Minggu, 03 November 2013

Kritik Budaya dalam Novel Manusia Langit karya J.A. Sonjaya

Rekor tercepat membaca novel adalah saat saya membaca novel Manusia Langit ini. Novel ini baru dibeli tadi malam saat jalan ke Gramedia bersama Kenny. Pulang dari sana sekitar pukul 11 malam, ganti baju dan mulai membaca. Karena penasaran dengan ceritanya yang apik saya terus membaca halaman demi halaman. Tak terasa saya sampai di ending cerita pada pukul 4 subuh. Baca dalam sekali duduk saja,  kemudian saya menulis resensinya. Silakan disimak.

Judul Buku : Manusia Langit
Penulis       : J.A. Sonjaya
Penerbit     : Kompas
Tahun        : 2010
Tebal         : xi + 209

Novel Manusia Langit merupakan salah satu novel etnografis, yaitu novel yang menceritakan tentang budaya dan adat istiadat suatu masyarakat dalam pandangan orang luar masyarakat tersebut tetapi menggunakan data-data yang akurat dari native. Budaya dan adat istiadat yang diangkat di dalam novel ini adalah tentang masyarakat suku Banuaha di pedalaman Pulau Nias. Fiksi ditulis berdasarkan fakta-fakta yang ditemui penulis di lapangan. J.A Sonjaya ingin memperkenalkan masyarakat Banuaha kepada pembaca, tetapi sebenarnya lebih jauh dari itu, Sonjaya ingin menunjukkan keresahannya terhadap adat istiadat yang dinilai sulit untuk diterima orang banyak dan bahkan memberatkan masyarakat itu sendiri. Hal itu sudah tergambar jelas pada halaman ix buku ini di bagian ucapan terima kasih Sonjaya: 

"Pertengahan tahun 2005, saat petualangan antarbudaya ku mulai di Nias, aku tertegun menyaksikan perempuan-perempuan di sana yang sangat terikat tradisi. Karena perempuan dibeli, maka kebebasan mereka seolah terampas".

Masyarakat suku Banuaha meyakini bahwa nenek moyang mereka dulunya berada di langit. Mereka meyakini bahwa mereka adalah manusia langit. Adat istiadat merupakan hal yang dipegang teguh oleh suku Banuaha, walaupun agama kristen sudah masuk ke dalam masyarakat ini, namun ajaran-ajarannya yang banyak bertentangan dengan adat-istiadat tidak serta merta membuat suku Banuaha meninggalkan apa yang sudah menjadi kebiasaan dan dipandang sebagai sesuatu yang sakral, contohnya seperti mahalnya mas kawin yang harus dibayar oleh pihak laki-laki untuk bisa menikahi seorang perempuan. Dalam proses meminang hingga pesta pernikahan, mereka bisa membunuh lebih dari 50 ekor babi, menyerahkan emas dan kain-kain baru bermeter-meter panjangnya.

Banyaknya mas kawin tergantung status perempuannya, semakin terpandang keluarga perempuan, maka mas kawinnya akan lebih dahsyat lagi. Bagi masyarakat suku Banuaha hal itu wajib dilaksanakan, bahkan dengan segala keterbatasan mereka yang sebagian besar mata pencahariannya berladang, untuk memenuhi mas kawin mereka rela berhutang sana sini. Ini adalah masalah harga diri, ini adalah adat yang harus mereka junjung tinggi. Padahal dalam ajaran agama kristen yang mereka anut, mas kawin yang berlimpah ini tidak dibenarkan. Itu adalah suatu kemubaziran dan menyulitkan proses pernikahan saja.

Tak jarang karena telah berhutang sana-sini untuk menyanggupi mas kawin, kedua mempelai yang sudah menjadi suami-istri itu nantinya harus membanting tulang habis-habisan untuk melunasi hutang. Perempuan juga bekerja keras. Menjadi lucu karena awalnya laki-laki membeli perempuan dengan berhutang sana-sini, kemudian untuk melunasinya juga menjadi tanggungan perempuan nantinya. 

Secara tidak langsung melalui ceritanya Sonjaya ingin mengkritik budaya masyarakat Banuaha, salah satunya tentang kedudukan seorang perempuan di dalam masyarakat. Di satu sisi budaya dan adat istiadat yang ada di dalam suatu masyarakat atau suku tertentu merupakan hal sakral yang harus tetap dipertahankan dan dilestarikan, karena itu adalah warisan nenek moyang/leluhur, namun di sisi lain adat istiadat tertentu kerap sulit diterima oleh masyarakat di luar masyarakat itu, bahkan masyarakat suku itu sendiri pun ada yang mulai bimbang dan bertanya-tanya kenapa harus ada adat istiadat seperti itu dan dengan terpaksa menjalankan adat tersebut.

Membaca novel manusia langit karya JA. Sonjaya kita seperti sedang belajar antropologi yang membahas suku Banuaha. Tetapi proses membaca kita tidak kaku seperti membaca buku pelajaran antropologi karena ada cerita fiksi yang dikisahkan oleh Sonjaya. Dengan begitu maka fungsi sastra menurut Horatius ada di dalam novel Sonjaya, yaitu dulce et utile (menghibur dan mendidik). 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar