Bulan
Oktober yang lalu di kelas teori kritis, ada seorang teman yang
merekomendasikan satu film dokumenter untuk bahan diskusi. Film itu berjudul
Jagal. Film dokumenter yang tayang perdana pada tahun lalu ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti PKI yang
terjadi di tahun 1965-1966 memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk
menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik. Film karya sutradara
Joshua Oppenheimer dari Amerika ini
aslinya berjudul The Act of Killing. Ironis, pengungkapan fakta sejarah bangsa
kita dilakukan oleh orang asing.
Latar
belakang film Jagal yang saya kutip dari Wikipedia:
Setelah PKI dituduh
oleh TNI sebagai pelaku G30S di tahun 1965,
Anwar dan kawan-kawan "naik pangkat" dari preman kelas teri pencatut
karcis bioskop menjadi pemimpin pasukan pembunuh. Mereka membantu tentara
membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan intelektual,
dalam waktu kurang dari satu tahun. Sebagai seorang algojo dalam pasukan
pembunuh yang paling terkenal kekejamannya di Medan, Anwar telah membunuh
ratusan orang dengan tangannya sendiri.
Hari ini,
Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda
Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan pembunuh itu. Organisasi ini begitu
kuat pengaruhnya sehingga pemimpinnya bisa menjadi menteri, dan dengan santai
menyombongkan segala macam hal, dari korupsi dan mengakali pemilu sampai
melaksanakan genosida.
Dalam Jagal, para pembunuh bercerita
tentang pembunuhan yang mereka lakukan, dan cara yang mereka gunakan untuk
membunuh. Tidak seperti para pelaku genosida Nazi atau Rwanda yang menua, Anwar
dan kawan-kawannya tidak pernah sekalipun dipaksa oleh sejarah untuk mengakui
bahwa mereka ikut serta dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka justru
menuliskan sendiri sejarahnya yang penuh kemenangan dan menjadi panutan bagi
jutaan anggota PP. Jagal adalah sebuah perjalanan menembus ingatan dan
imajinasi para pelaku pembunuhan dan menyampaikan pengamatan mendalam dari
dalam pikiran para pembunuh massal. Jagal adalah sebuah mimpi buruk kebudayaan
banal yang tumbuh di sekitar impunitas ketika seorang pembunuh dapat berkelakar
tentang kejahatan terhadap kemanusiaan di acara bincang-bincang televisi, dan
merayakan bencana moral dengan kesantaian dan keanggunan tap-dance.
Pada masa
mudanya, Anwar dan kawan-kawan menghabiskan hari-harinya di bioskop karena
mereka adalah preman bioskop: mereka menguasai pasar gelap karcis, dan pada
saat yang sama menggunakan bioskop sebagai markas operasi untuk kejahatan yang
lebih serius. Di tahun 1965, tentara merekrut mereka untuk membentuk pasukan
pembunuh dengan pertimbangan bahwa mereka telah terbukti memiliki kemampuan
melakukan kekerasan, dan mereka membenci komunis yang berusaha memboikot
pemutaran film Amerika—film-film yang paling populer (dan menguntungkan). Anwar
dan kawan-kawan adalah pengagum berat James Dean,John Wayne, dan Victor Mature. Mereka secara terang-terangan
mengikuti gaya berpakaian dan cara membunuh dari idola mereka dalam film-film
Holywood. Keluar dari pertunjukan midnight, mereka merasa “seperti gangster
yang keluar dari layar.” Masih terpengaruh suasana, mereka menyeberang jalan ke
kantor dan membunuh tahanan yang menjadi jatah harian setiap malam. Meminjam
teknik dari film mafia, Anwar lebih menyukai menjerat korban-korbannya dengan
kawat.
Dalam
Jagal, Anwar dan kawan-kawan bersepakat untuk menyampaikan cerita pembunuhan
tersebut kepada sutradara. Tetapi idenya bukanlah direkam dalam film dan
menyampaikan testimoni untuk sebuah film dokumenter: mereka ingin menjadi
bintang dalam ragam film yang sangat mereka gemari di masa mereka masih menjadi
pencatut karcis bioskop. Sutradara menangkap kesempatan ini untuk mengungkap
bagaimana sebuah rezim yang didirikan di atas kejahatan terhadap kemanusiaan,
yang belum pernah dinyatakan bertanggung jawab, memproyeksikan dirinya dalam
sejarah.
Kemudian
sutradara film menantang Anwar dan kawan-kawannya untuk mengembangkan
adegan-adegan fiksi mengenai pengalaman mereka membunuh dengan mengadaptasi
genre film favorit mereka—gangster, koboi, musikal. Mereka menulis naskahnya.
Mereka memerankan diri sendiri. Juga memerankan korban mereka sendiri.
Proses
pembuatan film fiksi menyediakan sebuah alur dramatis, dan set film menjadi
ruang aman untuk menggugat mereka mengenai apa yang mereka lakukan di masa
lalu. Beberapa teman Anwar menyadari bahwa pembunuhan itu salah. Yang lain khawatir
akan konsekuensi kisah yang mereka sampaikan terhadap citra mereka di mata
publik. Generasi muda PP berpendapat bahwa mereka selayaknya membualkan horor
pembantaian tersebut karena kengerian dan daya ancamnya adalah basis bagi
kekuasaan PP hari ini. Saat pendapat berselisih, suasana di set berkembang
menjadi tegang. Bangunan genosida sebagai “perjuangan patriotik”, dengan Anwar
dan kawan-kawan sebagai pahlawannya, mulai berguncang dan retak.
Yang
paling dramatis, proses pembuatan film fiksi ini menjadi katalis bagi
perjalanan emosi Anwar, dari jumawa menjadi sesal ketika ia menghadapi, untuk
pertama kali dalam hidupnya, segenap konsekuensi dari semua yang pernah
dilakukannya. Saat nurani Anwar yang rapuh mulai terdesak oleh hasrat untuk
tetap menjadi pahlawan, Jagal menyajikan sebuah konflik yang mencekam antara
bayangan tentang moral dengan bencana moral
Biadab
dan menyedihkan sekali film jagal ini. Seperti tamparan saja. Kita masyarakat
awam disadarkan dengan menyaksikan film dokumenter ini. Ayolah, sadar. Ada yang
tidak beres dengan peristiwa G30S 48 tahun silam. Sudah adakah permintaan maaf dari
pemerintah atas peristiwa G30S serta peristiwa-peristiwa yang mengikutinya? Apakah
sejarah memang tak bisa sesuai fakta? Apa kita biarkan saja ada berbagai versi
sejarah sesuai kepentingan yang membuatnya? Kapan lagi bangsa ini belajar
jujur? Banyak sekali pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Mungkin hal pertama
yang penting kita upayakan adalah sadar. Sadar apa yang telah dan sedang terjadi. Silakan
ditonton film nya, agar kita bisa sadar bersama J
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar