Manusia
adalah makhluk yang paling egois di muka bumi ini. Dengan segala kelebihan yang
dimilikinya, manusia merasa menjadi makhluk yang paling berkuasa di dunia. Mereka
melupakan bahwa ada makhluk hidup lain yang tinggal bersama mereka di bumi ini
dan seharusnya saling menjaga. Sejak SD saat belajar IPA kita mengetahui bahwa ada 3 makhluk hidup di bumi yaitu
manusia, hewan dan tumbuhan. Spesifikasi mana yang manusia, hewan dan tumbuhan
dijelaskan lebih lanjut saat belajar biologi di bangku SMP dan SMA. Bahkan di
perguruan tinggi pun masih hal yang sama dijumpai, manusia, hewan dan tumbuhan.
Ada yang lebih istimewa dari ketiga makhluk hidup tersebut? Tentu ada, manusia
memiliki keistimewaan khusus karena selain dapat berkembang biak manusia juga dapat
berfikir dan punya perasaan, sementara hewan dan tumbuhan hanya dapat
berkembang biak.
Dari
dulu manusia mendominasi kehidupan ini, tentu karena keistimewaannya
dibandingkan makhluk hidup lainnya. Tidak ada yang salah jika manusia
mengkonsumsi tumbuhan dan hewan untuk dapat bertahan hidup. Siklus yang seperti
itu normal, siklus kehidupan yang akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Eits,
tunggu dulu, manusia sepertinya tak bisa berharap banyak untuk siklus makanannya
yang biasa JIKA tak ada lagi tumbuhan dan hewan yang bisa dikonsumsi. Melihat belakangan
ini manusia tidak sekedar butuh tetapi mencari kepuasaan yang berlebihan. Akibatnya
tumbuhan dan hewan makin langka.
Di
hutan pohon-pohon ditebang secara tak legal, banyak. Hutan Sumatera dan
Kalimantan sering diberitakan tentang kerusakan hutannya untuk perluasan areal
perkebunan perusahaan-perusahan raksasa. Akibat penebangan hutan habitat hewan seperti gajah, harimau dan orang utan menjadi terganggu. Ancaman kepunahan menghantui. Di kota pun pohon tak kalah sengsara. Di
tebang untuk pelebaran jalan, pemukiman baru, dan pemasangan spanduk-spanduk
serta papan iklan. Nasibmu pohon. Apalagi kalau sedang musim kampanye pemilu. Pohon-pohon
bertambah fungsinya, tidak hanya sebagai peneduh, pemberi oksigen gratis, dan
memperindah kota. Wajah-wajah calon pemimpin menghiasi pepohonan. Wajah-wajah
calon pemimpin tak bermodal, mereka memilih memaku pohon-pohon untuk
menggantungkan foto mereka ketimbang membayar pajak iklan di papan-papan
reklame yang sudah disediakan.
Nasibmu
pohon. Saya tak punya kuasa untuk mencabut paku-paku di pohon, pun tak punya
kuasa melarang mereka-mereka merusak pohon. Kuasa saya bukan di situ. Kuasa saya
di bidang saya sebagai pengajar. Saya akan ajarkan kepada murid-murid untuk
tidak merusak dan menebangi pohon sembarangan. Saya ajarkan menanam pohon, dan
bagaimana bersikap baik kepada sesama makhluk hidup. Sehingga 20 tahun mendatang
akan terbentuk generasi hijau yang mencintai alam dengan tulus dan tak kita dengar lagi masalah kerusakan lingkungan oleh tangan-tangan manusia.
Walau
terlambat tetap selalu ada salam dan doa untuk tanggal 21 November. Selamat
Hari Pohon. Semoga kita semakin peka dengan keberadaan makhluk hidup lainnya di
bumi ini, karena bumi tidak hanya milik manusia.
![]() |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar