Sabtu, 09 November 2013

Responsible Travel Writer

Akhir-akhir ini wacana tentang responsible travel writers sedang panas-panasnya, menyusul komentar salah seorang penulis di kompasiana tentang banyaknya wisatawan di gua pindul sehingga membuat salah satu wilayah konservasi ini terancam rusak. Si mbak penulis tersebut mempertanyakan apakah ramainya pengunjung juga merupakan tanggung jawab travel writers? Karena sebelumnya gua pindul tidak dikenal. Keindahannya diceritakan oleh travel writers, dibaca banyak orang, sehingga banyak yang berwisata ke sana. Sebelum di gua pindul kejadian serupa juga terjadi di gunung Semeru saat ada pendakian masal dan euforia film 5cm serta di candi Borobudur saat perayaan waisaknya. Travel writers banyak yang membuat pembelaan atas pernyataan si mbak di kompasiana itu. Mereka tidak sepakat disebut sebagai penyebab rusaknya tempat wisata karena tulisan atau foto mereka yang persuasif.

Saya pernah punya pengalaman mengenai hal semacam ini, yaitu saat saya dan teman-teman melakukan perjalanan ke pulau Mapur. Pak RT di sana bilang: “silakan promosikan keindahan pulau Mapur ya, biar banyak wisatawan yang datang ke sini, kalau banyak yang datang ke sini kami senang juga lah”. Tentu saya bersemangat sekali dan berencana akan meng-upload foto-foto pantai yang indah ke facebook dan mengajak teman-teman yang lain datang ke pulau Mapur. 

Tapi kemudian salah seorang teman yang juga ikut dalam perjalanan ke pulau Mapur bilang: “wah, nanti kalau kita sebarkan foto-foto di pulau Mapur banyak orang datang ke sini, rusak nanti keindahan pulau ini sama oknum-oknum tak bertanggung jawab, akan banyak resort di sini dan semua dijadikan bisnis, tak ada lagi keindahan yang bisa dinikmati dengan gratis di sini, tak usahlah kita ceritakan semua yang indah-indah tentang pulau ini”. Saat itu saya berfikir bahwa apa yang diucapkan teman saya ada benarnya juga. Saya putuskan untuk tidak meng-upload foto dan cerita-cerita yang “wah” tentang pulau Mapur di facebook saya. Tapi tentu saja tak bisa menghindari tag foto dari teman-teman yang lain. Pernah kemudian dosen saya ingin tahu tentang keindahan pulau Mapur, maka hanya saya upload beberapa foto saja untuk menginformasikan kepada beliau. 

Walaupun saya bukan penulis profesional apakah ini bisa disebut semacam responsible travel writer?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar