Jumat, 22 November 2013

Selamat Hari Pohon

Manusia adalah makhluk yang paling egois di muka bumi ini. Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, manusia merasa menjadi makhluk yang paling berkuasa di dunia. Mereka melupakan bahwa ada makhluk hidup lain yang tinggal bersama mereka di bumi ini dan seharusnya saling menjaga. Sejak SD saat belajar IPA kita mengetahui  bahwa ada 3 makhluk hidup di bumi yaitu manusia, hewan dan tumbuhan. Spesifikasi mana yang manusia, hewan dan tumbuhan dijelaskan lebih lanjut saat belajar biologi di bangku SMP dan SMA. Bahkan di perguruan tinggi pun masih hal yang sama dijumpai, manusia, hewan dan tumbuhan. Ada yang lebih istimewa dari ketiga makhluk hidup tersebut? Tentu ada, manusia memiliki keistimewaan khusus karena selain dapat berkembang biak manusia juga dapat berfikir dan punya perasaan, sementara hewan dan tumbuhan hanya dapat berkembang biak.

Dari dulu manusia mendominasi kehidupan ini, tentu karena keistimewaannya dibandingkan makhluk hidup lainnya. Tidak ada yang salah jika manusia mengkonsumsi tumbuhan dan hewan untuk dapat bertahan hidup. Siklus yang seperti itu normal, siklus kehidupan yang akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Eits, tunggu dulu, manusia sepertinya tak bisa berharap banyak untuk siklus makanannya yang biasa JIKA tak ada lagi tumbuhan dan hewan yang bisa dikonsumsi. Melihat belakangan ini manusia tidak sekedar butuh tetapi mencari kepuasaan yang berlebihan. Akibatnya tumbuhan dan hewan makin langka.

Di hutan pohon-pohon ditebang secara tak legal, banyak. Hutan Sumatera dan Kalimantan sering diberitakan tentang kerusakan hutannya untuk perluasan areal perkebunan perusahaan-perusahan raksasa. Akibat penebangan hutan habitat hewan seperti gajah, harimau dan orang utan menjadi terganggu. Ancaman kepunahan menghantui. Di kota pun pohon tak kalah sengsara. Di tebang untuk pelebaran jalan, pemukiman baru, dan pemasangan spanduk-spanduk serta papan iklan. Nasibmu pohon. Apalagi kalau sedang musim kampanye pemilu. Pohon-pohon bertambah fungsinya, tidak hanya sebagai peneduh, pemberi oksigen gratis, dan memperindah kota. Wajah-wajah calon pemimpin menghiasi pepohonan. Wajah-wajah calon pemimpin tak bermodal, mereka memilih memaku pohon-pohon untuk menggantungkan foto mereka ketimbang membayar pajak iklan di papan-papan reklame yang sudah disediakan.

Nasibmu pohon. Saya tak punya kuasa untuk mencabut paku-paku di pohon, pun tak punya kuasa melarang mereka-mereka merusak pohon. Kuasa saya bukan di situ. Kuasa saya di bidang saya sebagai pengajar. Saya akan ajarkan kepada murid-murid untuk tidak merusak dan menebangi pohon sembarangan. Saya ajarkan menanam pohon, dan bagaimana bersikap baik kepada sesama makhluk hidup. Sehingga 20 tahun mendatang akan terbentuk generasi hijau yang mencintai alam dengan tulus dan tak kita dengar lagi masalah kerusakan lingkungan oleh tangan-tangan manusia.


Walau terlambat tetap selalu ada salam dan doa untuk tanggal 21 November. Selamat Hari Pohon. Semoga kita semakin peka dengan keberadaan makhluk hidup lainnya di bumi ini, karena bumi tidak hanya milik manusia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar