Kerinci itu di Jambi? Dan Jambi juga Melayu?”. Kutegaskan bahwa orang-orang Kerinci tak ingin disebut orang Melayu, mereka orang Kerinci, suku Kerinci. Begitupun ketika ada yang bilang bahwa orang Kerinci adalah orang Minang, mereka menolaknya.

Kalau sudah dijabarkan begini, maka kesimpulannya saya orang Kerinci. Walau hanya menginjakkan kaki di sana setahun sekali dikala Lebaran, walau tidak pernah bisa berbahasa Kerinci dengan baik dan benar, bahkan saya harus banyak menyebut “apa?” “ulang sekali lagi ya” kepada lawan bicara yang berbahasa Kerinci terlalu cepat, walau saya tidak pernah hafal nama-nama desa dan tempat di Kerinci, dan walau sama sekali tidak mengenal kebudayaan serta adat istiadat tanah leluhur saya itu. Oh bahkan nama-nama anggota keluarga besar di Kerinci saya tak tahu.

Kini, saat saya sedang belajar teori kritis di kampus, semakin menjadi-jadi saya mengkritisi diri sendiri. Semakin menjadi-jadi juga kekhawatiran ini. Khawatir saya sedang kehilangan identitas diri dan tak bisa menemukannya. Saya ingin punya identitas yang kuat. Untuk itulah saya harus terus mempelajari budaya daerah sendiri, Kerinci dan Melayu. Harus dua-duanya, karena keduanya sangat berarti bagi saya.

#edisi curhat gak pakai galau, karena anak Ilmu Budaya anti galau!

Salam budaya..


Jumat, 29 November 2013

Ketoprak Dokar

Almamaterku berulang tahun ke-73. Usia yang sudah tidak muda lagi. Menandakan perjalanan ini sudah lama, sudah matang. Walau begitu harapan-harapan selalu saja banyak, semoga terus ada dan berperan.

Sebagai kado di hari ulang tahun FIB, pada 28 November para dosen, karyawan dan mahasiswa menghadirkan pertunjukan ketoprak. Ketoprak Dokar (Dosen dan Karyawan) berjudul Panji Kuda Wanengpati ini disutradarai oleh pak M.Yoesoef, dosen sejarah sastraku. Menjadi menarik karena yang tampil adalah dosen-dosen kita yang tiap kuliah memberikan materi tentang strukturalisme, sosiologi sastra, posmodernisme dan lainnya. Melihat mereka berakting, melepaskan identitas mereka sebagai dosen untuk menghibur penonton rasanya senang. Mereka saat itu adalah aktor dan aktris yang hebat. Bu Lili, dosen teori sastraku yang berperan sebagai permaisuri Raja Janggala dengan “kejawaannya” tampil apik. Yang menjadi favoritku tentulah sang Panji yang tampan dan pasangannya Dewi Sekartaji yang cantik dan gemulai. Dan ternyata pemeran Dewi Sekartaji ini adalah bu Saraswati, dosen filsafat, seorang doktor. Awalnya saya mengira pemeran Dewi Sekartaji adalah mahasiswa karena masih sangat muda. Pertunjukan ini dihadiri banyak penonton yang sebagian besar adalah mahasiswa FIB. Auditorium gedung IX penuh sesak, saat itu saya nonton bersama Azmah. Seloroh-seloroh yang dibawakan pemain meriuhkan seisi ruangan dengan tawa. Mereka luar biasa. Ini pengalaman pertama saya nonton ketoprak secara live.





Selamat ulang tahun ke 73 FIB UI. Bangga menjadi bagian darimu.  
Siap-siap menyaksikan sederetan acara di kampus FIB seminggu ke depan ^^
Salam Budaya.


*foto-foto oleh Azmah

Pekan Budaya Jawa FIB UI

Seminar

Mahasiswa Program Studi Sastra Jawa FIB UI buat acara Pekan Budaya Jawa di kampus. Ini acara tahunan mereka. Pada hari senin tanggal 25 November acaranya seminar bertemakan “Transformasi Budaya Jawa”. Saya tertarik datang karena salah satu pembicaranya adalah Sudjiwotedjo. Ya, mbah yang terkenal dengan kata-kata jancuk nya itu akan hadir di kampus UI. Saya, Kenny, Tiva dan Tebe sudah masuk ke dalam ruang seminar di auditorium gedung IX lebih awal supaya dapat posisi tempat duduk di depan. Tebe temanku ini fans nya mbah Tedjo, dia rela datang dari Cibubur ke Depok untuk melihat si mbah.

Sebelum masuk sesi seminar, ada pertunjukan tari dan musik. Tarian Jawa dan musik-musik lembut beraliran jazz menghibur peserta seminar. Vokalisnya punya suara merdu.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mbah Tedjo dengan sarung khas dan topi koboinya, masuk ke ruang seminar, diikuti pembicara yang lain, yaitu Bre Redana –sastrawan dan jurnalis-, serta Nur Suhud –anggota DPR RI- yang datang terlambat. Moderatornya salah satu dosen UI, dosen favoritnya Kenny. Masing-masing pembicara mengutarakan pendapat mereka tentang transformasi budaya Jawa saat ini.


Sudjiwotedjo

Beliau punya cita-cita agar budaya Jawa khususnya musik Jawa dapat diterima oleh orang-orang non Jawa. Untuk itu Tedjo berusaha membuat musik Jawa dengan instrumen-instrumen yang bisa diterima orang banyak, seperti instrumen gitar. Tedjo menjelaskan kenikmatan musik jawa lewat penampilan mahasiswa yang membawakan lagunya. Asik sekali. Saya sebagai orang non jawa tidak mengerti liriknya, namun merasa terhibur dengan musiknya. Selain menjelaskan bagaimana ia ingin menasionalisasikan musik Jawa, ia juga berfilosofi seperti yang biasa ia kicaukan di akun twitternya @sudjiwotedjo tentang Tuhan dan kebenaran. Ia menceritakan bagaimana pada pagi hari ia menghadiri pengajian di salah satu pesantren, lalu siang harinya ia diundang menghadiri acara di gereja.

Ia mengutip apa yang dikatakan oleh Sastro Kartono (kakaknya Kartini) : “Orang-orang yang menghina Tuhan bukan orang-orang yang menginjak-injak kitab suci, tetapi orang-orang yang berfikir besok tidak bisa makan, tidak bisa bayar uang sekolah, itulah sebetulnya bentuk penghinaan terhadap Tuhan. Tidak percaya atas kuasa Tuhan.

“Semua kata-kata di dunia ini pada mulanya adalah kata, pada akhirnya adalah sampah, karena Tuhan tidak bisa diganti dengan kata-kata”

“Yang ada hanya Tuhan. Yang bukan Tuhan adalah seolah-olah. Kalau Tuhan Maha segalanya kenapa takut berbicara yang bukan-bukan?”

Semua lantas bertepuk tangan setiap kali si mbah berfilosofi. Ia nyeleneh, tapi dengan sangat cerdas. Barangkali itulah ciri seniman sejati.

Bre Redana

Bre Redana lain lagi, ia menjelaskan bagaimana instrumen-instrumen dalam musik jawa ada hubungannya dengan kejadian-kejadian di alam. Contohnya gitar yang di dalam musik keroncong bermakna sebagai pelurus, cuk cak berarti mengalir, seruling berarti angin, bas menjadi sifat bumi, dimana tanpa ada sifat bumi (bas) keroncong tidak akan membumi, dan biola yang diidentifikasikan sebagai langit. Orang yang mendengarkan instrumen biola akan merasa dirinya terbang diawang-awang.  

Bre juga menjelaskan makna kata alon-alon asal kelakon yang menjadi prinsip hidup orang Jawa dan kini pemikir-pemikir posmodern di Eropa sana juga sedang menggunakan falsafah ini untuk menghadang percepatan yang sedang terjadi saat ini. Percepatan tersebut karena kemajuan teknologi dan informasi yang luar biasa, mempengaruhi keseharian manusia, sehingga tidak ada lagi interaksi yang hangat. Teknologi telah merebut waktu manusia yang seharusnya dipakai untuk berinteraksi satu sama lain menjadi individu yang tidak peduli. Gerakan “Merayakan Keterlambatan” di Eropa dipakai untuk mengembalikan individu-individu yang tercerai berai menjadi komunitas kembali. Bre juga berbicara mengenai konsep kampung halaman yang dimiliki orang Jawa sebagai suatu konsep baik membangun kebersamaan masyarakat. "Jadi, sebenarnya konsep globalisasi adalah kembali ke konsep-konsep alon-alon asal kelakon, back to nature", katanya.

Sedangkan Nur Suhud menjelaskan dan lebih banyak mempertanyakan kembali apakah ketika penamaan Jawa sudah menyebar kemana-mana itu berarti transformasi budaya Jawa?

Seminar ditutup dengan kesimpulan oleh moderator, dan pemberian kenang-kenangan kepada para pembicara. Diikuti sesi foto bersama. Dari seminar ini saya dapat ilmu tentang makna alon-alon asal kelakonnya orang Jawa dan sangat terhibur dengan pertunjukkan singkat sudjiwotedjo lewat musiknya.

Sendrawatari

Keesokan harinya pukul 3 sore acaranya hiburan sendrawatari (seni, drama, wayang, dan tari). Sebuah genre baru kah? Karena dulu saya hanya mengenal istilah sendratari, tanpa wayang. Judulnya Wara Senapati, dengan tema ketika wanita menentukan takdirnya. Menarik bukan? Untuk itu saya tak ragu mengeluarkan uang Rp.5000 untuk karcis masuknya. Masih di auditorium gedung IX, mahasiswa sastra jawa menampilkan pertunjukan yang luar biasa. Selain akting, saya mengapresiasi dengan memberi nilai 8 dari 10 untuk tata panggung, tata musik, tata rias dan tata cahaya yang melengkapi penampilan mereka.  Selesai pementasan saya berfoto bersama tokoh favorit saya, Eyang Bisma, yang tinggi, gagah dan tampan. Ah, rasa-rasanya kok lima ribu rupiah terlalu murah untuk pertunjukan hebat kali ini. Salut.


Senin, 25 November 2013

Hari Ini Hari Guru

Pagi itu hujan turun, tidak deras, tapi awet. Sedari subuh betul hujan mulai menyapa. Di ruang depan sebuah kantor pemerintahan yang menangani tentang masalah sosial duduk dua orang pegawai, wanita, cantik-cantik, bermake-up. Keduanya mengenakan jilbab modis yang lagi jadi trend, dengan bulatan seperti sanggul di bagian belakangnya. Ah, wanita masa kini mereka itu. Masih muda.

Ini pukul 10 pagi, suasana gelap karena mendung. Kedua orang pegawai itu sibuk mengetik di komputer. Entahlah mengetik apa. Sesekali melirik ke handphone pintar mereka, mengambilnya, senyum-senyum, meletakkannya lagi, dan kembali mengetik di komputer. Begitu terus beberapa kali.

Sepi sekali kantor pagi menjelang siang itu. Mungkin karena hujan, orang-orang malas berpergian ke luar. Padahal jika hari cerah maka bapak-bapak berperut buncit sering pergi ke luar di jam segini, ngopi katanya sembari menyapa dua pegawai wanita yang cantik di meja depan. Tapi sekarang sedang hujan. Ngopinya di dalam ruangan kantor saja.

Pukul 10 lewat 17 menit, seperti itu yang tampak pada jam dinding di atas pintu masuk kantor, masuklah seorang bapak yang rambutnya sudah putih semua. Ia memegang tongkat di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang payung. Ia belum masuk, berhenti sebentar untuk meletakkan payungnya di luar kantor. Jaket hitamnya yang parasut agak basah. Angin terlalu kencang rupanya, sehingga payungnya tak cukup untuk melindungi pakaiannya. Masuk ia ke dalam kantor, menuju meja di dalam ruang depan.

“permisi, saya mau bertemu dengan pak kepala dinas” kata bapak berjaket hitam itu kepada 2 orang pegawai wanita di belakang meja.

Salah seorang pegawai wanita mengarahkan pandangannya ke bapak itu, tersenyum dan menanyakan apa keperluan si bapak.

“saya mau mengurus dana sosial”. Kata si bapak.

“dana sosial apa ya pak?” tanya pegawai yang satunya lagi.

“dana sosial untuk orang yang tak mampu, saya butuh uang untuk berobat, saya ini dulunya guru”. Jawab si bapak.

“sebentar ya pak, duduk dulu. Saya hubungi atasan saya dulu”, kata si pegawai.

10 menit, 15 menit, 20 menit, keluarlah seorang lelaki yang sepertinya berusia 35 tahun dari ruangan di bagian dalam kantor. “mana?” tanya nya kepada pegawai wanita di meja depan.

“bapak yang itu pak”’ jawab salah satu pegawai wanita sambil menunjuk ke arah si bapak yang sedang duduk di sofa.

“suruh masuk ke ruangan saya ya”, lanjut si lelaki sambil berlalu.

“pak, mari masuk”, ajak salah satu pegawai wanita kepada si bapak. Ia bangkit dari duduknya dan megikuti si pegawai masuk ke sebuah ruangan di bagian dalam.

Si bapak sedang duduk berhadapan dengan si lelaki. Mereka berbatas meja kerja yang dingin beralas kaca. Si lelaki memulai pembicaraan, “jadi bapak ini guru dimana dulu?” tanyanya. Si bapak bercerita panjang lebar bahwa ia dulunya pernah mengajar di salah satu SMA negeri terbaik di kota ini, sebagai guru bahasa Jepang. Ia hanya guru kontrak. Di masa tuanya sebelum ia sakit-sakitan ia sempat mengojek dan tak lama setelah itu ia dikeluarkan dari sekolah, karena sudah ada guru PNS yang mengganti posisinya. Kini ia sakit, harus berobat dan tak punya uang. Untuk itulah ia datang ke kantor pemerintah ini berharap mendapatkan bantuan.

Si lelaki manggut-manggut mendengar cerita si bapak. Ia pun membuka laci, mengeluarkan amplop putih, menarik dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, memasukkan ke dalam amplop dan menyerahkan kepada si bapak. “pak, ini ambil lah, ini dari saya pribadi. Kalau dari kantor kami tidak menyediakan dana seperti itu, prosedurnya panjang, harus ada proposal, dan lama sekali urusannya, mohon dimaklumi ya pak”.

“walaupun saya seorang guru?” tanya si bapak.

“pak, apa bapak punya NUPTK? Punya SK mengajar?” si lelaki kembali bertanya.

“ya tidak ada, saya hanya dikontrak, tak ada surat apa-apa, SK pun tak ada, apa lagi NUPTK”. Jawab si bapak.

“nah kalau begitu bagaimana kami bisa memprosesnya pak?  kami tak boleh sembarangan. Sekarang bapak pakai saja uang dari saya ini untuk berobat, ya pak. Saya ikhlas”.


Si bapak mengambil uang yang diberi si lelaki, mengucapkan terima kasih dan segera keluar dari ruangan. Di luar hujan masih turun, angin masih kencang, namun ia tak mau berlama-lama ada di kantor itu. Ia mengambil payungnya, dan berlalu. 

Di kalender hari ini adalah 25 November 2013, bukan hari libur, ini hari guru.

                                            -------------------------------------------------

Nurdin Sensei

Selamat Hari Guru. Saya masih berhutang kepada guru bahasa Jepang SMA saya di Tanjungpinang, namanya Pak Nurdin Sitompul. Kami biasa memanggilnya Nurdin Sensei. Saya berhutang untuk menemuinya ketika saya sudah lancar berbahasa Jepang. Saya ingin bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dengannya. Semoga Tuhan memberinya kesehatan dan umur panjang, sehingga kesempatan untuk bertemu dengannya dapat saya tunaikan. 

Jumat, 22 November 2013

Film Jagal: Sebuah Usaha Melawan Lupa

Bulan Oktober yang lalu di kelas teori kritis, ada seorang teman yang merekomendasikan satu film dokumenter untuk bahan diskusi. Film itu berjudul Jagal. Film dokumenter yang tayang perdana pada tahun lalu ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti PKI yang terjadi di tahun 1965-1966 memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik. Film karya sutradara Joshua Oppenheimer dari Amerika  ini aslinya berjudul The Act of Killing. Ironis, pengungkapan fakta sejarah bangsa kita dilakukan oleh orang asing.  

Latar belakang film Jagal yang saya kutip dari Wikipedia:

Setelah PKI dituduh oleh TNI sebagai pelaku G30S di tahun 1965, Anwar dan kawan-kawan "naik pangkat" dari preman kelas teri pencatut karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan intelektual, dalam waktu kurang dari satu tahun. Sebagai seorang algojo dalam pasukan pembunuh yang paling terkenal kekejamannya di Medan, Anwar telah membunuh ratusan orang dengan tangannya sendiri.
Hari ini, Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan pembunuh itu. Organisasi ini begitu kuat pengaruhnya sehingga pemimpinnya bisa menjadi menteri, dan dengan santai menyombongkan segala macam hal, dari korupsi dan mengakali pemilu sampai melaksanakan genosida.
Dalam Jagal, para pembunuh bercerita tentang pembunuhan yang mereka lakukan, dan cara yang mereka gunakan untuk membunuh. Tidak seperti para pelaku genosida Nazi atau Rwanda yang menua, Anwar dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka justru menuliskan sendiri sejarahnya yang penuh kemenangan dan menjadi panutan bagi jutaan anggota PP. Jagal adalah sebuah perjalanan menembus ingatan dan imajinasi para pelaku pembunuhan dan menyampaikan pengamatan mendalam dari dalam pikiran para pembunuh massal. Jagal adalah sebuah mimpi buruk kebudayaan banal yang tumbuh di sekitar impunitas ketika seorang pembunuh dapat berkelakar tentang kejahatan terhadap kemanusiaan di acara bincang-bincang televisi, dan merayakan bencana moral dengan kesantaian dan keanggunan tap-dance.
Pada masa mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Anwar dan kawan-kawan adalah pengagum berat James Dean,John Wayne, dan Victor Mature. Mereka secara terang-terangan mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan kawat.
Dalam Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan, yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam sejarah.
Kemudian sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya. Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.
Proses pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.
Yang paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara bayangan tentang moral dengan bencana moral

Biadab dan menyedihkan sekali film jagal ini. Seperti tamparan saja. Kita masyarakat awam disadarkan dengan menyaksikan film dokumenter ini. Ayolah, sadar. Ada yang tidak beres dengan peristiwa G30S 48 tahun silam. Sudah adakah permintaan maaf dari pemerintah atas peristiwa G30S serta peristiwa-peristiwa yang mengikutinya? Apakah sejarah memang tak bisa sesuai fakta? Apa kita biarkan saja ada berbagai versi sejarah sesuai kepentingan yang membuatnya? Kapan lagi bangsa ini belajar jujur? Banyak sekali pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Mungkin hal pertama yang penting kita upayakan adalah sadar. Sadar apa yang telah dan sedang terjadi. Silakan ditonton film nya, agar kita bisa sadar bersama J

Film dapat diunduh gratis di situs www.actofkilling.com

Selamat Hari Pohon

Manusia adalah makhluk yang paling egois di muka bumi ini. Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, manusia merasa menjadi makhluk yang paling berkuasa di dunia. Mereka melupakan bahwa ada makhluk hidup lain yang tinggal bersama mereka di bumi ini dan seharusnya saling menjaga. Sejak SD saat belajar IPA kita mengetahui  bahwa ada 3 makhluk hidup di bumi yaitu manusia, hewan dan tumbuhan. Spesifikasi mana yang manusia, hewan dan tumbuhan dijelaskan lebih lanjut saat belajar biologi di bangku SMP dan SMA. Bahkan di perguruan tinggi pun masih hal yang sama dijumpai, manusia, hewan dan tumbuhan. Ada yang lebih istimewa dari ketiga makhluk hidup tersebut? Tentu ada, manusia memiliki keistimewaan khusus karena selain dapat berkembang biak manusia juga dapat berfikir dan punya perasaan, sementara hewan dan tumbuhan hanya dapat berkembang biak.

Dari dulu manusia mendominasi kehidupan ini, tentu karena keistimewaannya dibandingkan makhluk hidup lainnya. Tidak ada yang salah jika manusia mengkonsumsi tumbuhan dan hewan untuk dapat bertahan hidup. Siklus yang seperti itu normal, siklus kehidupan yang akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Eits, tunggu dulu, manusia sepertinya tak bisa berharap banyak untuk siklus makanannya yang biasa JIKA tak ada lagi tumbuhan dan hewan yang bisa dikonsumsi. Melihat belakangan ini manusia tidak sekedar butuh tetapi mencari kepuasaan yang berlebihan. Akibatnya tumbuhan dan hewan makin langka.

Di hutan pohon-pohon ditebang secara tak legal, banyak. Hutan Sumatera dan Kalimantan sering diberitakan tentang kerusakan hutannya untuk perluasan areal perkebunan perusahaan-perusahan raksasa. Akibat penebangan hutan habitat hewan seperti gajah, harimau dan orang utan menjadi terganggu. Ancaman kepunahan menghantui. Di kota pun pohon tak kalah sengsara. Di tebang untuk pelebaran jalan, pemukiman baru, dan pemasangan spanduk-spanduk serta papan iklan. Nasibmu pohon. Apalagi kalau sedang musim kampanye pemilu. Pohon-pohon bertambah fungsinya, tidak hanya sebagai peneduh, pemberi oksigen gratis, dan memperindah kota. Wajah-wajah calon pemimpin menghiasi pepohonan. Wajah-wajah calon pemimpin tak bermodal, mereka memilih memaku pohon-pohon untuk menggantungkan foto mereka ketimbang membayar pajak iklan di papan-papan reklame yang sudah disediakan.

Nasibmu pohon. Saya tak punya kuasa untuk mencabut paku-paku di pohon, pun tak punya kuasa melarang mereka-mereka merusak pohon. Kuasa saya bukan di situ. Kuasa saya di bidang saya sebagai pengajar. Saya akan ajarkan kepada murid-murid untuk tidak merusak dan menebangi pohon sembarangan. Saya ajarkan menanam pohon, dan bagaimana bersikap baik kepada sesama makhluk hidup. Sehingga 20 tahun mendatang akan terbentuk generasi hijau yang mencintai alam dengan tulus dan tak kita dengar lagi masalah kerusakan lingkungan oleh tangan-tangan manusia.


Walau terlambat tetap selalu ada salam dan doa untuk tanggal 21 November. Selamat Hari Pohon. Semoga kita semakin peka dengan keberadaan makhluk hidup lainnya di bumi ini, karena bumi tidak hanya milik manusia.



Selasa, 19 November 2013

Gunung Kerinci

panorama alam Kerinci

Keindahan Gunung Kerinci menjadi primadona para pendaki di Pulau Sumatera. Beruntungnya saya sudah pernah merasakan tidur beralaskan tanah dingin Gunung Kerinci. Sebagai gunung tertinggi ke 2 dan gunung api aktif tertinggi nomor 1 di Indonesia, Gunung Kerinci memiliki daya tarik tersendiri. Selain hutannya yang masih terjaga, Gunung Kerinci tergolong gunung yang bersih. Sangat jarang ditemukan sampah-sampah seperti yang sering terlihat di gunung Marapi Sumbar. Mungkin karena pendaki yang ke sini tidak sebanyak di gunung Marapi.

Tugu macan menjadi penanda jalan masuk ke Pintu Rimba Gunung Kerinci. Kita akan melewati hamparan kebun teh yang hijau dan luas. Sebelum ke Pintu Rimba harus singgah ke R-10 terlebih dulu. R-10 adalah salah satu kantor atau pos Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sekaligus tempat mengurus ijin pendakian. Di sana kita harus mendaftarkan nama dan membayar karcis masuk. Bisa beristirahat sebentar jika mau.
Lazimnya pendakian ke Gunung Kerinci dimulai pada pagi hari sekitar pukul 7 agar bisa tiba di Shelter 2 atau 3 sebelum malam. Kemudian akan naik ke Puncak Kerinci 3805 mpdl keesokan harinya setelah bermalam di Shelter 2 atau 3. Tetapi karena kami terlambat tiba di R-10 maka perjalanan dimulai sekitar pukul 12 siang, setelah makan siang. Alhasil sudah pukul 5 sore tetapi kami baru tiba di pos 2.


bang Andes di tugu macan

di depan R-10 yang sepi

pintu rimba

sumber: regional.kompas.com

Rute pendakian ke Gunung Kerinci: Tugu macan - R10 – Pintu Rimba – Pos 1 – Pos 2 – Pos 3 – Shelter 1 – Shelter 2 – Shelter 3 – Tugu Yuda – Puncak Kerinci

Karena tim kami yaitu bang Dije (leader), Abas, Budi, bang Andes, Aldo, Fitri, dan saya tidak menginginkan perjalanan malam hari dan memang pendakian kali ini adalah pendakian yang santai kami sepakat untuk bermalam di Pos 2.

Keesokan paginya, pukul 6, kami sudah mulai jalan. Awalnya saya senang sekali dengan track pendakian Gunung Kerinci ini karena landai. Sedikit sekali jalan menanjak dan banyak bonusnya. Di sepanjang jalan banyak menemukan tumbuhan-tumbuhan, pohon-pohon dan hewan-hewan unik. Perjalanan ini sangat dinikmati. Tetapi lama kelamaan medan pun berubah. Dari shelter 1 hingga ke shelter 2 kami tak bisa bersenang-senang lagi karena jalur yang dilalui sudah ‘hebat’. Tanjakan-tanjakan terjal menyambut kami. Nafas yang ngos-ngosan , lutut yang gemetaran dan carrier  yang terasa makin memberat di pundak membuat langkah kami semakin pelan, lebih tepatnya langkah saya sih, karena teman-teman yang lain masih perkasa semua.


landai


mulai terjal
Pukul 5 sore kami tiba di shelter 2 dan kami harus istirahat lagi. Seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa kami menghindari perjalanan di malam hari. Terlalu banyak resikonya. Mulai dari jalur pendakian yang ekstrim sehingga kalau jalan di malam hari akan menjadi lebih ekstrim  lagi, penerangan yang kurang memadai, suhu yang dingin, dan ada satu lagi alasan yaitu tak ingin bertemu ‘datuk’. Gunung Kerinci merupakan habitat Harimau Sumatera. Mereka berkeliaran di sekitar kita. Para pendaki sering menjumpai jejak-jejak harimau di jalur pendakian. Nah, menurut cerita teman-teman yang sudah sering mendaki ke sini, kalau malam hari si ‘datuk’ ini sering menampakkan diri. Seram kan. Jadi lebih baik beristirahat jika senja sudah menjelang, baik juga untuk menjaga stamina.

Subuh-subuh sekali, pukul 2 kami summit attack.   Tenda dan barang bawaan lainnya kami tinggalkan di shelter 2. Perjalanan dari shelter 2 menuju shelter 3 lumayan sulit, melewati akar-akar. Sepanjang jalan harus mengatur langkah agar tak jatuh ke parit-parit sambil memegang akar-akar untuk menjaga keseimbangan tubuh. Di kiri dan kanan tumbuh pohon-pohon cantigi dan pohon-pohon perdu lainnya. Cantik sekali. Tiba di shelter 3 kami beristirahat sebentar untuk mengatur nafas. Maklum, perjalanan dari shelter 2 tadi lumayan bikin sesak nafas. Tak berlama-lama di shelter 3 karena udara semakin menusuk tulang, kami lanjutkan perjalanan. Mulai memasuki daerah bebatuan cadas dengan kemiringan hampir 45 derajat.


pagi buta di cadas

Pukul 5 saat matahari baru terbit kami masih di punggungan. kami mencari tempat yang agak datar dan memulai ritual menikmati sunrise. Semuanya terdiam, hening, dan fokus melihat ke arah timur. Indah benar pemandangan di depan mata kami. Matahari makin bergulir ke atas, kami pun lanjut jalan. Batuan cadas memang cadass, kadang-kadang kami merosot karena batu-batu pijakan longsor. Supaya semua stabil kami berpegangan pada weebing yang saling bertaut sehingga menjadi lebih panjang. Kalau jatuh satu ya jatuh semua, :p


sunrise

sudah 45 derajat belum?


di lihat dari bawah


pose ini dibuat jauh sebelum film 5cm tayang :p


cadass

Sudah pukul 9, kami tiba. Belum puncak, ini namanya tugu Yuda. Tahun 1998 (kalau tak salah) ada seorang pemuda ganteng asal Jakarte yang mendaki ke gunung Kerinci. Tapi kemudian dia dinyatakan hilang. Jasadnya sampai hari ini tidak ditemukan. Karena katanya (lagi) dia anak salah satu pejabat di Jakarta maka pencarian ekstra dilakukan. Sampai mengerahkan tim pencari dari pusat sana. Hasilnya tetap tidak ditemukan. Di titik inilah dia terakhir kali terlihat. Dibuatkan tugu untuk mengenangnya. Dinamai dengan namanya, Yuda. Tugu Yuda. Ada hal unik yang saya temui di tugu Yuda ini. Banyak gelang dan kalung yang terbuat dari tali prusik –khas para pendaki gunung- yang diletakkan di tugu Yuda. Kata bang Dije itu diletakkan para pendaki yang mampir di sini untuk mendoakan Yuda. Banyak sekali aksesorisnya, Aldo iseng ingin mengambil, tapi langsung ciut nyalinya karena bang Dije bilang : “emang mau nanti diikutin sama Yuda sampai ke rumah trus di suruh kembalikan lagi ke atas” .




Abas melihat-lihat aksesoris Yuda

Kabut mulai turun, menutupi jarak pandang. Pemandangan kota yang tadi sempat terlihat dari atas lenyap tertutup kabut. Kami tak memaksakan diri ke puncak karena kabut yang tebal sudah menutupi puncak gunung. Biasanya jika sudah lewat pukul 9 puncak memang berkabut dan bau belerang semakin kuat. Belum lagi kemiringan jalur yang akan kami lalui menuju puncak akan lebih terjal lagi. Dengan sedikit kecewa kami tidak naik ke puncak dan tetap diam di Tugu Yuda sampai jarak pandang agak membaik. Setelah aman kami pun turun kembali menuju shelter 2.


kabut mulai tebal


abu-abu

turun gunung

singgah di shelter 3

edelweiss

Perjalanan turun seperti main ski saja, tetapi di batuan cadas yang berpasir. Kalau pandai mengatur langkah dan mengambil pijakan, Insyallah selamat sampai di bawah. <- ini tidak disarankan dan jangan ditiru, utamakan keselamatan.

Ayo mendaki gunung.