Minggu, 17 November 2013

Pasir Putih Danau Gunung 7


“Air beriak tanda tak dalam”

Sering dengar peribahasa di atas? Peribahasa tersebut ditujukan kepada orang yang banyak bicara, besar bual, biasanya orang dengan sifat seperti itu bukanlah orang yang tahu banyak. Peribahasa tersebut mengambil simbol air beserta sifatnya. Kita sering lihat sungai yang airnya beriak biasanya adalah sungai yang dangkal, tetapi apabila airnya tenang maka pasti sungai itu dalam. Air danau gunung 7 sungguh tak beriak, ia tenang, sunyi sekali, maka kedalamannya tentulah  lumayan dalam.

Sedikit berfilosofi di awal, hanya intermezo. Ceritanya ini adalah tentang perjalananku ke danau gunung 7 pada tahun 2011 silam, tepatnya pada bulan Januari, tanggal 1 sampai 5. Ya, 4 hari di danau gunung 7, ngapain saja? Bukankah lazimnya camping di danau gunung 7 hanya 2 malam 3 hari? Karena kami tidak camping di satu titik. Kami melakukan ekspedisi ke pasir putih, di bawah batu gajah, bukit yang sering menjadi latar apabila orang-orang mengabadikan momen mereka di danau gunung 7. Ini sudah ke 3 kalinya aku ke gunung 7, tapi belum pernah sampai ke pasir putih. Aku tertarik untuk ikut. Kami bersembilan, leadernya bang Uyun, sesepuh di antara kami. Bukan sepuh karena usianya, namun karena pengalamannya menjelajahi alam Kerinci. Di antara kami hanya bang Uyun yang pernah sampai hingga ke pasir putih-batu gajah.

Kami baru saja merayakan pergantian tahun di kaki gunung Kerinci, menjadi petugas karcis untuk para pendaki yang ingin naik ke gunung Kerinci. Itu pengalaman yang berkesan bagiku. Sempat kecewa karena tak naik ke puncak Kerinci pada momen tahun baru ini karena tak ada teman yang mengajak. Kata bang Uyun tak masalah kami tak naik ke puncak Kerinci, kita ekspedisi saja ke pasir putih danau gunung 7, pasti lebih seru karena tak ramai orang yang ke sana, orang-orang sibuk di gunung Kerinci. Aku makin penasaran. Berbekal logistik yang banyak kami berangkat. Start dari R-10 gunung Kerinci, kami menumpang mobil pick up milik PLN menuju desa Pelompek. Mobil yang kami tumpangi tidak mengantar sampai lokasi, di persimpangan jalan ke arah danau gunung 7 kami turun, mulai berjalan kaki. Gempor kaki ini karena dari simpang pasar Pelompek ke pos gunung 7 masih jauh, tapi beruntunglah di tengah perjalanan kami dengan kaki ini ada angkutan yang bersedia ditebengi hingga ke pos pendakian.  

Sebagai pendaki yang baik dan taat aturan, wajib untuk mendaftarkan diri ke pos pendakian dan membayar distribusi karcis masuk. Setelah beres urusan perizinan kami mulai mendaki. Track ke danau gunung 7 tidak begitu sulit seperti gunung Kerinci, cukup banyak bonus dan hanya 3-4 jam perjalanan sudah bisa sampai di puncak. Tunggu dulu, pasti banyak yang bingung ini danau atau gunung sih? Kenapa mesti sampai ke puncak? Baiklah, jadi danau gunung 7 ini adalah danau tertinggi di Asia Tenggara. Danau ini berada di ketinggian 1.950 mdpl. Untuk bisa sampai ke danau ini kita mesti mendaki. Terdengar sangat menakjubkan. Karena ketakjubannya inilah danau gunung 7 masuk sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

pemandangan danau gunung 7 dari puncak gunung Kerinci (www.triposo.com)

3,5 jam kemudian setelah mendaki 
Akhirnya setelah kaki bekerja keras mencapai puncak kami tiba di danau gunung 7 nan indah ini. Seperti biasa, saat tiba di puncak, di mana pun itu pasti rasanya ingin menangis. Mencapai sesuatu lewat proses yang tidak mudah itu rasanya luar biasa. Sekaligus takjub memandangi ciptaan Tuhan yang serba indah dan luas. Aku menjadi sangat kecil.

Karena sudah tengah hari, kami makan siang dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke pasir putih, sembari main air, berkodak dan bercanda. Teman-teman seperjalananku ini orangnya lucu-lucu. Ada saja yang mereka bicarakan, pastinya menghibur. Aku dan Fitri selalu jadi sasaran empuk mereka kalau melucu. 

Selesai makan siang kami mulai jalan menyebrang aliran sungai di sebelah kiri area camping ground, terus masuk ke dalam hutan mengikuti jalan setapak. Tracknya asik, datar-datar saja seperti jalan di dalam hutan. Yang luar biasa adalah hutannya rapat, jadi agak gelap suasananya. Tiba-tiba teringat tentang cerita orang pendek yang ‘katanya’ tinggal di sekitar danau gunung 7 aku jadi merinding. Menurut cerita teman-teman ‘orang pendek’ bukanlah mitos, mereka ada. Sampai hari ini memang belum ada hasil penelitian yang final tentang keberadaan mereka. Penelitiannya masih berlangsung. Seorang peneliti dari Perancis sudah bertahun-tahun meneliti tentang orang pendek. Ia pernah memasang kamera trap dan melihat ada sekelebat bayangan yang tertangkap kamera. Ia meyakini itu orang pendek, dilihat dari postur tubuhnya yang pendek.

Kuabaikan pikiran-pikiran yang aneh. Kami terus berjalan hingga sampai di suatu tempat yang indah. Namanya kampung nelayan. Disebut kampung nelayan karena di tempat itu ada sebuah gubuk milik nelayan yang mencari ikan di danau gunung 7. Gubuk tersebut biasanya dipakai untuk beristirahat. Di sekitar gubuk tumbuh liar pohon markisa dan jeruk hutan. Teman-teman senang mengambilnya. Kami beristirahat sejenak. Paman, bang Rodi, bang Uyun dan bang Idep mengeluarkan pancingan, aku dan fitri bermain air, bang Helki dan bang Deki nyebur ke danau, sedangkan bang Andri berjemur di batu. Kira-kira 30 menit setelah tidak dapat ikan dan puas bermain air kami mulai jalan lagi.

kampung nelayan


pemancing yang gagal


bang Helki siap-siap mau nyebur


kami sedang curhat :p

Di sinilah kami mulai merasa ‘tersesat’. Jalan setapak mulai menghilang. Kata bang Uyun jalur ini sudah lama tak dilewati orang, jadi sudah ditumbuhi semak belukar lagi. Kami membuat jalan setapak sendiri untuk mempermudah perjalanan. Kami beri tanda di sepanjang jalan. Luar biasa di sini, banyak jejak-jejak hewan liar. Kami juga menjumpai tulang belulang hewan yang tak kami tahu hewan apa itu. Jalan beberapa langkah lagi jumpa hal yang sama, kali ini kerangka hewan yang masih basah, sepertinya masih baru, lengkap dengan sisa-sisa dagingnya. Aku tidak ingin menatapnya terlalu lama. Jalan lagi, kami jumpa kubangan gajah – mungkin. Ada jejak-jejak gajah dan banyak pohon pisang di sekitarnya. Yang tidak kami sangka-sangka adalah kami menemukan lubuk yang jernih airnya. Lubuk tersebut tidak luas, seperti kolam yang dikelilingi bebatuan dengan akar-akar menggantung dari pohon di sekitarnya. Suasana di sekitar lubuk berbeda. Aku mulai merasa tak enak. Teman-teman yang lain juga begitu tapi kami sama-sama menyembunyikan ketakutan kami agar perjalanan yang ’nyasar’ ini tak tambah mengerikan dan segera sampai di tujuan awal kami, pasir putih. Agar tak semakin nyasar bang Uyun memutuskan untuk mengarah ke tepi danau dan terus menyusuri tepian danau hingga sampai ke pasir putih. Ide bagus bang Uyun membawa ketenangan bagiku, karena itu artinya kami tidak lagi nyasar di hutan yang gelap. Walaupun begitu berjalan menyusuri tepi danau tidaklah semudah yang kubayangkan. Tidak selamanya kami bisa berjalan di tepian danau yang dangkal, kadang-kadang berbatu-batu besar dan dalam. Air dan udara yang dingin di ketinggian 1950 mdpl menambah beratnya perjalanan. Seperti berada di dunia lain, ada kabut yang senantiasa mengiringi langkah kami, seperti itulah gambarannya. Selama di air aku berdoa agar tidak ada hewan-hewan aneh semacam anaconda yang mendekati kaki kami.

di Pasir Putih, foto berlatar batu gajah yang tertutup kabut
Menjelang pukul 5 sore akhirnya kami tiba di pasir putih. Indah? Tidaaakk. Sesuai dengan namanya, memang di sini ada pasir yang berwarna putih seperti di pantai, tapi tempatnya sangat mistis, kabut dimana-mana, memandang ke sebelah kiri ternyata kami pas di bawah batu gajah. Batu gajah yang menjulang tinggi dan kokoh seolah-olah tidak menyambut kedatangan kami dengan hangat. Ia berkabut, tebal. Ada spot kecil untuk mendirikan tenda. Kami tegakkan 2 tenda di situ dan menyiapkan makan malam. Sungguh malam yang dingin. Malam hari kami tidur berbalut kecemasan semoga tidak ada yang mengganggu tidur kami. Keesokan paginya buru-buru berkemas dan pergi.


mistisnya suasana di pasir putih

kabut di mana mana

camping area di pasir putih

senang saat akan pergi dari Pasir Putih

Perjalanan pulang lebih menyenangkan. Untuk menghindari ‘tersesat’ seperti kemarin kami memilih terus menyusuri tepi danau, seru. Angin danau yang lembut kadang-kadang menjadi kencang. Setengah badan ke bawah basah dan banyak kami temui bunga-bunga indah di tepi danau. Seperti Edelweis dan anggrek hutan. Kami sempat mendirikan tenda di tempat yang bagus di pinggir danau. Kami bermain air dan memancing sepuasnya. Endingnya kami mendirikan tenda di camping ground danau gunung 7, tempat yang biasanya memang menjadi tempat favorit para pendaki. Di sana bisa mencoba naik sampan milik nelayan. Sampannya cuma satu dan kecil sekali. Saat naik sampan berdua fitri, entah karena tak pandai mengayuh atau memang keberatan beban, kami pun tak bisa menjaga keseimbangan dan sampan terbalik. Kami tercebur di tengah danau yang dalam ini, untungnya bisa berenang :p

Paman dan anggrek hutan

Perjalanan ini mengajariku banyak hal, mulai dari pengendalian diri, manajemen perjalanan, hingga tulusnya persahabatan. Bagaimana mencairkan suasana saat pikiran sedang kalut karena ‘tersesat’ ditunjukkan oleh teman-teman ku. Entah kapan lagi bisa jalan bersama. Semoga di suatu waktu nanti bisa terwujud. Oh iya aku rela membatalkan tiket travel pulang ku untuk ke Pekanbaru karena bujukan teman-teman. Mereka bilang tak puas rasanya kalau belum menghabiskan logistik makanan yang kami bawa. Kenyamanan bersama mereka membuatku tak akan melupakan perjalanan ini.  

teman-teman yang luar biasa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar