Senin, 25 November 2013

Hari Ini Hari Guru

Pagi itu hujan turun, tidak deras, tapi awet. Sedari subuh betul hujan mulai menyapa. Di ruang depan sebuah kantor pemerintahan yang menangani tentang masalah sosial duduk dua orang pegawai, wanita, cantik-cantik, bermake-up. Keduanya mengenakan jilbab modis yang lagi jadi trend, dengan bulatan seperti sanggul di bagian belakangnya. Ah, wanita masa kini mereka itu. Masih muda.

Ini pukul 10 pagi, suasana gelap karena mendung. Kedua orang pegawai itu sibuk mengetik di komputer. Entahlah mengetik apa. Sesekali melirik ke handphone pintar mereka, mengambilnya, senyum-senyum, meletakkannya lagi, dan kembali mengetik di komputer. Begitu terus beberapa kali.

Sepi sekali kantor pagi menjelang siang itu. Mungkin karena hujan, orang-orang malas berpergian ke luar. Padahal jika hari cerah maka bapak-bapak berperut buncit sering pergi ke luar di jam segini, ngopi katanya sembari menyapa dua pegawai wanita yang cantik di meja depan. Tapi sekarang sedang hujan. Ngopinya di dalam ruangan kantor saja.

Pukul 10 lewat 17 menit, seperti itu yang tampak pada jam dinding di atas pintu masuk kantor, masuklah seorang bapak yang rambutnya sudah putih semua. Ia memegang tongkat di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang payung. Ia belum masuk, berhenti sebentar untuk meletakkan payungnya di luar kantor. Jaket hitamnya yang parasut agak basah. Angin terlalu kencang rupanya, sehingga payungnya tak cukup untuk melindungi pakaiannya. Masuk ia ke dalam kantor, menuju meja di dalam ruang depan.

“permisi, saya mau bertemu dengan pak kepala dinas” kata bapak berjaket hitam itu kepada 2 orang pegawai wanita di belakang meja.

Salah seorang pegawai wanita mengarahkan pandangannya ke bapak itu, tersenyum dan menanyakan apa keperluan si bapak.

“saya mau mengurus dana sosial”. Kata si bapak.

“dana sosial apa ya pak?” tanya pegawai yang satunya lagi.

“dana sosial untuk orang yang tak mampu, saya butuh uang untuk berobat, saya ini dulunya guru”. Jawab si bapak.

“sebentar ya pak, duduk dulu. Saya hubungi atasan saya dulu”, kata si pegawai.

10 menit, 15 menit, 20 menit, keluarlah seorang lelaki yang sepertinya berusia 35 tahun dari ruangan di bagian dalam kantor. “mana?” tanya nya kepada pegawai wanita di meja depan.

“bapak yang itu pak”’ jawab salah satu pegawai wanita sambil menunjuk ke arah si bapak yang sedang duduk di sofa.

“suruh masuk ke ruangan saya ya”, lanjut si lelaki sambil berlalu.

“pak, mari masuk”, ajak salah satu pegawai wanita kepada si bapak. Ia bangkit dari duduknya dan megikuti si pegawai masuk ke sebuah ruangan di bagian dalam.

Si bapak sedang duduk berhadapan dengan si lelaki. Mereka berbatas meja kerja yang dingin beralas kaca. Si lelaki memulai pembicaraan, “jadi bapak ini guru dimana dulu?” tanyanya. Si bapak bercerita panjang lebar bahwa ia dulunya pernah mengajar di salah satu SMA negeri terbaik di kota ini, sebagai guru bahasa Jepang. Ia hanya guru kontrak. Di masa tuanya sebelum ia sakit-sakitan ia sempat mengojek dan tak lama setelah itu ia dikeluarkan dari sekolah, karena sudah ada guru PNS yang mengganti posisinya. Kini ia sakit, harus berobat dan tak punya uang. Untuk itulah ia datang ke kantor pemerintah ini berharap mendapatkan bantuan.

Si lelaki manggut-manggut mendengar cerita si bapak. Ia pun membuka laci, mengeluarkan amplop putih, menarik dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, memasukkan ke dalam amplop dan menyerahkan kepada si bapak. “pak, ini ambil lah, ini dari saya pribadi. Kalau dari kantor kami tidak menyediakan dana seperti itu, prosedurnya panjang, harus ada proposal, dan lama sekali urusannya, mohon dimaklumi ya pak”.

“walaupun saya seorang guru?” tanya si bapak.

“pak, apa bapak punya NUPTK? Punya SK mengajar?” si lelaki kembali bertanya.

“ya tidak ada, saya hanya dikontrak, tak ada surat apa-apa, SK pun tak ada, apa lagi NUPTK”. Jawab si bapak.

“nah kalau begitu bagaimana kami bisa memprosesnya pak?  kami tak boleh sembarangan. Sekarang bapak pakai saja uang dari saya ini untuk berobat, ya pak. Saya ikhlas”.


Si bapak mengambil uang yang diberi si lelaki, mengucapkan terima kasih dan segera keluar dari ruangan. Di luar hujan masih turun, angin masih kencang, namun ia tak mau berlama-lama ada di kantor itu. Ia mengambil payungnya, dan berlalu. 

Di kalender hari ini adalah 25 November 2013, bukan hari libur, ini hari guru.

                                            -------------------------------------------------

Nurdin Sensei

Selamat Hari Guru. Saya masih berhutang kepada guru bahasa Jepang SMA saya di Tanjungpinang, namanya Pak Nurdin Sitompul. Kami biasa memanggilnya Nurdin Sensei. Saya berhutang untuk menemuinya ketika saya sudah lancar berbahasa Jepang. Saya ingin bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dengannya. Semoga Tuhan memberinya kesehatan dan umur panjang, sehingga kesempatan untuk bertemu dengannya dapat saya tunaikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar