Pagi
itu hujan turun, tidak deras, tapi awet. Sedari subuh betul hujan mulai
menyapa. Di ruang depan sebuah kantor pemerintahan yang menangani tentang
masalah sosial duduk dua orang pegawai, wanita, cantik-cantik, bermake-up. Keduanya mengenakan jilbab modis
yang lagi jadi trend, dengan bulatan seperti sanggul di bagian belakangnya. Ah,
wanita masa kini mereka itu. Masih muda.
Ini pukul 10 pagi, suasana gelap karena
mendung. Kedua orang pegawai itu sibuk mengetik di komputer. Entahlah mengetik
apa. Sesekali melirik ke handphone
pintar mereka, mengambilnya, senyum-senyum, meletakkannya lagi, dan kembali
mengetik di komputer. Begitu terus beberapa kali.
Sepi
sekali kantor pagi menjelang siang itu. Mungkin karena hujan, orang-orang malas
berpergian ke luar. Padahal jika hari cerah maka bapak-bapak berperut buncit
sering pergi ke luar di jam segini, ngopi katanya sembari menyapa dua pegawai
wanita yang cantik di meja depan. Tapi sekarang sedang hujan. Ngopinya di dalam
ruangan kantor saja.
Pukul
10 lewat 17 menit, seperti itu yang tampak pada jam dinding di atas pintu masuk
kantor, masuklah seorang bapak yang rambutnya sudah putih semua. Ia memegang
tongkat di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang payung. Ia belum
masuk, berhenti sebentar untuk meletakkan payungnya di luar kantor. Jaket hitamnya
yang parasut agak basah. Angin terlalu kencang rupanya, sehingga payungnya tak
cukup untuk melindungi pakaiannya. Masuk ia ke dalam kantor, menuju meja di
dalam ruang depan.
“permisi,
saya mau bertemu dengan pak kepala dinas” kata bapak berjaket hitam itu kepada
2 orang pegawai wanita di belakang meja.
Salah
seorang pegawai wanita mengarahkan pandangannya ke bapak itu, tersenyum dan menanyakan
apa keperluan si bapak.
“saya
mau mengurus dana sosial”. Kata si bapak.
“dana
sosial apa ya pak?” tanya pegawai yang satunya lagi.
“dana
sosial untuk orang yang tak mampu, saya butuh uang untuk berobat, saya ini
dulunya guru”. Jawab si bapak.
“sebentar
ya pak, duduk dulu. Saya hubungi atasan saya dulu”, kata si pegawai.
10
menit, 15 menit, 20 menit, keluarlah seorang lelaki yang sepertinya berusia 35
tahun dari ruangan di bagian dalam kantor. “mana?” tanya nya kepada pegawai
wanita di meja depan.
“bapak
yang itu pak”’ jawab salah satu pegawai wanita sambil menunjuk ke arah si bapak
yang sedang duduk di sofa.
“suruh
masuk ke ruangan saya ya”, lanjut si lelaki sambil berlalu.
“pak,
mari masuk”, ajak salah satu pegawai wanita kepada si bapak. Ia bangkit dari duduknya
dan megikuti si pegawai masuk ke sebuah ruangan di bagian dalam.
Si
bapak sedang duduk berhadapan dengan si lelaki. Mereka berbatas meja kerja yang
dingin beralas kaca. Si lelaki memulai pembicaraan, “jadi bapak ini guru dimana
dulu?” tanyanya. Si bapak bercerita panjang lebar bahwa ia dulunya pernah
mengajar di salah satu SMA negeri terbaik di kota ini, sebagai guru bahasa Jepang.
Ia hanya guru kontrak. Di masa tuanya sebelum ia sakit-sakitan ia sempat
mengojek dan tak lama setelah itu ia dikeluarkan dari sekolah, karena sudah ada
guru PNS yang mengganti posisinya. Kini ia sakit, harus berobat dan tak punya
uang. Untuk itulah ia datang ke kantor pemerintah ini berharap mendapatkan
bantuan.
Si
lelaki manggut-manggut mendengar cerita si bapak. Ia pun membuka laci,
mengeluarkan amplop putih, menarik dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar
uang, memasukkan ke dalam amplop dan menyerahkan kepada si bapak. “pak, ini
ambil lah, ini dari saya pribadi. Kalau dari kantor kami tidak menyediakan dana
seperti itu, prosedurnya panjang, harus ada proposal, dan lama sekali
urusannya, mohon dimaklumi ya pak”.
“walaupun
saya seorang guru?” tanya si bapak.
“pak,
apa bapak punya NUPTK? Punya SK mengajar?” si lelaki kembali bertanya.
“ya
tidak ada, saya hanya dikontrak, tak ada surat apa-apa, SK pun tak ada, apa
lagi NUPTK”. Jawab si bapak.
“nah
kalau begitu bagaimana kami bisa memprosesnya pak? kami tak boleh sembarangan. Sekarang bapak
pakai saja uang dari saya ini untuk berobat, ya pak. Saya ikhlas”.
Si
bapak mengambil uang yang diberi si lelaki, mengucapkan terima kasih dan segera
keluar dari ruangan. Di luar hujan masih turun, angin masih kencang, namun ia
tak mau berlama-lama ada di kantor itu. Ia mengambil payungnya, dan berlalu.
Di kalender hari ini adalah 25 November 2013, bukan hari libur, ini hari guru.
-------------------------------------------------
 |
| Nurdin Sensei |
Selamat Hari Guru. Saya masih berhutang kepada guru bahasa Jepang SMA saya di Tanjungpinang, namanya Pak Nurdin Sitompul. Kami biasa memanggilnya Nurdin Sensei. Saya berhutang untuk menemuinya ketika saya sudah lancar berbahasa Jepang. Saya ingin bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dengannya. Semoga Tuhan memberinya kesehatan dan umur panjang, sehingga kesempatan untuk bertemu dengannya dapat saya tunaikan.