Kamis, 14 November 2013

Perayaan Ulang Tahun: antara Kapital Ekonomi dan Kapital Sosial

Berbicara tentang Kapital, yang muncul di benak kita pertama-tama adalah Penguasa, orang yang lebih kuat dan punya segalanya dalam bidang Ekonomi. Bisa pemilik modal, pengusaha kaya raya, konglomerat, bahkan pemerintah juga kita cap sebagai institusi yang punya kapital ekonomi di negara ini. 

Ternyata ada banyak lagi kapital-kapital yang lain, yaitu:

Kapital budayaPunya kemampuan atau keterampilan pribadi yang lebih, seperti kepintaran akademis, berpengetahuan luas, pandai memainkan alat musik, pandai berpidato, pandai berahasa asing, dan lain sebagainya. Orang-orang yang memiliki kapital budaya adalah orang-orang yang cerdas.

Kapital sosial: Punya pergaulan sosial atau networking yang banyak dan luas. Orang-orang yang punya kapital sosial biasanya menjadi orang-orang populer di kalangannya karena pandai bergaul.

Kapital simbolis Kapital simbolis merupakan pecahan dari kapital budaya. Ada simbol yang melekat pada orang yang memiliki kapital budaya, seperti gelar kebangsawanan, gelar Haji atau Kiayi Haji, gelar DR atau Profesor dan sebagainya.

Jadi sebenarnya tiap kita sedang berlomba-lomba menjadi kapital pada segala lini, entah itu ekonomi, sosial, budaya, maupun simbolis. Benar lah kata tokoh teori kritis Jepang Fukuyama, bahwa saat ini yang memegang kekuasaan dunia adalah kaum kapitalis. Jika kapitalis sudah menguasai dunia dan tidak ada paham lain yang bisa menandinginya maka inilah finalnya, akhir dari dunia. Kapitalis menang telak. Tetapi menurut saya jika masih ada manusia-manusia yang kritis tentu belum menang telak itu si kapitalis. Masih bisa ada perubahan jika manusia-manusia kritis terus bertambah, ikut terjun ke sektor riiil dan bisa menyiasati budaya, seperti yang disampaikan bu Karlina Supelli dalam pidato kebudayaannya pada 11 November yang lalu di DKJ, poin-poinnya adalah:
  • Membangkitkan kembali kebiasaan berpikir serius, bukan sekedar melempar komentar
  • Mengubah konsep ekonomi dari urusan pasar dan jual beli uang ke urusan mata pencaharian warga biasa
  • Melatih kebiasaan mau mengakui kesalahan dan berkata benar
  • Melatih hasrat: belanja karena perlu, bukan karena mau
  • Membangun kebiasaan baru seluas bangsa untuk menilai bahwa korupsi, plagiarisme, dan menyontek bukan hal yang lazim, tetapi kriminalitas
  • Mengembalikan makna profesi sebagai janji publik, bukan sekedar keahlian
  • Melatih bertindak karena komitmen, bukan semata karena suka
Kembali ke masalah kapital, seperti judul tulisan ini, saya ingin membicarakan tentang ulang tahun dan perayaannya. Bagaimana sebuah perayaan ulang tahun dapat dilihat untuk mengukur kapital ekonomi dan kapital sosial seseorang. Jika pesta ulang tahun diadakan di hotel berbintang, di tepi kolam renang pribadi atau di vila yang megah dengan konsep garden party misalnya, yang datang ke pesta teman-teman dengan pakaian-pakaian mahal, menggunakan mobil mentereng, bisa kita katakan bahwa yang sedang berulang tahun adalah orang dengan kapital ekonomi 90. Jika tamu undangannya banyak kapital sosialnya juga bisa kita beri nilai 90. Ternyata ada hubungannya sebuah pesta ulang tahun dengan kedua kapital tersebut.

Berbeda dengan perayaan ulang tahun pada gambar di bawah ini: tidak ada pesta di hotel bintang lima, tetapi di kampus, tidak di tepi kolam renang tetapi di pinggir danau kampus, tidak pada suasana pesta taman, tetapi memang sedang berada di taman kampus. Tidak ada makanan-makanan ala restoran barat, tetapi hanya kue ulang tahun mini, dan tidak ramai orang yang ada, hanya beberapa. Berapa nilai kapital ekonomi dan sosialnya? 

Apa benarlah yang dicari kalau bukan kebahagiaan? Jika dengan begini sudah bahagia lantas kenapa harus berlebih-lebihan? Pun kalau mempunyai ekonomi yang lebih, saya tidak akan menghilangkan esensi kebahagiaan yang tolak ukurnya tentu saja bukan dengan materi.

bersama teman-teman kampus di hari ulang tahun saya


lilinnya maksaaa


bersama azmah dan lihat lilinnya!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar